SUMBAWA — Tuti Alfiani (50), ibu tunggal di Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merintis usaha kuliner yang kini dikenal dengan nama “Cemong Ecek”. Nama merek tersebut diambil dari nama anaknya. Usaha yang dibangunnya sejak 2018 itu sempat mengalami pasang surut, termasuk saat ia kehilangan suami dan ketika pandemi Covid-19 menekan penjualan.
Tuti memulai bisnis dari dapur rumah kecilnya dengan menu sederhana berupa nasi campur. Saat itu, pilihan lauk hanya dua—ayam dan daging suwir yang dipotong halus—disajikan dengan sambal pedas khas, lalu dijual seharga Rp 5.000 per bungkus. Ia memasarkan dagangannya secara online, antara lain dengan promosi “beli 2 gratis ongkir”. Dalam fase awal, suami dan ketiga anaknya turut membantu mengantar pesanan langsung ke pelanggan, termasuk pada malam hari.
Situasi berubah pada 2019 ketika suaminya meninggal. Tuti harus melanjutkan hidup sebagai orang tua tunggal bagi tiga anaknya di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. “Saya pernah terpuruk sedih dan hampa, seolah-olah ada bagian diri yang hilang. Saya harus jadi ayah dan ibu sekaligus,” kata Tuti saat dikonfirmasi pada Selasa (02/12/2025) malam.
Beberapa bulan setelah itu, pandemi Covid-19 membuat permintaan nasi bungkusnya menurun drastis. Usaha yang baru mulai tumbuh kembali terpuruk. Tuti mengaku sempat kehabisan modal dan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan pagi anak-anaknya. “Saya sempat putus asa, mau berhenti. Tapi melihat wajah anak-anak yang masih muda, saya ingat: mereka butuh saya. Kata menyerah tidak pernah ada di kamus hatinya,” ujarnya.
Di tengah tekanan tersebut, Tuti kemudian berupaya bangkit dengan melakukan inovasi menu. Ia mulai memasak lebih pagi, sekitar pukul 03.00, untuk menyiapkan pilihan lauk baru seperti daging semur, cumi-cumi, empal, hingga telur pindang. Ia juga belajar mempromosikan produk lewat media sosial, meminta bantuan anaknya untuk mengambil foto makanan, serta bekerja sama dengan kurir ketika anak-anaknya harus bersekolah.
Seiring waktu, testimoni pelanggan menyebar dan jumlah pembeli bertambah. Dari berjualan di rumah, Tuti kemudian membuka lapak pertama, disusul lapak kedua, hingga akhirnya memiliki rumah makan di Jalan Kebayan, Kelurahan Brang Biji, Kecamatan Sumbawa.
Kini, usaha Cemong Ecek menawarkan lebih dari 15 menu lauk yang dapat dipilih dengan nasi putih atau nasi kuning. Pada Car Free Day Samota setiap Minggu, lapaknya disebut kerap dipadati pembeli, dengan omzet sekitar Rp 5–6 juta per hari. Anak-anaknya juga ikut mendukung operasional, mulai dari membantu kasir, memasak, hingga melayani pelanggan ketika Tuti sibuk.
Selain mengembangkan usaha, Tuti menyampaikan keyakinannya pada pentingnya sedekah. Ia rutin menyiapkan 100 porsi nasi bungkus gratis setiap Jumat untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan. “Alhamdulillah, saya percaya jalur langit bahwa rezeki diberikan dan ditambah oleh Allah dengan perbanyak sedekah,” kata Tuti.
Ia menuturkan, kebiasaan berbagi itu juga berangkat dari pengalaman saat dirinya pernah berada dalam masa sulit dan menerima bantuan orang lain. “Sekarang giliran saya membantu orang lain,” ujarnya.

