BERITA TERKINI
Tujuh Cara Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak Sejak Dini

Tujuh Cara Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak Sejak Dini

Rasa ingin tahu merupakan bagian alami dari perkembangan anak sejak lahir. Sejak bayi, anak terdorong untuk memahami apa yang terjadi di sekitarnya, mulai dari mengikuti suara dan wajah dengan pandangan, hingga bereksperimen dengan benda yang dipegangnya. Dorongan untuk mengeksplorasi ini dinilai penting karena dapat membantu anak belajar lebih banyak tentang lingkungan dan dirinya.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan rasa ingin tahu adalah soft skill yang sudah ada sejak usia dini. Menurutnya, keingintahuan mendorong anak mempelajari hal baru yang kemudian membantu perkembangan keterampilan. Ia mencontohkan, anak yang penasaran pada mainan yang diletakkan agak jauh akan berusaha merangkak untuk meraihnya, sehingga kemampuan motoriknya ikut terasah.

Ketika anak menemukan hal baru yang disukai, otak dapat melepaskan dopamin yang menimbulkan perasaan positif. Karena itu, menumbuhkan rasa ingin tahu dinilai dapat membuat anak lebih terdorong untuk belajar, mencari informasi secara mandiri, serta memandang tantangan sebagai kesempatan belajar, bukan hambatan.

Vera juga menilai anak pada dasarnya selalu ingin tahu, meski biasanya ketertarikan itu muncul pada hal-hal yang dianggap menarik atau disukai. Tantangannya bagi orang tua adalah membuat beragam pengalaman dan aktivitas menjadi cukup menarik agar rasa ingin tahu anak ikut terpicu.

Manfaat rasa ingin tahu

Dalam artikel ini disebutkan beberapa manfaat menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak. Anak yang memiliki keingintahuan lebih besar cenderung lebih senang belajar dan bergaul. Interaksi dengan teman dari latar belakang berbeda dapat menumbuhkan empati, meningkatkan keterampilan pertemanan, dan mendorong hubungan sosial yang lebih sehat.

Rasa ingin tahu juga dikaitkan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah serta kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Selain itu, anak yang terbiasa penasaran terhadap ide dan tujuan orang lain dinilai lebih terbuka pada gagasan baru. Keingintahuan juga disebut dapat membantu anak mengembangkan kemampuan mencari solusi secara kreatif.

Tujuh cara menumbuhkan rasa ingin tahu anak

Berikut tujuh stimulasi kegiatan yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu menumbuhkan rasa ingin tahu anak.

1. Mengajak bertualang
Orang tua dapat mengajak anak bepergian atau mencoba pengalaman baru, seperti berkemah, pergi ke museum, menonton pertunjukan budaya, piknik, mengunjungi akuarium, pusat sains, atau kebun binatang. Menjelajahi alam juga dapat memperluas wawasan anak. Saat anak mengamati flora dan fauna, orang tua bisa mengajukan pertanyaan seperti “Menurutmu mengapa burung tinggal di sarang?” agar anak terdorong membangun jawaban dan hipotesisnya sendiri. Penting pula mengikuti minat anak ketika ia terlihat tertarik pada tumbuhan atau hewan tertentu.

2. Mendorong anak bertanya
Pertanyaan disebut sebagai salah satu cara terbaik untuk menginspirasi anak terus belajar. Saat menjawab, orang tua disarankan memberi jawaban sederhana dan ringkas. Jika tidak mengetahui jawabannya, orang tua dapat jujur dan mencari tahu bersama anak. Orang tua juga dapat aktif bertanya kepada anak dengan kata tanya seperti siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.

3. Memberi kesempatan anak memilih
Anak dapat dilibatkan dalam keputusan sederhana, misalnya menentukan menu masakan atau memilih tetangga yang akan dikirimi kue. Anak juga bisa diberi tugas ringan seperti mencuci sayur atau mengantar kue. Jika jaraknya dekat, orang tua dapat mengawasi dari jauh; bila agak jauh, bisa menemani dari belakang. Otonomi ini dinilai dapat membantu anak lebih percaya diri menyampaikan pendapat.

4. Membiasakan membaca buku
Membuat anak tertarik membaca bisa menjadi tantangan, namun membaca dapat membuka wawasan dan merangsang imajinasi. Orang tua dapat mengajak anak ke toko buku, memilih bacaan sesuai usia dan minat, lalu meminta anak menceritakan kembali isi buku.

5. Memberi ruang anak untuk bermain
Orang tua tidak selalu bisa mengawasi semua yang dilakukan anak. Terlalu banyak larangan dapat membuat anak bingung dan tidak berani mencoba. Untuk menjaga keamanan, orang tua dapat menyingkirkan benda yang mudah pecah atau berpotensi berbahaya agar anak memiliki ruang bermain yang lebih aman.

6. Tidak selalu menjadi “jaring penyelamat”
Ketika anak mengalami masalah, misalnya terkait pekerjaan rumah, mainan, atau teman bermain, orang tua disarankan tidak terburu-buru membantu. Beri waktu anak mencoba menyelesaikan sendiri. Jika anak melakukan kesalahan, dukungan untuk mencari solusi dinilai lebih membantu daripada kemarahan.

7. Mendorong anak berpikir
Saat anak bertanya, orang tua dapat menanyakan pendapat anak terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Cara ini mendorong anak untuk melatih penalaran dan membangun pemikirannya sendiri.

Beragam cara tersebut dapat menjadi langkah sederhana untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak sejak dini, sekaligus membantu anak lebih aktif belajar dan mengeksplorasi lingkungan secara positif.