Berakhirnya libur Lebaran kerap membawa perubahan suasana yang tajam. Setelah hari-hari dipenuhi kebersamaan, kehangatan keluarga, dan ritme yang lebih santai, sebagian orang justru merasakan kekosongan saat kembali ke rumah yang sepi dan rutinitas kerja yang menumpuk. Kondisi ini dikenal sebagai post-holiday blues atau post-Ramadan blues.
Post-holiday blues merupakan kondisi emosional yang sering muncul setelah masa liburan berakhir. Keluhan yang dirasakan tidak selalu sebatas “malas” kembali bekerja, tetapi dapat berupa perasaan murung, kehilangan semangat, hingga kelelahan yang terasa nyata secara fisik maupun mental. Gejala yang umum antara lain perasaan hampa, motivasi menurun, kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur atau pola makan, serta kesulitan berkonsentrasi saat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Affective Disorders (Larsen dkk., 2019) mengaitkan perubahan suasana hati ini dengan beberapa faktor psikologis, seperti perubahan rutinitas yang drastis, ekspektasi tinggi terhadap liburan yang tidak selalu terpenuhi, serta tekanan saat kembali menghadapi pekerjaan atau tanggung jawab lain. Pada momen Lebaran, perasaan ini dapat terasa lebih kuat karena hari raya identik dengan nostalgia kampung halaman, kebersamaan keluarga, dan suasana spiritual selama Ramadan. Ketika fase tersebut selesai, sebagian orang merasakan “kekosongan” yang sulit dijelaskan.
Sejumlah faktor dapat memicu rasa hampa usai Lebaran. Pertama, perubahan rutinitas yang mendadak—dari pola tidur dan makan yang lebih bebas selama libur menjadi jadwal ketat dan target pekerjaan—sering membuat tubuh dan pikiran seperti “kaget” sehingga memunculkan stres dan kelelahan. Kedua, ekspektasi liburan yang tidak terpenuhi, misalnya perjalanan mudik yang melelahkan, rencana yang tidak berjalan lancar, atau adanya konflik keluarga, dapat menyisakan kekecewaan yang baru terasa setelah kembali ke rutinitas.
Selain itu, berakhirnya atmosfer Ramadan yang penuh makna juga dapat menimbulkan rasa kehilangan. Rutinitas ibadah yang intens dan suasana kolektif selama Ramadan kerap memberi rasa tujuan dan ketenangan; ketika intensitas itu menurun, sebagian orang merasa kehilangan pegangan. Faktor lain adalah kembalinya kehidupan yang lebih sepi setelah rumah dan kampung halaman tidak lagi ramai, terutama bagi perantau atau mereka yang tinggal sendiri. Tekanan finansial pasca-Lebaran—akibat pengeluaran mudik, belanja, konsumsi, hingga pemberian THR—juga dapat memicu stres. Di sisi lain, minimnya waktu untuk menyesuaikan diri karena harus langsung menghadapi pekerjaan pada hari-hari awal masuk kerja dapat membuat beban terasa semakin berat. Turunnya motivasi ibadah setelah Ramadan pun dapat menambah rasa bersalah atau kehilangan ritme, yang memperkuat gejala post-holiday blues.
Meski umumnya bukan gangguan psikologis berat, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas dan kesehatan mental bila dibiarkan berlarut-larut. Sejumlah langkah dapat dilakukan untuk membantu memulihkan semangat secara bertahap. Memberi waktu untuk beradaptasi kembali menjadi langkah awal, misalnya dengan memulai rutinitas lebih ringan dan mengembalikan pola tidur secara perlahan. Melanjutkan kebiasaan baik selama Ramadan, seperti membaca Al-Qur’an, menjaga ibadah, atau menjalankan puasa sunnah, juga dapat membantu menjaga kestabilan emosi dan rasa tujuan.
Upaya lain adalah membangun rutinitas baru yang bermakna, seperti belajar hal baru, mengikuti kajian, membaca, atau kegiatan sosial. Menjaga silaturahmi melalui pesan singkat atau panggilan video dapat mengurangi rasa sepi setelah kembali merantau. Dari sisi praktis, mengelola keuangan secara bijak dengan menyusun rencana pengeluaran pasca-Lebaran dapat membantu meredakan stres akibat beban finansial.
Di tengah rutinitas, kebahagiaan juga dapat dirawat lewat hal-hal kecil, seperti menikmati waktu pagi, berjalan sore, atau momen sederhana bersama keluarga. Menetapkan tujuan baru—baik target ringan maupun rencana yang lebih besar—dapat menjadi sumber motivasi. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, yoga, atau olahraga ringan juga dapat membantu memperbaiki suasana hati. Jika diperlukan, teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, journaling, atau mendengarkan musik dapat membantu mengelola stres.
Apabila perasaan sedih, cemas, atau kehilangan semangat tidak kunjung membaik, dukungan sosial maupun profesional dapat dipertimbangkan. Berbagi cerita dengan orang tepercaya atau berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah untuk mencegah kondisi memburuk dan membantu proses pemulihan.

