Di Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, kegiatan menggiling bumbu atau ngiling bumbu tidak dipandang sekadar urusan dapur. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini menjadi ruang kebersamaan yang menegaskan nilai gotong royong dan solidaritas, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Tradisi tersebut terkait erat dengan keberadaan kompleks rumah tuo yang disebut telah berusia sekitar 700 tahun. Bangunan ini bukan hanya penanda sejarah, tetapi juga pusat kehidupan budaya tempat berbagai tradisi, termasuk ngiling bumbu, terus diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat.
Ngiling bumbu lazim digelar dalam beragam momen penting, mulai dari persiapan turun ke ladang, panen raya, kenduri pernikahan, hingga pembangunan rumah baru. Prosesi ini menjadi bagian dari tradisi beselang—kegiatan gotong royong yang menghadirkan suasana penuh canda tawa dan mempererat hubungan antarwarga.
Dalam pelaksanaannya, para gadis menumbuk aneka rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan serai, sementara yang lain memarut kelapa untuk diolah menjadi santan. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan dari ladang-ladang di sepanjang Sungai Lamuih, yang alirannya terhubung hingga ke Sungai Tabir dan bermuara ke Sungai Batanghari.
Pada masa lalu, ngiling bumbu juga dikenal dengan istilah ba usik sirih bergurau pinang, yang menggambarkan momen pertemuan antara pemuda dan pemudi. Suasana gotong royong kerap diselingi pantun jenaka sebagai pembuka perkenalan, dilanjutkan dengan balas-membalas pantun dan penyebutan nama. Setelah itu, belut hasil tangkapan para pemuda diserahkan kepada para gadis untuk dimasak.
Rangkaian tradisi kemudian berlanjut ke prosesi ngukuih, yakni memasak gulai belut yang dicampur daun pakis. Masakan dimasak perlahan di atas tungku kayu. Nasi dari padi ladang yang baru dipanen disiapkan sebagai pelengkap, sementara penyajian dilakukan di beberapa rumah sepanjang kompleks rumah tuo.
Gulai belut dimasak dengan rempah, cabai, dan santan selama sekitar satu setengah jam. Proses tersebut disebut membuat hidangan tidak berbau amis atau lumpur. Dalam tradisi ini, belut tidak hanya diperlakukan sebagai bahan pangan, tetapi juga dimaknai sebagai simbol kekuatan dan kegigihan.
Memancing belut pun menjadi perlombaan tradisional yang menguji kemahiran dan mempererat ikatan sosial di kalangan pemuda. Kegiatan ini juga menekankan kerja sama tim dan keterampilan yang lekat dengan kehidupan agraris masyarakat Rantau Panjang dan Tabir.
Namun, modernisasi membawa perubahan pada fungsi sosial ngiling bumbu. Tradisi yang sebelumnya menjadi ajang silaturahmi sekaligus pertemuan muda-mudi kini lebih banyak dilakukan oleh para ibu untuk kebutuhan memasak dalam beselang. “Sekarang, ngiling bumbu hanya jadi bagian dari beselang untuk memasak, dan itu dilakukan induk-induk. Kalau muda-mudi, perkenalan sekarang di HP bae,” kata Ramuini (19), pelajar SMAN 2 Merangin.
Meski berubah, masyarakat Rantau Panjang disebut terus berupaya mempertahankan tradisi ini. Setiap hentakan batu tumbuk dalam proses ngiling bumbu dipandang memuat nilai yang menguatkan solidaritas warga. Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut tetap dijaga sebagai penanda identitas budaya dan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur.

