BERITA TERKINI
Bakpia Daging Babi, Ingatan yang Terlupa: Mengapa Jogja Kembali Diperdebatkan di Ruang Digital

Bakpia Daging Babi, Ingatan yang Terlupa: Mengapa Jogja Kembali Diperdebatkan di Ruang Digital

Isu yang Membuat Bakpia Mendadak Jadi Perbincangan

Jagat media sosial kembali gaduh oleh hal yang tampak sepele: bakpia isi daging babi.

Di Threads, unggahan akun @narhuya81 memantik emosi dan kecurigaan, seolah ada “pelecehan” terhadap kuliner khas Yogyakarta.

Ia menulis kegelisahan bahwa makanan yang sejak awal dianggap halal semestinya tidak diubah menjadi tidak halal.

Unggahan itu lalu memicu perdebatan, karena netizen lain mengajukan fakta sejarah yang berbeda dari asumsi awal.

Di sinilah isu menjadi menarik, bahkan menyentuh lapisan identitas, memori kolektif, dan relasi antarwarga di ruang publik digital.

-000-

Kontroversi ini bukan semata soal bahan makanan.

Ia adalah pertarungan tafsir tentang “asal-usul”, tentang siapa yang berhak mendefinisikan sesuatu sebagai milik suatu kota, atau milik suatu kelompok.

Bakpia yang kita kenal hari ini memang identik dengan oleh-oleh Jogja, khususnya bakpia Pathok.

Namun berita ini menegaskan bahwa jejak awal bakpia justru berangkat dari tradisi lain, lalu bertransformasi melalui penyesuaian sosial.

Ketika fakta sejarah bertemu sentimen identitas, percakapan mudah berbelok menjadi tuduhan dan stereotip.

Itulah sebabnya ia menjadi tren.

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Terlihat Jelas

Alasan pertama adalah sensitivitas halal-haram yang sangat nyata dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Ketika kata “babi” muncul dalam konteks makanan populer, perhatian publik cepat terkonsentrasi.

Apalagi jika makanan itu diasosiasikan dengan kota yang mayoritas penduduknya Muslim.

-000-

Alasan kedua adalah cara media sosial bekerja.

Platform seperti Threads mendorong respons spontan, ringkas, dan emosional.

Kalimat yang bernada protes lebih mudah menyebar daripada penjelasan sejarah yang memerlukan konteks.

Akibatnya, percakapan sering dimulai dari kemarahan, baru kemudian mencari data.

-000-

Alasan ketiga adalah konflik antara ingatan populer dan sejarah kuliner.

Ingatan populer menyederhanakan: bakpia adalah oleh-oleh Jogja, berarti “aslinya” begini.

Sejarah kuliner lebih rumit: resep berpindah, beradaptasi, dan berubah mengikuti selera serta norma setempat.

Ketika dua cara mengingat ini bertabrakan, publik terdorong memilih kubu.

Dan kubu, di ruang digital, sering berarti pertengkaran.

Sejarah yang Menjelaskan, Bukan Membenarkan

Berita ini memuat rangkaian fakta yang penting untuk dibaca pelan-pelan.

Bakpia disebut berakar dari China, dikenal dengan nama “Tou Luk Pia”.

Istilah “bakpia” berasal dari dialek Hokkien, dengan “bak” berarti daging dan “pia” berarti kue.

Secara harfiah, ia memang kue isi daging.

-000-

Di Yogyakarta, bakpia disebut mulai diperkenalkan pada 1930-an.

Awalnya, ia bukan produk komersial.

Bakpia hadir sebagai makanan tradisi, disajikan pada perayaan hari besar China, termasuk momen Imlek.

Pada fase ini, bakpia lebih merupakan penanda komunitas daripada penanda kota.

-000-

Dinas Kebudayaan Yogyakarta mencatat bahwa bakpia mula-mula dihidangkan memakai lemak atau minyak babi.

Isiannya berupa cincangan daging babi.

Tekstur renyah dan gurih pada kulit, dalam catatan itu, terkait dengan penggunaan minyak babi.

Namun konteks sosial Yogyakarta berbeda.

Mayoritas warga tidak mengonsumsi babi.

-000-

Karena itu, bakpia isi babi disebut tidak laku.

Di titik ini, sejarah memperlihatkan sesuatu yang sering dilupakan.

