BERITA TERKINI
Pasar Baru Kendari: Dari Ramainya Aktivitas hingga Sepinya Pedagang dan Kerugian

Pasar Baru Kendari: Dari Ramainya Aktivitas hingga Sepinya Pedagang dan Kerugian

Pasar Baru Kendari dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang sangat ramai pada medio 1990-an. Terletak di tengah Kota Kendari, pasar ini tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi juga sebagai titik naik turunnya penumpang antar-kota dan antar-provinsi.

Diperkirakan berdiri sejak 1985, Pasar Baru awalnya terdiri dari lapak-lapak sederhana dengan beberapa bangunan permanen. Meskipun demikian, pasar ini menjadi pusat perdagangan yang padat pengunjung. H Gazali, salah satu pedagang lama di Pasar Baru, mengingat betul suasana pasar yang sangat ramai dan padat pada awal berdagangnya sekitar 25 tahun lalu. Menurutnya, pasar ini memiliki lokasi strategis di tengah kota yang memudahkan akses para pembeli dan kendaraan umum seperti pete-pete untuk mengantarkan penumpang.

Pasar Baru juga dikenal sebagai pasar "senggol" karena keramaian pengunjung yang saling berdesakan, terutama pada hari libur pagi dan sore. Suara pedagang dan tukang pikul yang riuh menambah kesan sesak di area pasar. Meski kondisi pasar tergolong kumuh dengan sampah berserakan dan bau tidak sedap, masyarakat sekitar seperti warga Anduonohu, Kampus Baru, Wuawua, dan Baruga tetap memilih Pasar Baru sebagai tempat berbelanja utama.

Kisah Pasar Baru berubah drastis setelah kebakaran hebat pada tahun 2010 yang menghancurkan pasar tersebut. Pemerintah Kota Kendari kemudian merelokasi para pedagang ke Pasar Panjang di Kelurahan Bonggoeya, Kecamatan Wuawua. Pasar Panjang dikenal sebagai pasar terpanjang di Kendari, dengan lapak pedagang yang berjajar sepanjang jalan.

Setelah kebakaran, pemerintah membangun kembali Pasar Baru di lokasi yang sama dengan konsep pasar tradisional modern. Pembangunan pasar baru ini memakan waktu tiga tahun dan selesai pada 2015 dengan biaya mencapai Rp 67 miliar. Pasar ini mampu menampung hingga 1.487 pedagang yang tersebar di 748 los di dua lantai, dengan ukuran los sekitar 2,5 x 3 meter.

Pasar Baru yang baru ini kemudian diberi nama Pasar Sentral Wuawua. Namun, pasar yang megah tersebut tidak mampu menarik kembali para pedagang lama. Banyak pedagang yang memilih bertahan di Pasar Panjang karena berbagai alasan, termasuk adanya pasar lain yang dikelola oleh pihak swasta di sekitar Pasar Panjang yang membuat mereka enggan pindah.

Selain itu, minat pembeli di Pasar Wuawua sangat rendah, diperparah dengan biaya sewa los yang mahal saat awal beroperasi. Kondisi ini menyebabkan banyak los di Pasar Wuawua tampak kosong dan tertutup, baik di lantai satu maupun lantai dua. Berdasarkan pengamatan langsung, hanya sekitar 50 pedagang yang berjualan di lantai satu, dengan mayoritas menjual pakaian, aksesoris, dan menyediakan layanan salon. Di lantai dua, jumlah pedagang yang buka los bahkan kurang dari 30 orang dengan suasana yang sangat sepi.

Area penjualan sayur di lantai bawah relatif lebih ramai, tetapi jumlah pembeli tetap tidak sebanding dengan pedagang. Ironisnya, di tempat yang disediakan khusus untuk penjual ikan basah tidak ada satu pun pedagang yang berjualan.

Kondisi ini sangat memberatkan para pedagang, terutama mereka yang memiliki kewajiban kredit bank. Salah satu pedagang yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan kesulitannya untuk mengembalikan kredit karena minimnya pembeli. Gazali sendiri menyatakan bahwa setelah hampir empat tahun berdagang di Pasar Wuawua ia belum memperoleh keuntungan. Bahkan, dengan biaya sewa los yang mencapai Rp 100 juta sebagai uang muka dan total pembayaran hingga Rp 202 juta selama 12 tahun, para pedagang menghadapi tekanan finansial yang berat.

Pasar Baru Kendari yang dahulu dikenal dengan keramaian dan aktivitas jual beli yang padat kini menghadapi kenyataan berbeda. Pasar yang kini bernama Pasar Sentral Wuawua ini justru berjuang menghadapi sunyi, sepinya pembeli, dan kerugian yang dialami para pedagang.