BERITA TERKINI
Stay at Home Jadi Pilihan Gaya Hidup: Cara Tetap Produktif, Sehat Mental, dan Terhubung dari Rumah

Stay at Home Jadi Pilihan Gaya Hidup: Cara Tetap Produktif, Sehat Mental, dan Terhubung dari Rumah

Gaya hidup stay at home atau lebih banyak beraktivitas dari rumah mengalami pergeseran makna dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada awal pandemi COVID-19 kebijakan tinggal di rumah dijalani sebagai keharusan untuk menekan penularan, kini bagi sebagian orang dan keluarga, pola hidup ini berkembang menjadi pilihan yang dipertahankan. Rumah pun berubah fungsi menjadi pusat kegiatan—mulai dari bekerja, belajar, beribadah, hingga mencari hiburan.

Perubahan tersebut tidak hanya soal pembatasan mobilitas, tetapi juga adaptasi kebiasaan dan pola pikir. Seiring waktu, banyak orang berinvestasi untuk meningkatkan kenyamanan serta fungsi rumah, seperti melakukan perbaikan, membeli perlengkapan hobi, hingga menambah perangkat elektronik penunjang kerja dan konektivitas. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rumah diposisikan lebih dari sekadar tempat tinggal.

Dalam konteks kerja, pandemi ikut mengubah budaya perusahaan dengan mendorong penerapan work from home (WFH). Meski awalnya bersifat darurat, WFH dinilai efektif untuk sejumlah jenis pekerjaan dan mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari fleksibilitas kerja ke depan.

Sejumlah survei global mencatat peningkatan adopsi kerja jarak jauh. Survei Gartner, Inc. pada Maret 2020 terhadap 317 CFO menyebut 74% CFO berniat mengalihkan sebagian karyawan ke skema remote working secara permanen, dengan hampir tiga dari empat CFO merencanakan pengalihan setidaknya 5% karyawan kantor ke posisi jarak jauh setelah COVID-19.

Dari sisi pekerja, Gallup Panel melaporkan persentase remote worker melonjak dari 31% menjadi 62% dalam tiga minggu selama pandemi. Lebih dari separuh pekerja menyatakan ingin tetap bekerja jarak jauh sebanyak mungkin, meski angkanya kemudian sedikit menurun menjadi 53%.

Di Indonesia, survei JakPat Februari 2024 menunjukkan sistem kerja yang paling diminati generasi muda adalah work from anywhere (WFA) sebesar 34% (terutama Gen Z), disusul sistem hibrida 32%, WFO 22%, dan WFH 12%. Namun, survei JakPat pada 2022 mencatat 63% Gen Z menilai WFH efektif, lebih tinggi dibanding milenial (56%) dan Gen X (43%).

Perdebatan soal produktivitas WFH masih berlangsung. Sejumlah penelitian menunjukkan WFH dapat meningkatkan produktivitas, terutama pada peran yang mandiri dan berbasis target. Namun, ada pula temuan yang mencatat penurunan kinerja karena tantangan komunikasi serta kendala jaringan internet.

WFH juga menawarkan manfaat yang nyata. Dari sisi perusahaan, penghematan biaya operasional seperti sewa kantor dan utilitas menjadi salah satu keuntungan. Global Workplace Analytics melaporkan penghematan rata-rata 11.000 dolar AS untuk setiap peran paruh waktu yang dikonversi dari fisik ke virtual. Bagi karyawan, fleksibilitas waktu, keseimbangan kehidupan kerja, serta penghematan waktu dan biaya perjalanan menjadi nilai tambah yang kerap disebut.

Agar WFH berjalan efektif, ada beberapa prinsip yang ditekankan. Pertama, pekerjaan dipandang sebagai sesuatu yang dilakukan, bukan tempat yang dituju. Artinya, karyawan perlu akses terhadap perangkat dan kebutuhan kerja dari mana saja, termasuk laptop, internet, dan aplikasi komunikasi virtual. Kedua, sinkronisasi komunikasi menjadi krusial ketika tim tersebar di wilayah berbeda, sehingga koordinasi dan pertemuan tetap efektif meski ada perbedaan waktu dan rutinitas rumah. Ketiga, pengukuran kerja bergeser dari aktivitas ke pencapaian, dengan fokus pada tugas dan target.

Preferensi untuk tetap bekerja dari rumah juga berbeda antar sektor. Penelitian Gallup menyebut sektor yang paling memilih melanjutkan kerja dari rumah antara lain teknologi, asuransi, seni, hiburan, media, keuangan, dan layanan profesional. Sementara sektor seperti edukasi, ritel, transportasi, dan konstruksi memiliki preferensi lebih rendah untuk WFH.