Akulturasi tidak selalu indah dan mulus, tetapi kerap pragmatis.

Resep berubah karena realitas pasar, norma, dan kebutuhan hidup berdampingan.

-000-

Berita menyebut pergeseran penting: bakpia halal mulai diperkenalkan oleh Niti Gurnito.

Kwik Sun Kwok mengganti isian daging babi menjadi kacang hijau.

Bakpia kacang hijau disukai banyak orang.

Lalu muncul bakpia Niti Gurnito dengan ukuran lebih kecil, kulit tebal, dan dijajakan keliling.

-000-

Transformasi berlanjut pada 1980-an.

Modifikasi isian kacang hijau menjadi populer, lalu banyak warga ikut membuat dan menjual.

Peran Liem Bok Sing juga disebut, dengan versi kulit lebih tipis dan permukaan kecokelatan.

Di sini bakpia menjadi milik publik, bukan lagi milik satu komunitas.

Bakpia sebagai Cermin Akulturasi Indonesia

Bakpia memperlihatkan pola besar dalam sejarah kuliner Indonesia: perjumpaan budaya lalu penyesuaian.

Di negeri kepulauan, makanan jarang lahir dari satu garis murni.

Ia sering lahir dari pelabuhan, perantauan, dan percampuran.

Sejarah bakpia, sebagaimana ditulis dalam berita, menegaskan proses itu.

-000-

Akulturasi bukan sekadar “campur-campur”.

Ia adalah negosiasi: apa yang dipertahankan, apa yang diubah, dan apa yang ditinggalkan.

Dalam kasus ini, perubahan isian dan bahan terjadi karena norma konsumsi mayoritas.

Namun perubahan itu tidak menghapus jejak asal.

Ia hanya memindahkan pusat makna dari satu komunitas ke komunitas yang lebih luas.

-000-

Di era sekarang, inovasi bakpia semakin jauh.

Berita menyebut ragam isian seperti keju, cokelat, susu, matcha, hingga topping kekinian.

Ada pula bakpia kukus dengan konsep berbeda dan tekstur lebih lembut.

Ironisnya, inovasi rasa sering diterima sebagai kreativitas.

Namun ketika inovasi menyentuh isu identitas dan agama, penerimaan berubah menjadi resistensi.

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Toleransi, Literasi, dan Ruang Publik

Kontroversi bakpia isi babi mengingatkan pada tantangan besar Indonesia: mengelola kemajemukan tanpa saling meniadakan.

Ketegangan muncul saat perbedaan dibaca sebagai ancaman, bukan fakta sosial.

Padahal sejarah kuliner justru sering menjadi bukti bahwa hidup bersama telah lama terjadi.

-000-

Isu ini juga terkait literasi sejarah dan literasi digital.

Literasi sejarah membantu publik memahami bahwa asal-usul makanan bisa berlapis.

Literasi digital membantu publik membedakan opini, prasangka, dan informasi yang punya konteks.

Tanpa dua literasi itu, ruang publik mudah dipenuhi kemarahan yang salah alamat.

-000-

Lebih jauh, ini menyentuh cara kita memaknai “khas daerah”.

Label “khas” sering dianggap identik dengan “asli” dan “murni”.

Padahal banyak hal yang “khas” justru hasil adaptasi panjang.

Bakpia menjadi khas Jogja bukan karena ia lahir di sana, melainkan karena ia diterima, diolah, dan dihidupi di sana.

-000-

Di titik ini, perdebatan bakpia bukan hanya soal daging babi.

Ia adalah perdebatan tentang kepemilikan simbol, tentang mayoritas dan minoritas, serta tentang cara kita berbicara di ruang bersama.

Ketika percakapan berubah menjadi stereotip terhadap “suku yang itu”, masalahnya berpindah dari kuliner menjadi kohesi sosial.

Riset yang Relevan: Makanan sebagai Identitas dan Memori

Berita ini dapat dibaca melalui kacamata riset sosial yang memandang makanan sebagai penanda identitas.

Dalam kajian antropologi dan sosiologi, makanan sering dipahami sebagai bahasa budaya.

Ia menyampaikan siapa “kita”, siapa “mereka”, dan batas apa yang dianggap penting.

-000-

Konsep “akulturasi” yang disebut dalam berita juga merupakan tema besar dalam studi budaya.

