BERITA TERKINI
Psikolog: Rasa Jenuh dalam Pernikahan Wajar, Ini Cara Mengatasinya

Psikolog: Rasa Jenuh dalam Pernikahan Wajar, Ini Cara Mengatasinya

Rasa jenuh dalam hubungan pernikahan kerap muncul seiring waktu, terutama ketika pasangan mulai terjebak dalam rutinitas yang berulang. Kondisi ini disebut lebih sering dirasakan pada fase pernikahan yang semakin matang, misalnya saat memasuki usia 7 hingga 10 tahun. Bahkan, pada umumnya setelah lebih dari lima tahun menikah, pasangan suami istri mulai menemukan pola kehidupan yang terasa monoton.

Situasi bisa semakin berat ketika konflik dalam rumah tangga sulit diselesaikan. Kombinasi rutinitas dan persoalan yang berlarut-larut berpotensi memunculkan kebosanan, termasuk rasa jenuh terhadap pasangan.

Psikolog Klinis Dewasa Nadya Pramesrani, M.Psi, Psikolog dari Rumah Dandelion, menilai rasa bosan tidak selalu berdampak buruk. Menurutnya, selama pasangan masih memiliki komitmen, kejenuhan justru dapat menjadi sinyal untuk memperbaiki hubungan.

“Selama pasangan suami istri masih memiliki komitmen, sebenarnya rasa bosan dengan pasangan, bukan suatu yang buruk melainkan pertanda untuk berusaha memperbaiki hubungan,” ujarnya.

Nadya menegaskan, rasa jenuh pada pasangan pada dasarnya bisa diatasi. Namun, ia menekankan pentingnya memulai perubahan dari diri sendiri. Dalam kehidupan berkeluarga, tanggung jawab di rumah dan pekerjaan—terlebih saat sudah memiliki anak—membuat banyak pasangan terjebak dalam rutinitas. Karena itu, rasa bosan dinilai sebagai hal yang jamak terjadi.

Ketika menyadari mulai jenuh, Nadya menyarankan agar seseorang kembali melihat kondisi dirinya terlebih dahulu, termasuk tenaga dan kebugaran tubuh. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan dengan istirahat cukup dan gaya hidup sehat. Menurutnya, langkah ini dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih positif saat berkomunikasi dengan pasangan.

Selain menjaga kebugaran, aktivitas fisik seperti olahraga juga dinilai penting karena dapat membantu keluar dari pola rutinitas yang itu-itu saja. Nadya juga mendorong upaya mengembangkan diri, termasuk mencoba hal baru agar tidak terjebak dalam kebosanan.

“Cobalah melakukan hal baru untuk mengembangkan diri, sehingga nanti tidak akan terjebak dalam rutinitas, passion-nya juga terjaga, secara pribadi jadi lebih bahagia, bantu berinteraksi dengan pasangan. Kalau misalnya terjebak dalam rutinitas, ngobrol dengan pasangan juga jadi sulit,” kata Nadya.

Dalam upaya mengatasi kejenuhan, ia menyoroti pentingnya memperhatikan ikatan kedua belah pihak dan membangun situasi komunikasi yang mendukung. Menurutnya, suasana yang nyaman dan kondusif akan membantu pesan tersampaikan dengan baik.

Selain itu, Nadya mengingatkan agar pasangan lebih peka dan mengenali kebutuhan satu sama lain, bukan hanya berfokus pada keluh kesah. Ia mencontohkan perbedaan kecenderungan komunikasi yang kerap terjadi: perempuan sering kali ingin bercerita, sementara laki-laki cenderung ingin masalah segera selesai. Pemahaman terhadap perbedaan ini dinilai dapat membuat komunikasi lebih lancar.

Di luar komunikasi, Nadya juga menekankan pentingnya memperhatikan kualitas dan kuantitas hubungan seksual. Ia mengingatkan agar kebiasaan sederhana yang membangun kedekatan tidak disepelekan, misalnya makan malam berdua tanpa gawai, sebagai cara meningkatkan keintiman.

Menurut Nadya, langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu membangun kembali kedekatan emosional dalam hubungan. Jika rasa jenuh berkembang menjadi konflik lain yang tidak terduga, berkonsultasi dengan ahli atau pihak ketiga juga dapat dipertimbangkan untuk mencari solusi.