Jajanan pasar sebagai bagian dari kuliner tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang kuat dari segi rasa dan penampilan. Ragam makanan yang manis hingga gurih, dengan berbagai bentuk dan warna yang menggugah selera, telah menjadi bagian dari budaya masyarakat sejak lama.
Menurut penulis kuliner Kevindra Soemantri, jajanan pasar sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu. Hal ini dapat dilihat dari relief candi yang menggambarkan makanan yang dibungkus daun pisang, serta prasasti yang menyebutkan jajanan pasar sebagai bagian dari sesajen dalam upacara adat. Keberadaan jajanan pasar yang panjang ini menunjukkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Meski industri kuliner modern berkembang pesat dengan berbagai inovasi, jajanan pasar masih eksis dan diminati oleh generasi muda. Novia Eka Wulandari, seorang anak dari generasi Z, mengaku masih rutin mengonsumsi jajanan pasar, terutama saat berkunjung ke pasar tradisional di Yogyakarta. Hal serupa juga diungkapkan oleh milenial seperti Monica Ayu Lestari dan Yoca Gumilang yang masih familiar dan memiliki camilan favorit dari jajanan pasar.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa jenis jajanan pasar mulai langka karena resep dan cara pembuatannya tidak diwariskan secara turun-temurun serta adanya tantangan dalam bahan baku dan keuntungan usaha. Monica mencontohkan kesulitannya mencari kue bikang di Serpong yang kini semakin sulit ditemukan penjualnya.
Menurut Kevindra, keberlangsungan jajanan pasar sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat, seperti keberadaan jajanan tersebut dalam acara keluarga maupun event tertentu yang membuat rasanya tetap dikenal oleh generasi muda. Ia menilai jajanan pasar masih cukup familiar bagi generasi milenial, tetapi menghadapi tantangan lebih besar di kalangan generasi Z yang tumbuh di era gaya hidup modern dengan kemudahan layanan pesan antar makanan.
Fenomena globalisasi dan modernitas yang menonjolkan gaya hidup internasional menjadi perhatian karena berpotensi menggeser budaya kuliner lokal, termasuk jajanan pasar. Kevindra menyebutkan kekhawatiran ini terutama terjadi di daerah dengan kultur jajanan pasar yang kuat seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Meski demikian, ada sisi optimis yang muncul dari idealisme anak muda masa kini yang mulai menghargai nilai-nilai tradisional dan produk artisan. Kesadaran akan isu ramah lingkungan dan pentingnya pelestarian budaya memberi kesempatan bagi jajanan pasar untuk kembali diperkenalkan sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang harus dipertahankan.
Dengan demikian, jajanan pasar tidak hanya sebagai camilan, tetapi juga sebagai simbol tradisi dan kebiasaan yang terus berusaha dipertahankan di tengah perubahan zaman dan modernitas.