BERITA TERKINI
Warkop Aceh Bang Zainal di Yogyakarta Pertahankan Cita Rasa Autentik Kuliner Aceh

Warkop Aceh Bang Zainal di Yogyakarta Pertahankan Cita Rasa Autentik Kuliner Aceh

Warkop Aceh Bang Zainal di Yogyakarta berupaya menghadirkan kuliner Aceh dengan rasa yang tetap autentik. Zainal, perantau asal Aceh, memilih mempertahankan karakter masakan kampung halamannya dan tidak menyesuaikannya dengan kecenderungan rasa manis yang umum ditemui pada masakan di Yogyakarta.

Perjalanan Zainal merintis usaha kuliner dimulai pada 1999 ketika ia merantau ke Jakarta. Ia kemudian memutuskan membuka usaha makanan khas Aceh. Namun, pada masa awal berjualan, ia menghadapi tantangan karena masakan Aceh dinilai masih asing bagi sebagian lidah konsumen di Jakarta dan sekitarnya. Kondisi itu membuatnya kerap merugi dan sempat merasa putus asa, terlebih usaha makanan membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Pada 2002, Zainal diajak teman sesama perantau asal Aceh untuk pindah ke Yogyakarta dan membangun usaha bersama yang diberi nama Rumah Makan Bungong Jeumpa. Ia turut membantu mendirikan rumah makan tersebut dan kemudian menekuni posisi pemasaran. Zainal menjalani peran itu selama 21 tahun pada rentang 2004 hingga 2021.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Rumah Makan Bungong Jeumpa mengalami penurunan omzet dan melakukan pengurangan pekerja. Situasi itu membuat Zainal keluar dari tempatnya bekerja pada 2021 dan kembali memikirkan cara bertahan hidup di perantauan.

Berbekal pengalaman serta sisa tabungan, Zainal membuka warung kopi sederhana di pinggir Selokan Mataram dengan desain sederhana bernuansa warkop Aceh. Ia menjual beragam masakan khas Aceh, sekaligus menitipkan beberapa menu ke warung Aceh lain di sekitar Yogyakarta sebagai upaya memperkenalkan produknya dan menambah pendapatan.

Warkop Aceh Bang Zainal beroperasi mulai pukul 18.00 hingga 04.00. Menurut Zainal, jam operasional itu mengikuti konsep warkop di Aceh yang umumnya buka selepas magrib hingga menjelang subuh. Pengunjungnya disebut ramai setiap hari, termasuk mahasiswa yang datang untuk nongkrong hingga dini hari.

Dari berbagai menu yang dijual, Mie Aceh dan Kopi Aceh menjadi yang paling dikenal dan disebut sebagai andalan. Zainal mengatakan, berdasarkan catatan penjualan di jejaring online, kedua menu itu paling banyak diminati. Ia juga menyebut omzet penjualan Mie Aceh di salah satu platform online bisa mencapai Rp1,7 juta per hari, di luar penjualan pada aplikasi lain.

Dalam menjaga cita rasa, Zainal menyatakan memilih mempertahankan racikan bumbu dan proses memasak agar tidak berubah. Ia mengatakan sebagian bahan masakan harus dibeli langsung dari Aceh. Selain itu, ia memasak sendiri dari awal dengan bumbu racikan pribadi.

Zainal menegaskan tidak ingin menyesuaikan masakannya dengan selera lokal yang cenderung manis. Ia juga mengaku pernah menerima keluhan pelanggan saat rasa makanan berubah ketika dimasak oleh karyawan. Pengalaman itu membuatnya bersikeras memasak sendiri agar rasa tetap konsisten. Menurutnya, meski sudah menggunakan bumbu asli, hasil masakan tetap bisa berbeda jika dimasak oleh orang yang tidak terbiasa dengan masakan Aceh. Ia menyebut jika harus mencari karyawan, ia lebih memilih orang Aceh agar cita rasa tidak berubah.

Zainal menilai upaya menjaga rasa autentik penting karena banyak pelanggannya berasal dari Sumatra, termasuk Aceh, yang datang ketika merindukan masakan kampung halaman. Meski demikian, ia menyebut pelanggan dari Yogyakarta juga ada, termasuk pemesan untuk kebutuhan acara besar. Zainal menyatakan menerima pesanan masakan Aceh dalam jumlah besar, seperti kue serta lauk pauk khas Aceh.

Dalam memperkenalkan masakan Aceh di Yogyakarta, Zainal merasa terbantu oleh pengalaman panjangnya di bidang pemasaran selama bekerja di rumah makan Aceh yang sudah dikenal luas di kota tersebut. Meski pada awalnya warkopnya belum banyak diketahui, ia tetap bertekad memperkenalkan kuliner Aceh kepada masyarakat Yogyakarta. Tantangan yang ia rasakan saat ini lebih banyak terkait ketersediaan bahan dan bumbu asli yang harus dipesan dari Aceh serta keterbatasan karyawan yang mampu memasak tanpa mengubah cita rasa.