Memasak kerap menjadi hobi yang menyenangkan sekaligus cara melepas penat dari rutinitas. Namun di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan rumahan, aktivitas di dapur juga bisa berkembang menjadi peluang usaha. Bisnis kuliner berbasis dapur sendiri kini semakin populer, dan sejumlah pelaku usaha disebut memulai langkahnya dari rumah sebelum berkembang lebih besar.
Salah satu tahap awal yang dinilai penting adalah menemukan ciri khas menu. Keunikan bisa berasal dari rasa, resep keluarga, atau olahan tertentu yang sulit ditemukan di tempat lain. Memiliki satu menu andalan yang menjadi identitas usaha membantu produk lebih mudah diingat pelanggan. Dalam bisnis kuliner, rasa menjadi faktor utama, tetapi diferensiasi kerap menentukan apakah pelanggan akan kembali.
Tren bisnis kuliner rumahan juga terlihat dari data dan survei yang beredar. Selama pandemi COVID-19, jumlah UMKM kuliner berbasis rumah meningkat. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa pada 2022, lebih dari 60% UMKM baru berasal dari sektor makanan dan minuman. Sementara itu, survei Tokopedia dan GoFood menunjukkan produk yang banyak dicari antara lain makanan rumahan, frozen food, dessert box, serta camilan yang sempat populer seperti croffle dan Korean garlic bread.
Sejumlah contoh usaha yang disebut berangkat dari skala rumahan turut menggambarkan peluang tersebut. Di Jakarta, “Bittersweet by Najla” dikisahkan bermula dari dapur pribadi dan unggahan dessert box di Instagram. Dengan strategi media sosial dan menu yang dianggap unik, bisnis ini berkembang dan disebut meraih omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. Sementara di Surabaya, “Sambal Bu Rudy” berawal dari penjualan di warung kecil. Berkat rasa khas dan strategi penjualan, produknya kemudian tersedia di toko oleh-oleh dan marketplace, serta dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Surabaya.
Bagi pemula, memulai usaha tidak selalu harus langsung menyewa tempat atau membuka restoran. Dapur rumah dapat dimanfaatkan sebagai titik awal, dengan perhatian pada kerapian kemasan dan pemilihan kanal penjualan. Platform digital seperti WhatsApp, Instagram, maupun marketplace makanan dapat digunakan untuk menjangkau pembeli. Penjualan skala kecil, termasuk melalui status WhatsApp, kerap menjadi langkah awal sebelum usaha bertumbuh.
Media sosial juga menjadi salah satu alat yang banyak dimanfaatkan pelaku usaha kuliner rumahan. Instagram dan TikTok, misalnya, dapat digunakan untuk menampilkan foto produk, video proses pembuatan, hingga testimoni pelanggan. Interaksi yang konsisten dengan pengikut dinilai dapat membantu membangun loyalitas dan membentuk komunitas pelanggan.

