BERITA TERKINI
Ratusan Usaha Kuliner Tutup Tiap Bulan di Singapura, 1880 Private Club Hentikan Operasi Mendadak

Ratusan Usaha Kuliner Tutup Tiap Bulan di Singapura, 1880 Private Club Hentikan Operasi Mendadak

Gelombang penutupan usaha kuliner di Singapura terus berlanjut. Data pemerintah menunjukkan, sepanjang tahun ini rata-rata ada 307 bisnis makanan dan minuman yang tutup setiap bulan. Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata 254 penutupan per bulan pada 2024, serta sekitar 230 per bulan pada 2023 dan 2022.

Di tengah tren tersebut, 1880 Private Club di Robertson Quay mengumumkan penutupan mendadak pada 17 Juni setelah perusahaan induknya dilikuidasi sementara. Penutupan ini mengakhiri operasional klub yang telah berjalan hampir delapan tahun.

Menurut pemberitaan Straits Times, para anggota menerima pemberitahuan penutupan melalui email dan WhatsApp pada dini hari. Pesan itu menyatakan seluruh kegiatan klub segera dihentikan dan meminta anggota tidak datang karena pintu akan dikunci.

Straits Times menyebut pesan tersebut ditandatangani pendiri klub asal Kanada, Marc Nicholson. Penutupan dilakukan setelah tidak ada investor atau pihak yang bersedia mengakuisisi bisnis, sehingga perusahaan tidak memiliki dana yang cukup untuk menjalankan operasional, termasuk membayar gaji staf dan pemasok.

Dalam pesannya, Nicholson menyampaikan bahwa bisnis 1880 sedang sepi pengunjung dan pendapatan menurun karena pengunjung memangkas jumlah pesanan. Ia juga mengeklaim ada tiga tawaran untuk berinvestasi atau mengakuisisi 1880 yang menurutnya dapat memulihkan kondisi perusahaan, tetapi kesepakatan tersebut tidak terwujud. Karena tidak ada dana lagi untuk membayar staf maupun pemasok, ia menyatakan penutupan menjadi satu-satunya pilihan.

Penutupan 1880 Private Club terjadi setelah cabang mereka di Hong Kong ditutup pada 30 Mei, usai beroperasi kurang dari tujuh bulan. Pada saat yang sama, klub itu disebut tengah membangun properti di Bali.

Sebelumnya pada April, Reuters juga melaporkan banyaknya restoran di Singapura yang gulung tikar, mencakup kios kaki lima berbiaya rendah, operator menengah, hingga restoran berbintang Michelin.

Situasi serupa turut dialami pelaku usaha lain. Salah satu pendiri Wine RVLT, Alvin Goh, mengatakan pihaknya berencana tidak memperbarui sewa tempat yang berakhir pada Agustus 2025, setelah hampir satu dekade menjual anggur alami dan makanan ringan. Ia menyebut bisnisnya sudah mengalami defisit sejak Juni 2023 dan terus menambah dana agar sewa, gaji, serta pemasok tetap terbayar.

Goh menilai kenaikan biaya barang, utilitas, sewa, dan gaji menjadi faktor yang menekan usaha. Ia juga mencatat jumlah pelanggan berkurang dan pengeluaran per kunjungan lebih kecil dibandingkan 2022, setelah pandemi COVID-19.