Purwokerto – Usaha makanan tradisional dinilai masih memiliki peluang di tengah maraknya kuliner modern dengan berbagai cita rasa baru. Makanan tradisional tetap eksis dan dapat menjadi sumber penghasilan bagi pelaku usahanya.
Hal itu disampaikan Rositin, pemilik usaha Alifia Snack, dalam dialog Jelita Pro 1 RRI Purwokerto. Rositin membagikan pengalamannya menekuni bisnis jajanan tradisional yang menurutnya memerlukan keahlian khusus dan tidak semua orang bisa membuatnya.
Ia menuturkan, kemampuan membuat makanan tradisional ia pelajari dari ibu dan kakak iparnya. Selain belajar dari keluarga, Rositin juga mengikuti kursus untuk menambah keterampilan.
Dalam usahanya, Rositin memproduksi beragam makanan tradisional seperti lemper, lapis, lumpia isi rebung, dan tahu isi ayam, serta jenis jajanan lainnya. Ia juga menyebut menggunakan bahan-bahan alami dalam proses pembuatan.
Pada awal merintis, Rositin memasarkan produknya dengan menitipkan jajanan ke sekolah-sekolah. Seiring waktu, pesanan terus bertambah dari luar saluran tersebut. Namun, ia mengaku tidak dapat memastikan jumlah pesanan harian karena fluktuasinya cukup besar.
“Karena tiap hari kan kadang, misalkan hari ini pesanannya hanya 40 dus. Besok 40 dus. Terus tiba-tiba ada lagi pesanan yang 500 dus. Jadi nggak bisa kira-kira seharinya berapa,” ujarnya.
Rositin mengatakan, sebagai pelaku usaha ia berupaya menjaga kualitas produk dan tetap optimistis ketika kondisi pesanan sedang sepi. Di tengah banyaknya kuliner kekinian yang bermunculan, ia memilih bertahan menjual makanan tradisional. Menurutnya, langkah itu sekaligus menjadi upaya mempertahankan kuliner tradisional dan tetap memberi keuntungan secara usaha.

