BERITA TERKINI
Tiga Cara Membuat Cuka Apel di Rumah, dari Jus hingga Sisa Kulit Apel

Tiga Cara Membuat Cuka Apel di Rumah, dari Jus hingga Sisa Kulit Apel

Cuka apel dapat dibuat sendiri di rumah dengan bahan yang relatif sederhana, meski prosesnya membutuhkan kesabaran karena fermentasi berlangsung selama beberapa minggu. Bahan dapur serbaguna ini kerap digunakan sebagai tambahan makanan dan minuman, sekaligus dimanfaatkan sebagai cairan pembersih rumah. Selain itu, cuka apel juga sering dipakai untuk perawatan kecantikan dan disebut baik untuk kesehatan karena kandungan nutrisinya.

Mengutip buku Cuka Apel: Manfaat Luar Biasa untuk Kesehatan dan Kecantikan karya Tresno Saras, cuka apel mengandung asam asetat, enzim, probiotik, vitamin B1, B2, B3, dan B9, serta polifenol dan antosianin. Berikut tiga metode pembuatan cuka apel yang bisa dipraktikkan di rumah, beserta catatan penting selama proses fermentasi.

1. Metode praktis menggunakan jus apel

Metode ini menggunakan jus apel sebagai bahan utama, ditambah starter vinegar dan Mother of Vinegar (SCOBY). Cara ini dinilai lebih cepat dan praktis karena tidak memerlukan pengolahan buah secara langsung.

Bahan:
- 4 cangkir jus apel (mentah atau pasteurisasi)
- 1/4 cangkir cuka apel kuat sebagai starter (atau 1/3 cangkir jika menggunakan buatan sendiri)
- 1 SCOBY / Mother of Vinegar

Langkah:
Tuangkan jus apel suhu ruang ke toples kaca bersih, lalu tambahkan starter vinegar untuk membantu menurunkan pH agar fermentasi lebih aman dari jamur. Masukkan SCOBY/Mother of Vinegar—jika tenggelam tidak menjadi masalah karena dapat naik ke permukaan. Tutup toples dengan kain rapat (misalnya filter kopi) dan ikat dengan karet gelang. Simpan di tempat hangat dan gelap tanpa paparan sinar matahari langsung selama sekitar 30 hari. Setelah dua minggu, biasanya muncul lapisan keruh atau “mother” baru di permukaan yang dianggap normal. Mulai hari ke-30, cicipi hasilnya; bila masih manis, fermentasi dapat dilanjutkan hingga rasa cukup asam.

2. Metode tradisional dengan apel segar

Metode ini memakai potongan apel secara langsung, termasuk kulit dan inti (biji dibuang). Hasil fermentasi disebut dapat menghasilkan rasa yang lebih kompleks dan berpotensi membentuk “mother” baru.

Bahan:
- 2–3 buah apel kecil (gunakan kulit dan inti, buang bijinya)
- 1/4 cangkir gula tebu murni
- 1/4 cangkir cuka apel starter (dapat ditambah bila starter buatan sendiri)
- 4 cangkir air
- 1 SCOBY / Mother of Vinegar

Langkah:
Panaskan 1 cangkir air untuk melarutkan gula, kemudian dinginkan hingga suhu ruang. Tambahkan 3 cangkir air lainnya. Potong apel kecil-kecil dan masukkan ke larutan air gula, lalu tambahkan starter vinegar dan aduk rata. Masukkan SCOBY/Mother of Vinegar, tutup dengan kain yang dapat “bernapas”, kemudian simpan di tempat gelap dan hangat selama 30 hari. Setelah selesai, saring dan simpan cuka dalam botol kaca bersih.

3. Metode menggunakan kulit dan inti apel (memanfaatkan sisa dapur)

Metode ini memanfaatkan limbah dapur berupa kulit dan inti apel. Selain membantu mengurangi sampah, hasilnya tetap dapat digunakan sebagaimana cuka apel pada umumnya.

