Jauh sebelum rempah-rempah menjadi komoditas bernilai tinggi yang diburu bangsa Eropa, manusia prasejarah diduga sudah memanfaatkan bumbu alami untuk mengolah makanan. Indikasi itu muncul dari temuan arkeologi berusia sekitar 6.000 tahun yang dilaporkan pada 2013.
Para ilmuwan menemukan sisa bahan makanan yang menempel pada tembikar dari sejumlah situs sejarah di Jerman dan Denmark. Analisis terhadap residu tersebut menunjukkan penggunaan biji sawi putih atau bahan mustard untuk memasak ikan dan daging.
Penelitian dilakukan melalui analisis residu kimiawi pada artefak yang tersimpan di Museum Kalunborg dan Holbæk di Denmark, serta Museum Schleswig-Holstein di Jerman. Kumpulan tembikar yang diteliti diperkirakan berumur sekitar 5.750 hingga 6.100 tahun, pada periode transisi ketika manusia mulai bergerak dari pola hidup pemburu-pengumpul menuju cara hidup yang lebih menetap dan mengenal bentuk-bentuk mobilitas baru.
Selain bumbu, manusia pada masa itu juga diduga memanfaatkan minyak alami untuk memasak, yang berasal dari tumbuhan, hewan, hingga makhluk laut. Temuan lain mengindikasikan mereka telah mengenal tumbuhan penghasil tepung.
Jejak penggunaan rempah juga muncul dari wilayah lain. Sisa rempah pada bejana berusia sekitar 4.500 tahun di India menunjukkan adanya pemakaian rempah seperti jahe dan kunyit. Sejumlah studi lain bahkan menyebut rempah kemungkinan sudah digunakan lebih dari seribu tahun sebelum periode tersebut.
Di Eropa, kebiasaan menambahkan bumbu dan rempah dalam masakan dikaitkan dengan perkembangan pola konsumsi setelah manusia mengenal hewan ternak seperti sapi dan kambing. Beberapa abad kemudian, masyarakat mulai mengembangkan pertanian dan mengonsumsi sayuran secara lebih luas.
Pada awalnya, para peneliti sempat menduga penambahan tumbuhan dalam masakan terutama untuk memenuhi kebutuhan kalori. Namun, penggunaan biji mustard—yang tidak kaya kalori dan lebih berfungsi memberi rasa pedas—menunjukkan bahwa aspek cita rasa sudah menjadi pertimbangan sejak masa prasejarah.
Perkembangan ini menggambarkan bahwa selera dan pencarian rasa bukan hal baru, melainkan bagian dari evolusi budaya kuliner. Seiring waktu, rempah tidak lagi sekadar pelengkap rasa, tetapi berubah menjadi komoditas perdagangan lintas wilayah.
Dalam konteks sejarah yang lebih muda, Nusantara kemudian dikenal sebagai salah satu pusat penghasil rempah pada masa penjelajahan Eropa. Pada 1552, Portugis tercatat masuk ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah, yang kemudian diikuti penyebaran bangsa Eropa ke berbagai wilayah.
Jejak sejarah tersebut turut membentuk tradisi kuliner Indonesia yang kaya rempah. Sejumlah prasasti abad ke-8 dan ke-10 Masehi disebut menyimpan bukti kekayaan kuliner Nusantara, ketika makanan telah diolah dengan sentuhan seni untuk menambah kenikmatan. Perkembangan teknik memasak dan ragam makanan di Indonesia juga dipengaruhi oleh tradisi kuliner yang datang dari India, Timur Tengah, Tiongkok, dan Eropa.