Di luar urusan kerja, menjalani stay at home secara sehat memerlukan pengaturan ritme hidup. Struktur dan rutinitas harian dinilai penting untuk memberi stabilitas, menyeimbangkan waktu kerja, keluarga, dan kebutuhan pribadi. Jadwal kerja yang jelas dapat membantu bekerja lebih efisien serta mengurangi kecenderungan membuang waktu, sekaligus memberi rasa kontrol yang dapat menekan stres.

Manajemen rumah tangga juga menjadi bagian dari gaya hidup ini. Aktivitas seperti memasak, membersihkan, dan menyortir barang (decluttering) kerap dipandang bisa terasa menyenangkan sekaligus terapeutik. Memasak resep baru, misalnya, tidak hanya berpotensi menghemat pengeluaran, tetapi juga membantu menjaga pola makan yang lebih sehat. Menata ulang rumah dapat menciptakan suasana baru dan meningkatkan suasana hati.

Penataan ruang turut berpengaruh pada produktivitas, terutama bagi mereka yang WFH. Mendekorasi ulang ruangan dapat dilakukan tanpa harus membeli furnitur baru, misalnya dengan mengubah tata letak dan memaksimalkan kreativitas. Ruangan yang terang dan nyaman disebut penting untuk menjaga fokus selama bekerja di rumah.

Aspek kenyamanan fisik juga kerap diperhatikan. Pilihan pakaian yang nyaman namun tetap rapi dapat membantu menjaga kepercayaan diri saat beraktivitas di rumah. Dalam artikel, disebut contoh Blue Canoe yang memelopori konsep bra katun organik nyaman sejak 1994.

Meski menawarkan banyak keuntungan, stay at home juga menyimpan tantangan, terutama terkait kesehatan mental. Terlalu lama di rumah dapat memicu kebosanan, isolasi, kecemasan, stres, hingga kondisi yang kerap disebut cabin fever—istilah untuk menggambarkan perasaan negatif akibat terlalu lama terisolasi, seperti sedih, gelisah, mudah tersinggung, dan putus asa. Sebagian orang juga bisa kehilangan rasa tujuan, terutama jika identitasnya sangat terkait dengan aktivitas dan karier di luar rumah.

Salah satu strategi yang disorot adalah mencari “momen-momen kecil kebahagiaan” dalam keseharian. Mendokumentasikan hal-hal sederhana yang tak terduga namun menyenangkan dinilai dapat menyehatkan secara psikologis, seperti melihat hal unik di perjalanan singkat atau menyaksikan interaksi hangat dalam keluarga.

Pengembangan diri menjadi opsi lain untuk menjaga makna hidup selama lebih banyak berada di rumah. Aktivitas seperti membaca, menulis jurnal, meditasi, mempelajari keterampilan baru—misalnya alat musik atau bahasa asing—serta olahraga di rumah disebut dapat membantu menjaga kesehatan fisik dan mental. Praktik self-care dan mindfulness juga ditekankan untuk membantu mengelola stres.

Koneksi sosial tetap dianggap penting meski aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjaga hubungan dengan teman dan keluarga melalui interaksi digital, permainan daring, atau kelas virtual, sehingga risiko isolasi dapat ditekan.

Di sisi keluarga, stay at home membuka kesempatan memperkuat ikatan. Aktivitas bersama seperti memasak, membersihkan rumah sambil mendengarkan musik, atau merencanakan kegiatan sederhana dapat mempererat hubungan dan membangun kenangan. Bagi orang tua, termasuk stay-at-home parent, situasi ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang, sehingga pembagian peran, tanggung jawab, dan komunikasi terbuka dalam keluarga menjadi penting, termasuk memastikan anak tetap terpantau dan memiliki fasilitas belajar yang memadai.

Untuk mengusir kebosanan, sejumlah ide aktivitas yang dapat dilakukan di rumah antara lain eksplorasi kuliner dengan mencoba resep baru, proyek seni atau kerajinan tangan, kegiatan DIY untuk dekorasi rumah, hingga digital detox sesekali dengan beralih ke aktivitas analog seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, atau bermain permainan papan. Pilihan lain mencakup menonton konten edukatif atau mendengarkan podcast, berkebun bila memiliki halaman, serta menyortir barang dengan metode KonMari untuk mengurangi tumpukan barang tidak terpakai yang dapat memicu stres.

Secara keseluruhan, stay at home disebut telah berevolusi dari respons darurat menjadi opsi hidup yang dinilai memiliki potensi di era modern. Pandemi menjadi pemicu utama, namun pertimbangan lain seperti penghematan biaya, kekhawatiran kesehatan yang berkelanjutan, dan investasi kenyamanan rumah ikut membuatnya menarik bagi sebagian orang. Kunci menjalani pola hidup ini terletak pada keseimbangan: menjaga produktivitas, merawat kesehatan mental, dan mempertahankan koneksi sosial, sehingga rumah dapat menjadi ruang untuk tumbuh, berkarya, dan menemukan kebahagiaan.