Teknik menumis merupakan salah satu metode memasak yang efektif dan efisien untuk mematangkan berbagai jenis bahan makanan. Proses dasar menumis dimulai dengan memanaskan wajan, menambahkan minyak secukupnya, lalu memasukkan bahan seperti bawang yang ditumis hingga harum. Selanjutnya, sayur, daging, telur, atau nasi dapat ditambahkan bersama bumbu dan saus sesuai selera, kemudian diaduk cepat hingga matang sempurna dalam waktu 5-10 menit.
Dalam bahasa Inggris, teknik ini dikenal dengan istilah "stir-fry". Sementara dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa istilah yang merujuk pada teknik serupa, seperti tumis, oseng-oseng, dan cah. Istilah "cah" yang sering dijumpai pada menu seperti "cah buncis" memiliki akar kata dari bahasa Mandarin "chao" yang berarti 'memutar dan menggoreng'. Hal ini menunjukkan hubungan erat teknik menumis dalam tradisi kuliner Tionghoa dan Indonesia.
Asal-usul Teknik Menumis
Teknik menumis telah dikenal sejak zaman Dinasti Han di Tiongkok, sekitar tahun 220 Masehi. Sebelumnya, metode memasak yang umum adalah merebus, menggoreng dalam minyak banyak (deep-frying), atau memanggang. Catatan tertulis pertama mengenai teknik menumis ditemukan dalam kitab Qimin Yaoshu yang ditulis pada tahun 544 M. Dalam kitab tersebut, Jia Sixie menjelaskan cara memasak bebek dengan mengiris bawang bombay, menambahkan garam dan kecap, lalu mengaduknya hingga matang, meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan penggunaan minyak.
Pemakaian minyak sebagai media menumis berkembang pesat pada masa Dinasti Tang dan Song. Pada periode ini, minyak nabati mulai menggantikan lemak babi yang sebelumnya umum digunakan. Namun, menurut pakar sejarah Tiongkok Endymion Wilkinson, harga minyak pada masa itu masih mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat umum, sehingga teknik menumis belum banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada era Dinasti Ming, teknik menumis mulai populer di kalangan masyarakat luas. Penemuan wajan dengan bentuk yang ideal — tidak terlalu cekung dan tidak terlalu datar — memudahkan proses menumis. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar seperti batu bara dan kayu memaksa masyarakat memasak dengan cepat untuk menghemat energi, sehingga menumis menjadi pilihan utama. Teknik ini terus berkembang dan membudaya hingga akhir era Dinasti Qing pada awal abad ke-20, terutama di kota-kota yang mengutamakan kecepatan dalam memasak.
Perkembangan Teknik Menumis di Nusantara
Tidak terdapat catatan resmi mengenai kapan teknik menumis masuk ke Nusantara, namun berdasarkan kajian istilah dan tradisi kuliner, teknik ini berasal dari budaya Tionghoa yang telah lama bermigrasi ke wilayah ini. Pakar kuliner peranakan Tionghoa, Aji Bromokusumo, menyatakan bahwa masakan asli Nusantara tidak mengenal teknik menumis sebelum pengaruh budaya Tionghoa hadir.
Seiring waktu, teknik menumis meluas penggunaannya tidak hanya pada sayuran, tetapi juga berbagai jenis hidangan lain. Contohnya, proses memasak nasi goreng juga menggunakan metode menumis, di mana bahan dan bumbu diaduk cepat di atas api panas hingga matang dan merata.
Keahlian dalam Teknik Menumis
Meskipun terdengar sederhana, teknik menumis membutuhkan keterampilan khusus. Kecepatan mengaduk, pengaturan suhu kompor, dan ketepatan waktu sangat menentukan hasil akhir masakan. Jika tidak dilakukan dengan tepat, bahan dapat mudah gosong atau rasa tidak maksimal. Oleh karena itu, kemampuan koki dalam mengelola teknik ini sangat penting untuk mempertahankan aroma, rasa, dan tekstur bahan masakan.