BERITA TERKINI
Warga Nganjuk Cerita Baru Coba Nasi Becek Saat Dewasa: Harga Dinilai Tidak Ramah Kantong

Warga Nganjuk Cerita Baru Coba Nasi Becek Saat Dewasa: Harga Dinilai Tidak Ramah Kantong

Tak semua warga Nganjuk pernah menikmati nasi becek, kuliner yang kerap disebut sebagai makanan khas daerah tersebut. Sejumlah warga menilai harga seporsinya relatif mahal sehingga tidak mudah dijangkau, terutama bagi pelajar atau remaja yang belum bekerja.

Seorang warga Nganjuk berusia 21 tahun mengaku selama hidupnya di Nganjuk belum pernah mencicipi nasi becek hingga akhirnya mencoba saat dewasa. Meski nasi becek disebut memiliki sejarah sejak masa kolonialisme dan dikenal sebagai kuliner legendaris, ia menilai rasanya tidak jauh berbeda dari gulai kambing yang biasa ditemui pada acara hajatan.

Hika (21), warga asal Nganjuk, juga menceritakan pengalaman pertamanya mencoba nasi becek sekitar tiga bulan lalu. Ia menyebut harga seporsi Rp28 ribu tidak membuatnya merasakan sesuatu yang istimewa. Hika mengaku bukan penyuka masakan gulai, tetapi ia tetap mencoba karena penasaran dengan kuliner yang sering disebut sebagai ciri khas Nganjuk. Menurutnya, harga tersebut kurang sepadan untuk kalangan pelajar atau remaja yang belum bekerja, dan ia merasa cukup sekali mencicipinya.

“Sampe ibukku bilang ‘wis lah, wis nyoba yo uwis’ (udahlah, kalau sudah nyoba yaudah),” kata Hika saat dihubungi pada Selasa (27/8/2024) siang WIB.

Di tempat lain, penulis mencoba nasi becek di kawasan Jalan Ahmad Yani yang disebut sebagai lokasi legendaris dan telah berdiri puluhan tahun. Namun, harga yang dipatok mencapai Rp35 ribu per porsi. Menu tersebut dinilai serupa gulai kambing, dengan tambahan sate kambing di atasnya.

Dalam perbincangan dengan teman-temannya setelah mencoba, muncul komentar bahwa nasi becek dinilai kurang sesuai dengan daya beli masyarakat setempat. “Harganya tak sesuai UMK Nganjuk,” celetuk salah satu teman.

Usai membahas nasi becek, penulis diajak Yogi (20) untuk mencoba nasi banting, kuliner lain yang juga disebut khas Nganjuk. Mereka menyusuri Jalan Ahmad Yani sekitar pukul 04.00 menjelang subuh dan memilih mampir ke Warung Kopi Pak Ji di depan Stasiun Nganjuk.

Pak Ji, penjual yang disebut berusia sekitar 50 tahunan, mengatakan telah berjualan puluhan tahun. Nasi banting yang disajikan berukuran kecil dan disebut mirip “nasi kucing” di angkringan Yogyakarta. Meski porsinya kecil, dua bungkus dinilai cukup mengenyangkan.

Isi nasi banting terdiri dari nasi pulen dan harum, dilengkapi lauk mi, tempe orek, serta sambal teri. Penulis juga menambahkan tempe gembus dan gorengan yang disebut berukuran cukup besar dengan harga Rp1 ribu per buah.

Untuk dua bungkus nasi banting, tiga gorengan, kopi, serta seporsi nasi pecel yang dipesan Yogi, total pembayaran disebut Rp18 ribu. Penulis menilai, dengan nominal tersebut ia sudah bisa makan kenyang bersama temannya, dan membandingkannya dengan harga seporsi nasi becek yang lebih tinggi.

Penilaian serupa datang dari Habib (21), yang mengaku belum pernah mencoba nasi becek dan lebih sering makan nasi banting. Ia berpendapat nasi banting lebih merepresentasikan masyarakat Nganjuk karena bisa dinikmati berbagai kalangan sosial. Menurut Habib, makanan khas seharusnya dapat mewakili semua lapisan masyarakat, sementara harga nasi becek dinilai membuat banyak warga belum pernah mencobanya seumur hidup.