BERITA TERKINI
Tips Mengemas Kue Basah agar Tetap Higienis dan Cita Rasanya Terjaga

Tips Mengemas Kue Basah agar Tetap Higienis dan Cita Rasanya Terjaga

Menjaga kue basah tetap segar dan higienis kerap menjadi tantangan, terutama bagi penjual maupun pelaku katering yang harus menyiapkan pesanan dalam jumlah besar. Kesalahan dalam pengemasan atau penyimpanan dapat membuat kue cepat rusak, kehilangan cita rasa, hingga berisiko terkontaminasi. Karena itu, diperlukan langkah yang tepat agar kue tetap lezat dan aman dikonsumsi.

Fransiska Riana Veni Hastari, pemilik katering Resep Mamakid di Yogyakarta, membagikan sejumlah praktik yang ia terapkan sejak menekuni usaha kue basah pada Mei 2019. Veni, yang mengikuti pelatihan cake and pastry dari Balai Kota Yogyakarta pada 2020 serta belajar secara otodidak melalui resep di media sosial, menekankan pentingnya ketelitian sejak kue selesai dimasak hingga siap disajikan atau dikirim.

Dinginkan kue sebelum dikemas

Menurut Veni, salah satu penyebab kue basah cepat rusak adalah kebiasaan mengemas kue saat masih hangat. Uap panas dapat terperangkap di dalam kemasan dan berubah menjadi uap air, membuat kue terlalu lembap, lebih cepat rusak, dan berpotensi berjamur.

Ia menyarankan agar kue didiamkan di suhu ruang hingga panasnya benar-benar hilang sebelum masuk ke wadah. Prinsip ini berlaku untuk berbagai jenis kue basah, termasuk yang berbahan santan, telur, maupun tepung, agar tekstur dan cita rasa tetap terjaga.

Pilih wadah rapat dan sesuai ukuran

Penggunaan wadah yang kedap udara dinilai penting untuk mencegah kue terpapar debu, serangga, atau udara luar. Selain menjaga kebersihan, wadah yang pas dengan ukuran kue juga membantu mencegah pergeseran selama pengiriman sehingga bentuk dan teksturnya tidak mudah rusak.

Veni menekankan pengemasan sebaiknya dilakukan serapat mungkin. Untuk kue yang dibungkus daun, ia mengingatkan agar pembungkus tidak sobek sehingga kue tidak terpapar udara luar. Wadah rapat juga membantu mempertahankan kelembapan alami kue, terutama pada jenis yang mudah mengering atau memiliki lapisan dan isian basah.

Pisahkan kue berdasarkan jenis dan bahan

Setiap kue basah memiliki daya tahan berbeda, bergantung pada bahan dan proses pembuatannya. Karena itu, Veni menyarankan pemisahan berdasarkan jenis, misalnya kue bersantan, berbahan telur, atau non-santan.

Ia juga menyoroti kue dengan isian sayur yang ditumis, seperti risoles ragout, pastel sayur, atau lumpia sayur. Jika proses menumis isian kurang tanak, hal tersebut dapat menjadi salah satu penyebab kue lebih cepat rusak. Pemisahan jenis kue membantu menentukan perlakuan penyimpanan, pemilihan wadah, serta prioritas konsumsi—mana yang sebaiknya lebih cepat dihabiskan dan mana yang relatif lebih tahan.

Bungkus individual bila diperlukan

Untuk jenis kue yang lembap, mudah menempel, atau memiliki isian basah, pembungkusan secara individual menggunakan plastik atau kertas dapat menjadi pelindung tambahan. Cara ini mencegah kue saling menempel atau rusak akibat kontak langsung, sekaligus memudahkan saat dikonsumsi satu per satu tanpa membuka seluruh kemasan.

Pembungkus individual juga membantu menjaga agar kelembapan dari satu kue tidak merembes dan memengaruhi kue lain dalam satu wadah, sehingga rasa serta tekstur masing-masing tetap optimal.

Gunakan sarung tangan saat memegang kue

Aspek higienitas menjadi perhatian utama, terutama untuk kue yang akan dijual. Veni menekankan penggunaan sarung tangan saat menyentuh kue, misalnya ketika memindahkan dari loyang ke wadah. Menurutnya, langkah sederhana ini membantu mencegah kontaminasi langsung dari tangan dan menjaga kue tetap bersih serta aman dikonsumsi.

Dengan menerapkan pendinginan sebelum pengemasan, pemilihan wadah yang tepat, pemisahan jenis kue, pembungkusan individual bila perlu, dan penggunaan sarung tangan, kualitas kue basah dapat lebih terjaga—baik dari sisi kebersihan maupun cita rasa.