Akulturasi menjelaskan bagaimana unsur budaya luar dapat diterima, lalu diubah agar sesuai dengan nilai lokal.

Kasus bakpia memperlihatkan perubahan bahan dan fungsi sosial, dari makanan perayaan menjadi oleh-oleh komersial.

-000-

Riset tentang memori kolektif membantu menjelaskan mengapa publik mudah tersulut.

Memori kolektif sering memilih versi yang paling dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Jika selama puluhan tahun bakpia identik dengan kacang hijau dan label halal, maka versi itu terasa sebagai “kebenaran tunggal”.

Ketika sejarah menghadirkan versi lain, publik merasa diganggu.

-000-

Riset tentang dinamika media sosial juga relevan.

Konten yang memicu moral shock cenderung lebih viral.

Isu yang menyentuh agama dan identitas sering menghasilkan respons cepat, sebelum verifikasi.

Dalam pola ini, klarifikasi sejarah sering datang terlambat, setelah luka sosial terlanjur muncul.

Referensi Kasus Luar Negeri yang Serupa

Perdebatan tentang makanan, identitas, dan batas budaya bukan monopoli Indonesia.

Di banyak negara, kuliner kerap menjadi medan sengketa simbolik.

-000-

Di Amerika Serikat, misalnya, pernah muncul perdebatan tentang “taco” dan apropriasi budaya.

Sebagian pihak menilai komersialisasi makanan Meksiko oleh pihak lain menghapus konteks dan pengalaman komunitas asal.

Perdebatan itu menunjukkan bahwa makanan bisa menjadi isu politik, bukan sekadar rasa.

-000-

Di Eropa, diskusi soal sertifikasi halal dan penjualan daging tertentu juga sering memantik debat identitas.

Isunya bukan hanya makanan, melainkan kecemasan tentang perubahan demografi dan ruang budaya.

Walau konteksnya berbeda, polanya mirip: makanan menjadi simbol ketakutan dan batas sosial.

-000-

Di beberapa negara Asia Timur, sengketa asal-usul makanan juga kerap terjadi.

Kimchi, misalnya, pernah menjadi topik perdebatan regional terkait klaim budaya dan standardisasi.

Intinya sama: makanan adalah memori, dan memori sering diperebutkan.

Bagaimana Sebaiknya Isu Ini Ditanggapi

Pertama, publik perlu membedakan dua hal: fakta sejarah dan pilihan konsumsi hari ini.

Fakta sejarah bakpia tidak memaksa siapa pun untuk mengubah preferensi makan.

Ia hanya mengajak kita jujur pada perjalanan sebuah budaya.

-000-

Kedua, penting menjaga bahasa agar tidak berubah menjadi stigma.

Ungkapan yang menggeneralisasi kelompok tertentu hanya memperlebar jurang.

Jika persoalannya adalah label halal, maka diskusinya bisa diarahkan pada informasi produk, bukan menyerang identitas orang lain.

-000-

Ketiga, pelaku usaha kuliner dapat mengambil pelajaran tentang transparansi.

Label bahan, proses, dan sertifikasi menjadi penting agar publik tidak berspekulasi.

Transparansi bukan sekadar strategi bisnis, tetapi kontribusi pada ketertiban informasi di ruang publik.

-000-

Keempat, lembaga kebudayaan dan pendidikan dapat mempopulerkan sejarah kuliner sebagai bagian dari literasi kebangsaan.

Sejarah makanan sering lebih mudah dicerna daripada sejarah politik.

Ia bisa menjadi pintu masuk untuk memahami akulturasi, migrasi, dan hidup bersama.

-000-

Pada akhirnya, bakpia mengajarkan bahwa identitas tidak selalu lahir dari kemurnian.

Ia sering lahir dari kemampuan beradaptasi tanpa menghapus jejak.

Jogja tidak menjadi kurang Jogja karena bakpia punya riwayat panjang.

Justru di situlah kedewasaan budaya diuji.

-000-

Di tengah riuh yang mudah membakar, kita perlu mengingat satu hal sederhana.

Sejarah tidak selalu nyaman, tetapi ia membantu kita lebih manusiawi saat menilai sesama.

“Kebenaran yang dipahami dengan tenang akan lebih berguna daripada kemarahan yang dipelihara tanpa pengetahuan.”