BERITA TERKINI
Hasna Haryaningtyas, Alumni Farmasi asal Blitar yang Menekuni Bisnis Mochi hingga Tembus Ratusan Biji per Hari

Hasna Haryaningtyas, Alumni Farmasi asal Blitar yang Menekuni Bisnis Mochi hingga Tembus Ratusan Biji per Hari

BLITAR — Memulai usaha kerap diwarnai tantangan. Hal itu dirasakan Hasna Haryaningtyas (28), warga Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, yang kini menekuni bisnis kuliner melalui usahanya, Eat and Run.

Hasna merupakan alumni SMAN 1 Sutojayan dan lulusan S1 Farmasi IIK. Meski berasal dari keluarga yang banyak berkecimpung di bidang kesehatan—ayahnya kepala sekolah, ibunya bidan, dan sebagian besar saudaranya bekerja di dunia medis—Hasna memilih jalur berbeda. Ia mengaku sempat mendapat tawaran bekerja di sebuah klinik, namun merasa tidak nyaman dan memutuskan mengikuti minatnya untuk berjualan.

Ketertarikan Hasna pada dunia usaha disebut sudah muncul sejak masa sekolah. Ia mengenang pernah berjualan nasi saat SMA dengan membawa tas koper berisi makanan ke sekolah. “Dari SMA aku sudah jualan nasi, bawa tas koper berisi makanan ke sekolah. Setiap hari di-keroyok anak-anak karena jualan lebih murah dari kantin,” ujar Hasna, Minggu (16/2/2025).

Perjalanan membangun usaha kuliner itu tidak selalu mulus. Hasna mengaku sempat terpikir untuk berhenti, namun dukungan keluarga membuatnya bertahan. “Sempat mau berhenti, ada banget. Tapi keluargaku menguatkan. Mungkin ini perjalanan menuju sukses,” katanya.

Dari awalnya hanya menjual sekitar 10–12 mochi, Eat and Run kini berkembang dengan penjualan ratusan biji setiap hari. Ia menyebut omzet usahanya berada di kisaran Rp 2–2,5 juta pada hari biasa dan sekitar Rp 4 juta saat akhir pekan. Dalam event besar, ia juga bisa menerima pesanan hingga Rp 2 juta dalam sekali order.

Nama Eat and Run, menurut Hasna, muncul dari konsep awal berjualan yang dibuat praktis seperti layanan drive-thru. Saat berjualan di pinggir jalan, banyak pelanggan membeli tanpa turun dari kendaraan. “Jualan di pinggir jalan, banyak yang beli sambil naik motor. Jadi aku pakai nama Eat and Run, biar sesuai,” jelasnya.

Bagi Hasna, kesuksesan tidak hanya diukur dari uang, melainkan juga kebahagiaan dan kepuasan ketika menjalani apa yang disukai. “Aku membuktikan ke orang tuaku, walaupun enggak jadi apoteker, aku bisa cari uang sendiri. Yang penting halal dan bikin bahagia,” pungkasnya.

Setelah melewati berbagai tantangan, Hasna menilai ketekunan, inovasi, dan kejujuran menjadi pegangan dalam menjalankan usaha. “Pokoknya kalau jualan itu satu, jujur dulu. Insya Allah kalau jujur, lancar,” tuturnya.