BERITA TERKINI
Takjil: Dari Anjuran Menyegerakan Berbuka hingga Tradisi Kuliner dan Berbagi di Ramadan

Takjil: Dari Anjuran Menyegerakan Berbuka hingga Tradisi Kuliner dan Berbagi di Ramadan

Menjelang azan Magrib di bulan Ramadan, suasana di banyak tempat berubah menjadi pemandangan yang khas. Jalanan yang sejak sore ramai perlahan dipenuhi orang-orang yang mencari tempat menunggu waktu berbuka. Sebagian bergegas ke masjid, sebagian berkumpul bersama keluarga di rumah, sementara lainnya berhenti sejenak di pinggir jalan sambil menatap langit senja yang memerah.

Di tangan banyak orang, terlihat bungkusan kecil atau gelas plastik berisi makanan dan minuman. Ada kolak pisang hangat, es buah, kurma, hingga gorengan yang baru diangkat dari wajan. Ragam hidangan pembuka puasa itu akrab disebut “takjil”, istilah yang kini lekat dengan Ramadan di Indonesia.

Dalam pemahaman sehari-hari, takjil merujuk pada makanan atau minuman untuk berbuka puasa. Ketika Ramadan datang, banyak sudut kota berubah seperti pasar kecil yang menjajakan aneka hidangan berbuka. Pedagang kaki lima berjejer di sepanjang jalan, sementara masjid, komunitas sosial, maupun individu kerap membagikan takjil secara gratis sebagai bentuk berbagi rezeki.

Namun, makna kata takjil pada awalnya tidak merujuk pada makanan. Istilah ini berasal dari bahasa Arab ta’jil, berakar dari kata ajjala, yang berarti menyegerakan atau mempercepat. Dalam konteks ibadah puasa, takjil merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka setelah matahari terbenam.

Seiring penggunaan di masyarakat, istilah takjil kemudian dipakai untuk menyebut makanan dan minuman pembuka puasa. Perubahan ini menunjukkan perkembangan bahasa yang mengikuti kehidupan sosial dan budaya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata takjil bahkan memuat dua makna: menyegerakan berbuka puasa serta makanan untuk berbuka puasa.

Perkembangan makna tersebut memperlihatkan bagaimana istilah keagamaan dapat bertransformasi menjadi bagian dari budaya sehari-hari. Takjil tidak lagi hanya dipahami sebagai konsep ibadah, tetapi juga sebagai tradisi kuliner yang kuat pada bulan Ramadan.

Jika ditelusuri, tradisi berbuka dengan sesuatu yang sederhana kerap dikaitkan dengan praktik Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat disebutkan, beliau berbuka puasa dengan kurma dan air putih. Kurma dipilih karena rasanya manis dan dapat membantu memulihkan energi setelah seharian berpuasa.

Selain itu, ajaran Islam juga menekankan pentingnya berbagi makanan. Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan bahwa orang yang memberi makan kepada orang berpuasa akan memperoleh pahala besar tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Ajaran ini kemudian mendorong tumbuhnya kebiasaan menyediakan hidangan berbuka bagi tetangga, musafir, atau siapa saja yang membutuhkan.

Di Pulau Jawa, pendekatan penyebaran nilai-nilai tersebut kerap dikaitkan dengan dakwah Wali Songo yang dikenal menggabungkan ajaran agama dengan tradisi lokal. Melalui pendekatan yang ramah dan kultural, kegiatan sosial-keagamaan tumbuh, salah satunya kebiasaan berbuka puasa bersama. Kegiatan ini menjadi ruang ibadah sekaligus pertemuan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Pada abad ke-20, tradisi berbagi makanan berbuka semakin berkembang melalui gerakan sosial-keagamaan. Salah satu organisasi yang disebut aktif mendorong tradisi ini adalah Muhammadiyah, yang mengajak masyarakat tidak hanya menyegerakan berbuka, tetapi juga berbagi makanan dengan orang lain.

Saat ini, pembagian takjil di jalan menjelang Magrib menjadi pemandangan umum di berbagai kota. Banyak masjid menyediakan hidangan berbuka gratis bagi jamaah, sementara kelompok masyarakat membagikan takjil kepada pengguna jalan yang masih dalam perjalanan pulang.

Keunikan tradisi takjil juga tampak pada keragaman menunya. Di Indonesia, takjil umumnya berupa makanan ringan manis atau gurih yang dianggap lebih mudah dicerna setelah tubuh menahan lapar dan haus sepanjang hari. Kolak pisang, es buah, kurma, serta berbagai gorengan menjadi menu yang paling sering ditemui.

Kolak memiliki cerita tersendiri dalam sejarah budaya Jawa. Sebagian peneliti menyebut kata “kolak” berkaitan dengan istilah Arab khaliq yang berarti Sang Pencipta. Dalam tradisi dakwah para wali, makanan ini disebut digunakan sebagai simbol ajakan untuk mengingat Tuhan.

Sementara itu, gorengan juga menempati posisi penting sebagai takjil. Sejarawan Prancis Denys Lombard menjelaskan bahwa teknik menggoreng dalam minyak berkembang di Nusantara melalui pengaruh perdagangan dengan masyarakat Tionghoa sejak berabad-abad lalu. Dari interaksi budaya tersebut, lahirlah berbagai jenis gorengan yang kini menjadi bagian dari kuliner Indonesia.

Sejumlah daerah memiliki takjil khas yang berbeda. Di Gresik, Jawa Timur, misalnya, dikenal hidangan sanggring atau kolak ayam yang terbuat dari ayam, santan, gula merah, dan rempah. Tradisi sanggring dikaitkan dengan kisah Sunan Dalem, putra Sunan Giri, pada abad ke-15. Menurut cerita masyarakat setempat, makanan ini pertama kali dibuat ketika ia sedang sakit. Setelah sembuh, masyarakat kemudian memasaknya setiap tanggal 23 Ramadan sebagai bentuk penghormatan.

Tradisi berbuka dengan hidangan khas tidak hanya ditemukan di Indonesia. Di berbagai negara Muslim, makanan pembuka puasa juga memiliki bentuk dan cita rasa yang berbeda. Di Timur Tengah, salah satu menu populer adalah sup lentil bernama shorbat adas yang kerap disantap bersama roti pita. Di Maroko, terdapat sup tomat khas bernama harira yang berisi lentil, buncis, daging, dan bihun dengan rempah yang kuat.

Di Turki, masyarakat akrab dengan roti khas Ramadan bernama ramazan pidesi. Menjelang waktu berbuka, banyak orang mengantre di toko roti untuk mendapatkan pidesi yang baru dipanggang. Sementara di Mesir, dikenal tradisi sosial Maidah Rahman, yakni penyediaan meja panjang di jalan untuk membagikan makanan gratis kepada siapa saja yang ingin berbuka puasa.

Rangkaian tradisi tersebut menunjukkan bahwa takjil bukan sekadar makanan pembuka puasa. Ia menjadi simbol kebersamaan, kemurahan hati, dan kepedulian sosial yang hidup dalam berbagai budaya Muslim. Dari kurma sederhana pada masa Nabi hingga ragam hidangan di berbagai penjuru dunia, tradisi takjil terus berkembang mengikuti perjalanan sejarah. Ramadan memang hadir setahun sekali, tetapi nilai berbagi dan solidaritas yang menyertainya diharapkan tetap hidup dalam keseharian masyarakat.