BERITA TERKINI
Saigon Express Perluas Jejak Kuliner Vietnam di Hobart, dari Dua Gerai Menjadi Delapan Lokasi

Saigon Express Perluas Jejak Kuliner Vietnam di Hobart, dari Dua Gerai Menjadi Delapan Lokasi

Di pusat kota Hobart, Tasmania, jaringan restoran Saigon Express disebut tengah membangun kisah sukses bisnis kuliner Vietnam di wilayah yang sebelumnya nyaris tidak memiliki pilihan makanan Vietnam. Pertumbuhan ini tidak hanya menghadirkan hidangan yang akrab bagi penikmat kuliner, tetapi juga ikut mempromosikan budaya Vietnam serta memperkuat rasa kebersamaan warga Vietnam yang tinggal di luar negeri.

Berawal dari dua restoran pada 2022, Saigon Express berkembang menjadi delapan lokasi dalam kurun tiga tahun. Di balik ekspansi tersebut, terdapat strategi branding yang menempatkan masakan Vietnam sebagai bagian dari rutinitas makan sehari-hari warga Tasmania, bukan semata pengalaman baru yang dicoba sesekali.

Artikel itu mencatat adanya perubahan cara pandang konsumen. Jika sebelumnya sebagian warga Australia mencari makanan Vietnam dengan pola pikir “sekadar ingin tahu rasanya,” kini masakan Vietnam di Tasmania mulai mapan sebagai pilihan yang setara dengan kuliner Asia populer lain seperti Jepang, Korea, dan Thailand. Perkembangan ini dipandang mencerminkan pergeseran kebiasaan konsumen sekaligus meningkatnya integrasi budaya makanan Vietnam.

Basis pelanggan Saigon Express juga bervariasi bergantung pada lokasi. Di area dekat universitas atau pusat kota, pelanggan Vietnam disebut menjadi persentase yang tinggi. Sementara di kawasan perumahan, pelanggan didominasi warga asli Australia, disertai komunitas internasional lain seperti India dan Malaysia.

Salah satu kunci yang disebut membantu restoran ini menarik dan mempertahankan pelanggan adalah keseimbangan rasa. Pelanggan Vietnam masih dapat menemukan “esensi” kampung halaman, sementara tamu internasional merasakan cita rasa yang harmonis dan mudah diakses. Selain menu yang lebih dikenal luas seperti pho, banh mi, dan lumpia, Saigon Express juga memperkenalkan hidangan yang lebih rumit, termasuk banh xeo (panekuk gurih Vietnam) serta aneka tumisan dengan serai dan cabai. Restoran ini juga menghadirkan pengalaman interaktif dengan mengajarkan pelanggan menggulung lumpia kertas beras sendiri dengan gaya tradisional, yang disebut dapat membantu pemahaman lebih dalam tentang budaya Vietnam.

Tasmania, dengan iklim sejuk dan medan berbukit yang mengingatkan pada dataran tinggi utara Vietnam seperti Lao Cai, disebut menjadi tujuan bagi banyak anak muda Vietnam setelah bertahun-tahun bekerja di kota-kota besar seperti Melbourne atau Sydney. Meski laju kehidupan di Hobart tidak semeriah kota besar, komunitas Vietnam di sana digambarkan memiliki ikatan khusus.

Ukuran komunitas yang relatif kecil juga disebut mendorong tumbuhnya solidaritas. Saigon Express, misalnya, menggelar acara budaya seperti Festival Pertengahan Musim Gugur yang menarik ratusan peserta, menjadi ruang bagi warga Vietnam untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan menjaga identitas. Saat Tahun Baru Imlek, restoran ini juga menyelenggarakan makan malam akhir tahun bagi mereka yang tidak dapat pulang kampung, termasuk karyawan asing.

Dalam operasionalnya, tim Saigon Express digambarkan bersifat multinasional, mulai dari mahasiswa internasional Vietnam hingga pekerja dari Bangladesh, India, dan berbagai kelompok usia. Lingkungan kerja multikultural ini dinilai turut membantu penyebaran kuliner Vietnam sekaligus memperkuat interaksi dan koneksi di komunitas.

Kisah Saigon Express disebut menjadi gambaran semangat kewirausahaan, kemampuan beradaptasi, dan solidaritas komunitas Vietnam di perantauan. Melalui hidangan yang disajikan, citra Vietnam terus diperkenalkan lebih luas, sekaligus berkontribusi pada penguatan posisi budaya Vietnam di tingkat internasional.