Singapura — Kerry, perusahaan penyedia solusi cita rasa makanan dan nutrisi, menyatakan komitmennya untuk mendorong perubahan berkelanjutan di industri kuliner di tengah dampak perubahan iklim terhadap rantai pasokan pangan dan meningkatnya biaya.
Perubahan iklim disebut terus mengganggu rantai pasokan, menyulitkan pengadaan bahan makanan, serta memicu lonjakan biaya bagi pelaku usaha dan konsumen. Di saat yang sama, menu makanan dituntut memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa mengorbankan cita rasa maupun biaya, sehingga kebutuhan akan solusi inovatif, termasuk yang berkelanjutan, dinilai kian mendesak.
General Manager, Foodservice Chains, Kerry Southeast Asia, Simon Hague, mengatakan rantai bisnis kuliner merupakan salah satu sektor paling dinamis di industri makanan dan berpengaruh terhadap pola konsumsi secara luas. Menurutnya, sektor ini dapat membentuk budaya dan kebiasaan makan melalui menu, sekaligus menghadirkan nutrisi berkelanjutan yang mendorong pilihan makanan lebih sehat dan lestari.
Hague juga menyoroti kontribusi sistem pangan terhadap emisi global. Ia menyebut sistem pangan menyumbang sekitar 33% emisi gas rumah kaca dunia dan menghadapi kendala yang sulit diprediksi, sehingga Kerry melihat adanya peran transformatif dari rantai bisnis kuliner.
Kerry menilai langkah strategis di sektor pangan berpotensi memberi dampak besar. Perusahaan menyebut 55% dampak pemanasan global dapat dicegah melalui perubahan dalam produksi pangan, pengurangan sampah makanan, serta peralihan ke pola makan yang lebih sehat dan lestari. Dalam konteks itu, Kerry menawarkan sejumlah solusi yang diklaim didukung bukti klinis untuk menjawab tantangan bisnis kuliner.
Salah satunya adalah upaya meningkatkan kandungan nutrisi tanpa mengurangi cita rasa. Kerry memperkenalkan teknologi Tastesense™ yang disebut dapat membantu pengelola bisnis mengurangi penggunaan garam dan gula, sekaligus menghadirkan menu yang lebih sehat untuk menyesuaikan regulasi lokal yang kian ketat, termasuk dorongan terhadap konsep clean-label dan opsi rendah kalori. Kerry mencontohkan kebijakan di Singapura, di mana pada 2027 label Nutri-Grade yang saat ini diterapkan pada minuman untuk menunjukkan kandungan gula akan diperluas untuk mencakup produk dengan kandungan sodium tinggi seperti garam, saus, bumbu, dan mi instan jika memiliki skor C atau D.
Selain itu, Kerry menawarkan solusi Food Protection and Preservation (FPP) yang ditujukan untuk memperpanjang masa simpan, mengurangi sampah makanan, dan meningkatkan daya tarik produk, khususnya pada kategori kue dan daging yang disebut sebagai dua kategori dengan kontribusi sampah makanan terbesar berdasarkan volume dan nilai.
Kerry juga menyoroti kelangkaan kakao yang memicu gejolak harga dan kerentanan pasokan. Untuk merespons kondisi tersebut, perusahaan menawarkan solusi cocoa boosters dan menekankan komitmen pada pengadaan bahan makanan berkelanjutan, dengan tujuan menjaga mutu rasa sekaligus mendukung praktik lingkungan dan sosial yang bertanggung jawab.
Sustainability Lead, Kerry Asia Pacific, Middle East & Africa, Daniel Campion, mengatakan transparansi, penelusuran asal bahan (provenance), dan pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas konsumen saat ini. Ia menyebut konsumen ingin mengetahui asal makanan yang dikonsumsi serta dampaknya terhadap bumi, dan Kerry ingin mendukung mitra bisnis kuliner dalam merancang menu yang lebih tangguh sekaligus mendorong perubahan positif.
Hague menambahkan, Kerry menekankan kolaborasi dengan klien untuk mengembangkan menu yang lebih sehat, lezat, dan berkelanjutan melalui solusi yang dirancang khusus, dengan tujuan memenuhi ekspektasi konsumen serta menopang pertumbuhan dan inovasi bisnis.

