Ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bandar Raya, Kota Banda Aceh. Seiring bertambahnya jumlah dapur operasional, pasokan bahan pangan lokal dinilai semakin terbatas, sehingga pengelola dapur perlu mengambil langkah antisipatif agar program tetap berjalan.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang 1 Banda Raya, Nadia Maulida, menyampaikan bahwa persoalan pasokan menjadi kendala yang cukup signifikan di lapangan. Ia menilai meningkatnya jumlah dapur MBG di wilayah Banda Aceh berdampak pada menipisnya ketersediaan bahan lokal.
“Kalau di Bandar Raya tantangannya sejauh ini paling ketersediaan bahan baku. Semakin banyak dapur, bahan baku makin menipis,” kata Nadia dalam dialog bersama RRI Banda Aceh, Rabu (8/10/2025).
Selain kuantitas, kualitas bahan juga menjadi perhatian. Menurut Nadia, dapur terkadang menerima bahan yang tidak sesuai standar dan harus dikembalikan. Ia juga menyebut pasokan dapat datang tidak menentu, baik dari sisi waktu maupun mutu.
“Kadang terlambat, kadang cepat, kadang bagus, kadang tidak. Kalau kita bilang ini kurang bagus, kita minta yang baru, tapi jangan harap bisa dapat lagi. Mereka lebih utamakan dapur lain,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim pelaksana MBG di Bandar Raya mengedepankan langkah adaptif dengan memanfaatkan bahan yang tersedia terlebih dahulu. Jika pasokan utama tidak terpenuhi, penyelenggara disebut akan mencari alternatif secara mandiri.
Di tengah keterbatasan ini, Nadia berharap pemerintah daerah dapat meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk menjamin kelancaran program MBG, terutama dalam penyediaan bahan pangan lokal yang berkualitas. Koordinasi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program serta memastikan asupan gizi bagi penerima manfaat, termasuk ibu hamil, balita, dan peserta didik.

