BERITA TERKINI
Tips Mengatasi Kesepian Saat Ramadan di Perantauan: Isi Waktu, Perkuat Relasi, dan Perbanyak Ibadah

Tips Mengatasi Kesepian Saat Ramadan di Perantauan: Isi Waktu, Perkuat Relasi, dan Perbanyak Ibadah

Menjalani Ramadan di perantauan kerap menjadi pengalaman yang tidak mudah. Bulan suci yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga—mulai dari sahur, berbuka, hingga obrolan hangat selepas tarawih—bisa berubah menjadi suasana sunyi bagi mereka yang tinggal sendiri di kos atau kontrakan. Kesepian yang muncul bukan semata karena minimnya orang di sekitar, melainkan perasaan tidak ditemani secara emosional.

Pengalaman itu dirasakan Miftah (20), mahasiswa di Yogyakarta. Ia menyebut sore menjelang magrib sebagai momen paling berat selama Ramadan di rantau. “Biasanya di rumah ramai, ada suara TV dan ibu masak. Di kos cuma sunyi. Kalau nggak ngapa-ngapain, pikiran bisa ke mana-mana,” ujar Miftah kepada reporter Liputan6.com, Minggu (25/1/2026).

Hal serupa dialami Dini (25), pekerja swasta di Yogyakarta. Menurutnya, waktu kosong justru terasa lebih panjang karena jam kerja lebih singkat selama Ramadan. “Pulang lebih cepat, tapi sampai kosan malah sendirian. Teman sekamar ada yang nonmuslim, ada juga yang mudik duluan,” katanya.

Fenomena ini sejalan dengan laporan global mengenai meningkatnya rasa kesepian, terutama di kalangan anak muda dan dewasa awal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut kesepian sebagai ancaman kesehatan global yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik.

Berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan perantau untuk mengurangi rasa kesepian selama Ramadan, berdasarkan pengalaman narasumber dan tuntunan dalam Islam.

1. Mengisi waktu dengan aktivitas bermakna

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi rasa sepi adalah mengisi waktu menjelang berbuka dengan kegiatan produktif, bukan melamun. Miftah memilih memasak sendiri sebagai cara bertahan. “Walaupun cuma masak telur atau tumisan, itu bikin waktu nunggu magrib nggak kerasa dan pikiran jadi lebih positif,” ujarnya.

Aktivitas seperti memasak, membersihkan tempat tinggal, atau menyiapkan hidangan berbuka dapat membantu mengalihkan pikiran sekaligus menjadi bentuk syukur atas nikmat waktu dan rezeki.

2. Merawat hubungan sosial lewat bukber dan masjid

Dini mengaku berusaha tetap menerima undangan buka bersama selama sesuai kemampuan finansial. “Bukber sama teman kantor itu rasanya seperti diingatkan kalau kita nggak benar-benar sendirian,” katanya.

Ketika undangan buka bersama tidak ada, masjid menjadi ruang yang dianggap aman bagi banyak perantau. Salat berjemaah, tarawih, hingga buka puasa bersama di masjid dipandang sebagai bentuk kebersamaan yang dianjurkan dalam Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103). Masjid pun tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang persaudaraan.

3. Menjadikan kesepian sebagai momen introspeksi dan ibadah

Kesepian tidak selalu harus dilawan; sebagian bisa diterima dan dimaknai. Miftah mengaku suasana kos yang sepi justru membuatnya lebih fokus beribadah. “Kosan yang sepi bikin aku lebih fokus ibadah. Ngaji lebih rutin, salat sunnah,” ujarnya.

Dalam Islam, menyendiri dapat dimaknai sebagai ruang untuk merenung dan mendekat kepada Allah, selama tidak menjauhkan diri dari kewajiban sosial dan ibadah.

4. Berbagi takjil dan kebaikan

Miftah dan Dini sama-sama menilai berbagi sebagai salah satu cara efektif menghangatkan suasana hati. “Interaksi kecil seperti bagi takjil bikin hati hangat,” kata Miftah.

Islam menekankan kepedulian sosial. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad). Berbagi takjil, membantu tetangga, atau menyapa orang sekitar dapat membuka ruang interaksi yang sering kali berkurang saat hidup di perantauan.

5. Menguatkan hubungan dengan Allah

Selain membangun relasi sosial, perantau juga dapat menguatkan hubungan spiritual. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan: “Jika hamba-Ku mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bagi sebagian orang, mengingat Allah melalui doa, zikir, dan ibadah dapat menjadi penopang saat jauh dari keluarga dan lingkungan akrab.

Kesepian saat Ramadan di rantau: wajar, tetapi perlu direspons

Rasa kesepian saat Ramadan di perantauan dinilai sebagai respons yang manusiawi, terutama ketika seseorang jauh dari keluarga dan rutinitas lama. Cara sederhana untuk mengurangi rasa sepi dapat dimulai dari aktivitas kecil seperti memasak, berbuka di masjid, atau menghubungi keluarga.

Namun, bila kesepian berkembang menjadi putus asa, menarik diri secara ekstrem, atau kehilangan motivasi beribadah, seseorang disarankan mencari dukungan dari orang lain.