Nastar menjadi salah satu kue kering favorit saat Lebaran. Namun, kue ini kerap berjamur atau mengeluarkan bau tengik bila penyimpanannya kurang tepat. Faktor pemicunya antara lain kandungan air pada selai nanas, udara yang lembap, serta paparan sinar matahari yang dapat mempercepat proses oksidasi lemak pada nastar.
Dirangkum dari akun YouTube Diana Rahma, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan agar nastar tetap awet hingga enam bulan tanpa kehilangan rasa dan teksturnya secara drastis. Kuncinya terletak pada pemilihan bahan, cara pengemasan, serta kebiasaan saat mengambil kue dari wadah penyimpanan.
Penyebab nastar mudah berjamur dan tengik
Kandungan air dalam selai nanas disebut menjadi penyebab utama nastar cepat berjamur. Selai yang terlalu basah dapat memicu pertumbuhan jamur, terutama bila nastar disimpan dalam kondisi yang memungkinkan kelembapan terperangkap. Selain itu, udara lembap dan paparan sinar matahari dapat mempercepat kerusakan, termasuk munculnya bau tengik akibat oksidasi lemak.
Kesalahan umum yang memperburuk kondisi tersebut adalah penggunaan wadah yang tidak kedap udara. Ketika nastar sering terpapar udara luar, proses perubahan kualitas kue berlangsung lebih cepat.
Perhatikan kualitas bahan
Ketahanan nastar juga dipengaruhi oleh bahan yang digunakan. Jenis tepung dan mentega dapat berpengaruh pada daya simpan. Diana Rahma menyarankan peningkatan kualitas bahan agar aroma dan rasa tetap terjaga. Selain itu, selai nanas perlu diperhatikan: selai yang lebih kering dinilai membantu mengurangi risiko jamur karena kadar airnya lebih rendah.
Kemas nastar satu per satu dan gunakan wadah bersih
Salah satu cara yang disarankan adalah mengemas setiap nastar satu per satu menggunakan plastik kecil. Setelah itu, nastar disimpan dalam wadah yang bersih, kering, dan kedap udara.
Wadah penyimpanan juga sebaiknya tidak menggunakan toples yang sebelumnya dipakai untuk makanan lain, terutama yang beraroma kuat. Tujuannya agar aroma nastar tidak berubah dan kualitasnya lebih terjaga selama masa simpan.
Suhu ruang atau kulkas?
Menurut Diana Rahma, nastar lebih baik disimpan pada suhu ruang dalam toples tertutup rapat. Menyimpan di kulkas justru berisiko membuat tekstur nastar berubah menjadi keras. Jika tetap ingin menyimpan di kulkas, penggunaan wadah kedap udara tetap diperlukan, meski cara ini tidak dianjurkan bila ingin mempertahankan tekstur yang lembut.
Dengan penyimpanan suhu ruang yang benar, nastar disebut bisa bertahan hingga enam bulan tanpa kehilangan cita rasa dan tekstur secara signifikan.
Perubahan rasa dan tekstur seiring waktu
Selama penyimpanan, kondisi nastar dapat berubah. Setelah dua bulan, nastar masih disebut segar, tidak berjamur, dan rasanya tetap enak, meski aroma kue panggangnya mulai berkurang. Memasuki bulan keenam, Diana Rahma menyebut tidak muncul jamur, tetapi kulit nastar mulai sedikit lembek.
Sementara pada penyimpanan sekitar lima bulan, meski tidak ada jamur, rasa nastar bisa tidak seenak saat baru dibuat. Rasa asin dapat menjadi lebih dominan karena margarin terasa lebih pekat.
Kesalahan yang perlu dihindari
Kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu sering membuka toples. Kebiasaan ini membuat nastar lebih mudah terpapar udara lembap sehingga cepat melempem. Kesalahan lain adalah memakai wadah yang tidak kedap udara serta menggunakan selai nanas yang masih terlalu basah.
Tanda nastar tidak layak makan
Nastar yang sudah tidak layak konsumsi dapat dikenali dari bau tengik, rasa pahit, atau rasa asin yang berlebihan. Jika terlihat bercak putih atau jamur pada permukaan, Diana Rahma menyarankan nastar tidak dikonsumsi lagi. Pemeriksaan kondisi kue sebelum dimakan penting dilakukan untuk memastikan keamanan dan kualitas.
Apakah bisa lebih dari 6 bulan?
Nastar disebut berpotensi bertahan lebih dari enam bulan bila disimpan dengan cara yang benar dan menggunakan bahan berkualitas baik. Namun, semakin lama disimpan, perubahan pada aroma, rasa, dan tekstur tetap mungkin terjadi, terutama berkurangnya aroma khas nastar.