Bahan:
- Kulit dan inti apel (dari 3–5 apel, tergantung ukuran toples)
- 1–2 sendok makan gula (bisa gula organik atau gula kelapa)
- Air matang secukupnya

Langkah:
Sterilkan toples dan tangan sebelum memulai. Masukkan kulit dan inti apel bersama gula ke dalam toples, lalu tuang air hingga seluruh bahan terendam dan aduk rata. Tutup dengan filter kopi atau kain tipis yang rapat dan ikat kencang. Fermentasikan selama dua minggu di tempat hangat. Setelah dua minggu, buang ampas apel dan lanjutkan fermentasi dua minggu berikutnya. Cicipi dan hentikan fermentasi ketika rasa asam sudah sesuai. Kemunculan gelembung atau “mother” yang tampak seperti jelly mengambang disebut sebagai tanda fermentasi berjalan.

Tips penting selama fermentasi

Beberapa hal perlu diperhatikan agar proses berjalan aman dan hasil lebih stabil. Gunakan toples kaca yang bersih dan steril untuk mencegah kontaminasi bakteri atau jamur liar. Simpan toples di tempat hangat tetapi gelap, seperti lemari dapur, dan hindari sinar matahari langsung. Untuk penutup, filter kopi atau kain tipis yang rapat dinilai ideal; kain kasa (cheesecloth) tidak disarankan karena kurang rapat menahan lalat buah. Pantau aroma dan tampilan: bila muncul bau busuk atau jamur berbulu putih keabu-abuan, fermentasi kemungkinan gagal dan sebaiknya dibuang. Setelah rasa asam cukup, saring dan simpan dalam botol kaca tertutup di suhu ruang atau kulkas. Jika memakai starter dari batch sebelumnya tetapi rasanya kurang kuat, starter dapat ditambah.

Seputar cuka apel: kegunaan dan istilah penting

Di luar konsumsi, cuka apel kerap digunakan sebagai pembersih rumah alami (dicampur air untuk membersihkan jendela, lantai, atau permukaan dapur), bilasan rambut untuk membantu rambut lebih lembut dan mengurangi ketombe, hingga toner wajah atau penghapus riasan. Cuka apel juga disebut dapat dipakai untuk membersihkan bekas kotoran hewan peliharaan, menjadi bahan produk fermentasi lain seperti kombucha vinegar mayonnaise, atau dijadikan starter untuk fermentasi berikutnya.

Istilah “Mother of Vinegar” atau SCOBY merujuk pada kumpulan mikroba hidup berupa bakteri dan ragi yang terbentuk selama fermentasi. Bentuknya menyerupai lapisan seperti jelly, dapat mengambang atau mengendap, dan dianggap sebagai tanda fermentasi berjalan baik. Mother ini juga dapat digunakan kembali sebagai starter batch berikutnya.

Untuk kebutuhan pengawetan (pickling), kadar keasaman perlu diperhatikan. Cuka yang aman untuk pengawetan umumnya memiliki pH sekitar 2,4 atau setara 5% keasaman. Karena kadar gula buah berbeda-beda, keasaman cuka buatan sendiri bisa bervariasi. Penggunaan pH strip direkomendasikan bila ingin memastikan keamanan untuk pengalengan. Jika hasil cuka tidak sesuai atau terkontaminasi, cuka dapat dialihfungsikan sebagai pembersih rumah tangga (misalnya campuran 1 bagian cuka apel dan 3 bagian air) atau untuk membersihkan noda dan bau, serta dapat menjadi starter fermentasi selama tidak ada jamur berbahaya.

Campuran cuka apel dan madu juga kerap diminum sebagai tonik harian. Sejumlah orang mengonsumsinya untuk membantu pencernaan dan metabolisme, meredakan radang tenggorokan dan alergi ringan, serta mendukung program penurunan berat badan, meski disebutkan tidak semua manfaat tersebut telah terbukti secara ilmiah.