Sarapan disebut sebagai salah satu asupan gizi terpenting untuk mengawali hari. Sejumlah pakar nutrisi menilai kebiasaan makan pagi bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga berperan dalam membantu tubuh memperoleh energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk beraktivitas.
Michele Herrmann mengatakan sarapan merupakan asupan gizi yang sangat penting. Karena itu, tidak mengherankan jika menu sarapan di berbagai negara sangat beragam, menyesuaikan kebiasaan dan ketersediaan pangan di masing-masing wilayah.
Namun, sarapan juga kerap menjadi rutinitas yang membuat sebagian orang memilih jalan praktis: menyantap menu yang sama setiap hari. Padahal, pakar gizi menilai variasi menu justru diperlukan agar kebutuhan nutrisi lebih tercukupi.
Dietisien dan penulis Sugar Shock, Samantha Cassetty, menyebut mengkreasikan sarapan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Pendapat serupa disampaikan Scott Keatley, dietisien sekaligus co-owner Keatley Medical Nutrition Therapy. Menurutnya, variasi makanan membantu tubuh memperoleh vitamin, mineral, serta asupan sayur-sayuran. Ia juga menyatakan kebiasaan mengganti menu dapat mendukung peningkatan bakteri baik dalam tubuh.
Dari sisi psikologis, menu sarapan yang berbeda-beda dinilai dapat mencegah kebiasaan makan secara otomatis tanpa memikirkan kandungan gizi. Pola pikir ini dianggap penting agar makan tidak hanya berorientasi pada rasa dan rasa kenyang, tetapi juga pada manfaat kesehatan.
Para ahli menyebut sarapan ideal sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, dan serat. Dalam konteks menu Indonesia, Ratna Safitri, ahli gizi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, menilai sarapan ala Indonesia cenderung tinggi karbohidrat, seperti nasi goreng, nasi uduk, dan bubur ayam.
Ratna menjelaskan, menu tersebut banyak mengandung karbohidrat sederhana yang mudah dipecah tubuh sehingga dapat membuat seseorang lebih cepat merasa lapar. Ia mencontohkan karbohidrat sederhana antara lain nasi, gula, biskuit, dan roti tawar.
Menurutnya, sarapan yang lebih disarankan adalah yang mengandung karbohidrat kompleks dan tinggi protein, seperti kentang rebus, jagung, oatmeal, dan umbi-umbian. Ratna menyampaikan penjelasan itu pada Kamis, 11 September 2025.

