BERITA TERKINI
Pasar Papringan Temanggung Jadi Inspirasi Suguhan Lebaran Berbasis Pangan Lokal

Pasar Papringan Temanggung Jadi Inspirasi Suguhan Lebaran Berbasis Pangan Lokal

Hidangan Lebaran dari tahun ke tahun kerap terasa serupa: aneka kue kering memenuhi toples di ruang tamu, sementara menu bersantan seperti opor ayam, rendang, ketupat, hingga sambal goreng ati tersaji di meja makan. Kebiasaan ini sudah begitu lekat, meski sebagian orang mengaku mulai mencari alternatif makanan lain setelah hari pertama Lebaran.

Dalam tradisi, makanan bersantan kerap dikaitkan dengan filosofi “pangapunten” atau permintaan maaf. Namun, konsumsi menu bersantan dan kue kering yang didominasi tepung serta gula juga memunculkan kekhawatiran bila disantap berlebihan, termasuk dampaknya bagi kesehatan.

Dari situ, muncul gagasan untuk mulai menghadirkan pilihan suguhan Lebaran yang lebih beragam dengan memanfaatkan pangan lokal yang sederhana dan minim bahan tambahan. Inspirasi tersebut salah satunya datang dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, melalui Pasar Papringan.

Pasar Papringan—berasal dari kata “pring” yang berarti bambu—berdiri di area yang dipenuhi rumpun bambu di Dusun Ngadiprono. Pasar ini ramai dikunjungi warga setempat maupun wisatawan pada Minggu Pon dan Minggu Wage.

Di pasar tersebut, pengunjung dapat menemukan beragam kudapan lokal yang disebut dibuat dengan cita rasa sederhana tanpa pengawet maupun perasa buatan. Salah satu yang menonjol adalah ongol-ongol.

Ongol-ongol merupakan penganan berbahan tepung sagu atau tapioka yang dicampur gula aren atau gula merah. Teksturnya lembut dan kenyal, lalu disajikan dengan taburan kelapa kukus parut yang memberi rasa gurih. Di Pasar Papringan, ongol-ongol juga ditusuk menyerupai sate, sehingga tampilannya menarik sekaligus praktis untuk penyajian.

Keberadaan kudapan seperti ongol-ongol menjadi contoh bagaimana pangan lokal dapat dipertimbangkan sebagai alternatif suguhan Lebaran, di tengah kebiasaan menyajikan menu yang cenderung sama setiap tahun.