Berjualan di dalam mal menjadi sebuah pencapaian tersendiri bagi para pedagang kaki lima yang selama ini beroperasi di pinggir jalan. Salah satu contohnya adalah Sugeng Sugiarto, pedagang siomay yang sehari-hari berjualan di Klender, Jakarta Timur. Ia tidak pernah membayangkan usahanya dapat berkembang hingga mampu menjajakan makanan di food market dalam mal yang berkelas.
Memasuki pasar dalam mal memang menuntut modal besar dan menghadapi persaingan ketat dengan pelaku usaha kuliner yang lebih besar. Sugeng, yang sehari-hari mengelola usaha kecil dengan modal yang terus berputar, awalnya merasa kesulitan untuk mewujudkan hal tersebut. Namun, konsep food market seperti Eat & Eat membuka peluang baru bagi para pelaku usaha kecil menengah (UKM) kuliner kaki lima untuk naik kelas.
Eat & Eat, yang berlokasi di sejumlah mal kelas atas, menghadirkan konsep menjual kuliner khas street food dalam suasana yang nyaman dan bersih. Sugeng melihat peluang tersebut dan berusaha bergabung dengan food market ini. Meski awalnya mengalami kegagalan dalam penawaran menu siomay, ia tidak menyerah dan akhirnya menemukan kesempatan dengan menu Cakwe Galaxy.
Cakwe Galaxy memiliki ciri khas adonan yang lebih berisi dengan ukuran jumbo, dipadukan dengan bumbu kacang yang khas. Menu ini pertama kali dikenalkan dalam festival di Pasar Apung Sentul dan mendapat respons positif dengan penjualan mencapai 100 hingga 200 potong per hari, bahkan hingga 1.000 potong saat akhir pekan.
Kini, Cakwe Galaxy menjadi salah satu menu andalan di seluruh food market Eat & Eat yang tersebar di 10 mal kelas atas. Sugeng pun berhasil membuka cabang lain di luar outlet Eat & Eat. Ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran terkait standardisasi, manajemen operasional, keuangan, hingga pelayanan yang baik, yang membantu pengembangan usahanya secara signifikan.
Keunggulan utama dari konsep Eat & Eat adalah pelaku usaha tidak perlu memikirkan biaya sewa, karena manajemen food market yang menanggung biaya tersebut. Para pedagang hanya perlu berbagi hasil, sehingga hubungan yang terjalin lebih bersifat kemitraan.
Contoh lain adalah Robert, pemilik Bakmi Kepiting dari Pontianak, yang awalnya hanya berjualan di satu lokasi. Setelah bertemu dengan tim Eat & Eat, ia bergabung sejak awal berdirinya food market ini pada 2008. Bakmi Kepiting miliknya kini hadir di lima mal di Jakarta, Bali, dan Surabaya, serta telah membuka cabang mandiri di Semarang dengan standar operasional yang seragam.
Mengubah Mindset Pelaku Kuliner Kaki Lima
Deni A. Rahman, General Manager Eat & Eat, menjelaskan bahwa misi utama sejak awal pendirian adalah membawa kuliner kaki lima naik kelas dan dikenal lebih luas. Konsep food market ini dirancang agar kuliner khas Indonesia yang memiliki cita rasa unik dapat berkembang dalam suasana yang bersih, nyaman, dan harga yang terjangkau.
Proses seleksi kuliner dilakukan selama hampir satu tahun dengan mengunjungi berbagai penjaja kuliner kaki lima di berbagai kota. Awalnya, para pelaku usaha sulit diyakinkan untuk bergabung karena mereka sudah nyaman dengan cara tradisional mereka. Namun, dengan pendekatan yang tepat, mindset mereka mulai berubah, sehingga mereka mau menjalankan usaha sebagai bisnis yang terstandarisasi dan profesional.
Eat & Eat pertama kali membuka cabang di Kelapa Gading dengan target 35 counter, namun pada awal pembukaan hanya 13 yang terisi. Meski demikian, sambutan pasar sangat positif dan dalam waktu dua bulan, semua counter terisi penuh. Konsep "anting-anting" pun diperkenalkan, yakni mengajak pedagang kaki lima mempertahankan keaslian gerobak mereka di dalam food market.
Perkembangan dan Capaian Eat & Eat
Menurut Juni Sukasmono, GM Operasi Eat & Eat, saat ini food market tersebut telah hadir di 10 mal dan satu lokasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan total 194 counter dan lebih dari 200 gerobak. Sejak awal berdiri, sekitar 1.000 UKM kuliner telah bergabung.
Kontrak kemitraan rata-rata berlangsung satu tahun dan dilakukan rotasi untuk memberi ruang bagi pelaku usaha lain, kecuali menu andalan seperti Rujak Juhi, Selendang Mayang, dan Cakwe Galaxy yang menjadi ciri khas Eat & Eat.
Selain mencari langsung, banyak pelaku kuliner yang mengajukan diri untuk bergabung. Namun, manajemen melakukan kurasi ketat tidak hanya berdasarkan cita rasa tetapi juga pola pikir dan perilaku pemilik usaha agar dapat menjalankan bisnis secara profesional.
Keberadaan food market seperti Eat & Eat membuka peluang bagi kuliner kaki lima untuk berkembang dan meningkatkan perekonomian pelaku usaha kecil melalui pendampingan dan fasilitas yang disediakan dalam lingkungan yang lebih modern dan terstandarisasi.