Aroma menyengat kerap membuat sebagian orang mengernyit saat pertama kali mencium terasi. Namun di balik baunya yang kuat, bumbu khas Nusantara ini justru dikenal sebagai rahasia rasa yang dicari dan dirindukan dalam berbagai masakan.
Terasi kerap disalahpahami sebagai udang busuk. Padahal, terasi merupakan hasil fermentasi udang kecil atau rebon yang diproses secara tradisional selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Proses panjang tersebut membentuk karakter rasa umami alami yang khas.
Dalam video yang dibagikan akun Facebook Jisal, terasi digambarkan memiliki dua sisi yang kontras. Saat masih mentah, aromanya disebut menusuk hidung. Namun ketika dibakar atau dimasak, terasi berubah menjadi penambah rasa yang kuat. “Mentahnya memang bau, tapi begitu dibakar, terasi itu berubah total. Rasanya keluar semua, gurihnya hidup,” demikian narasi dalam video tersebut.
Produk serupa sebenarnya dikenal di berbagai negara dengan sebutan shrimp paste. Meski begitu, terasi Indonesia disebut memiliki karakter yang lebih kuat, yang dikaitkan dengan metode fermentasi tradisional serta penggunaan bahan baku alami.
Di dapur Nusantara, terasi kerap menjadi unsur penting dalam berbagai olahan sambal. Tanpa terasi, sambal dinilai mudah terasa datar. Sebaliknya, penggunaan terasi dalam takaran yang tepat dapat menghidupkan keseluruhan rasa. “Tanpa terasi, sambal itu biasa saja. Tapi dengan terasi, rasanya jadi lengkap,” ungkap narasi dalam video.
Lebih dari sekadar bumbu, terasi disebut sebagai identitas rasa yang melekat pada budaya kuliner Indonesia. Aroma yang semula ditolak, pada akhirnya menjadi bagian dari rasa yang dicari ketika berpadu dengan cabai, garam, dan bahan lainnya.

