Bulan Ramadan kerap menjadi periode yang dinanti masyarakat, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga karena perubahan pola konsumsi yang biasanya meningkat. Kebutuhan makanan berbuka dan sahur, perlengkapan ibadah, hingga kebutuhan menjelang Idulfitri mendorong lonjakan permintaan di berbagai sektor. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha skala kecil, menengah, digital, hingga pemula, untuk memanfaatkan momentum penjualan yang cenderung lebih tinggi.
Sejumlah ide usaha diperkirakan tetap relevan pada Ramadan 2026, terutama yang mengikuti tren pasar dan mengutamakan kebutuhan praktis. Mulai dari kuliner, fashion modest, hampers, hingga layanan berbasis digital, peluangnya dinilai luas selama pelaku usaha melakukan persiapan sejak awal dan menjaga kualitas produk.
Kuliner masih menjadi primadona
Sektor makanan dan minuman hampir selalu mendominasi bisnis Ramadan, terutama menjelang waktu berbuka. Produk takjil sehat dan kekinian disebut banyak diminati karena perputaran penjualan yang cepat, seperti kolak rendah gula, salad buah, puding chia seed, hingga es buah premium.
Di sisi minuman, tren minuman segar kekinian diperkirakan tetap menjadi incaran pada Ramadan 2026. Beberapa contoh yang disebut antara lain es susu kurma premium, es kelapa muda campur buah, thai tea, matcha latte, hingga es lumut. Varian es teler “sultan” dengan kuah lebih kental dan tampilan visual menarik juga dinilai berpotensi memikat pembeli.
Selain takjil, layanan katering buka puasa dan sahur memiliki pasar besar, terutama di wilayah perkotaan, lingkungan kos, dan kantor, karena banyak orang tidak sempat memasak. Menu sahur praktis seperti nasi ayam, nasi telur, atau rice bowl sederhana menjadi pilihan yang banyak dicari, termasuk lauk matang yang tinggal dipanaskan.
Memasuki akhir Ramadan, permintaan kue kering Lebaran seperti nastar, kastengel, dan putri salju biasanya meningkat. Produk lain yang dinilai menawarkan kepraktisan adalah kurma isi kekinian, frozen food edisi Ramadan, serta dessert box bertema Ramadan seperti date cheesecake yang mudah dipasarkan melalui media sosial karena daya tarik visualnya.
Fashion modest dan perlengkapan ibadah
Permintaan busana Muslim dan perlengkapan ibadah umumnya naik menjelang Ramadan dan Idulfitri. Untuk Ramadan 2026, arah tren fashion disebut mengarah pada kemewahan minimalis: garis desain bersih, hiasan halus, kain berkualitas, serta kenyamanan yang menjadi pertimbangan utama selama jam puasa yang panjang.
Dari sisi warna, palet bumi seperti terakota, hijau sage, taupe hangat, dan ivory lembut diprediksi menguat, disertai pastel seperti soft pink dan mint green. Sementara untuk malam hari, warna permata seperti zamrud, plum, navy, dan maroon disebut memberi kesan elegan.
Untuk potongan, siluet A-line serta bahan yang “bernapas” seperti katun, linen, dan modal dinilai penting untuk sirkulasi udara. Kurta lurus, abaya panjang, dan gaun santai disebut mendominasi, dengan kain ringan lebih disukai untuk aktivitas harian selama puasa. Di sisi lain, beludru diprediksi kembali mendapat tempat untuk tampilan yang lebih mewah di malam Ramadan.
Selain busana, perlengkapan ibadah seperti mukena, sarung, peci, sajadah, dan tasbih juga mengalami peningkatan permintaan. Beberapa produk yang disebut diminati antara lain mukena traveling, sajadah empuk, dan tasbih digital.
Hampers dan parcel semakin personal
Tradisi berkirim hampers selama Ramadan dan Lebaran disebut semakin populer. Paket berisi makanan, kue kering, atau perlengkapan ibadah banyak dipilih sebagai hadiah. Bisnis hampers juga dinilai bisa dimulai dengan modal relatif kecil, dengan potensi margin yang menarik.
Tren 2025/2026 menunjukkan konsumen cenderung mencari paket yang unik dan personal, tidak hanya dari isi, tetapi juga kemasan dan desain. Variasi isi hampers dapat mencakup set alat ibadah premium, paket sembako dengan kemasan elegan, hingga produk skincare atau kesehatan.
Pilihan isi lain yang disebut antara lain peralatan makan berbahan keramik atau kayu, baju Lebaran seragam keluarga, lilin aroma terapi, perhiasan, serta aksesori. Penggunaan kemasan ramah lingkungan juga disebut dapat menarik pasar yang peduli isu keberlanjutan, selain opsi custom hampers dan perhatian pada ketepatan waktu pengiriman.
Peluang jasa dan bisnis digital
Selain produk fisik, peluang usaha berbasis jasa dan digital juga terbuka selama Ramadan. Kebutuhan desain kartu ucapan, banner promosi, hingga konten media sosial bertema Ramadan dan Lebaran cenderung meningkat, sehingga jasa desain dan percetakan disebut prospektif dengan margin yang berpotensi tinggi dan modal awal relatif kecil.
Minat terhadap kelas online dan webinar Ramadan juga disebut tumbuh, terutama bagi masyarakat yang ingin menambah pengetahuan dan spiritualitas. Contohnya termasuk kelas mengaji online, kelas parenting Islami, serta webinar motivasi dan pengembangan diri selama Ramadan.
Model bisnis reseller dan dropship turut menjadi opsi karena memungkinkan penjualan tanpa menyimpan stok. Produk yang dapat dipasarkan melalui marketplace atau media sosial antara lain busana Muslim, perlengkapan ibadah, hampers Lebaran, hingga makanan ringan untuk berbuka.
Strategi yang disarankan untuk Ramadan 2026
Agar peluang Ramadan 2026 dapat dimaksimalkan, persiapan awal disebut menjadi kunci. Pelaku usaha disarankan melakukan riset pasar dan menyiapkan stok bahan sebelum Ramadan dimulai, serta memanfaatkan WhatsApp, Instagram, dan TikTok sebagai kanal promosi.
Kualitas produk dan kejujuran dalam berbisnis juga ditekankan, termasuk menyesuaikan aktivitas usaha dengan nilai-nilai Ramadan. Manajemen waktu dinilai penting agar kegiatan usaha tidak mengganggu ibadah.
Inovasi produk, penawaran yang menyasar kebutuhan spesifik, dan pengelolaan yang rapi disebut dapat meningkatkan daya saing. Sistem pre-order dinilai membantu mengontrol produksi dan menjaga kesegaran, terutama untuk produk makanan seperti dessert box atau takjil. Sementara promosi paket, misalnya penjualan bundling minuman untuk keluarga atau promo pembelian beberapa gelas sekaligus, dapat menjadi cara untuk mendorong penjualan.
Dengan ragam pilihan sektor dan fleksibilitas model usaha, Ramadan 2026 diperkirakan tetap menjadi momentum penting bagi pelaku usaha, baik yang berjualan produk fisik maupun menawarkan layanan berbasis digital.

