Museum Nasional Indonesia menghadirkan pameran bertajuk “Kenduri Budaya Pangan Lokal” yang mengajak pengunjung menelusuri kekayaan pangan Indonesia, mulai dari rempah-rempah dapur Nusantara hingga beragam olahan pangan. Pameran yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan ini digelar di tengah ruang-ruang sejarah Museum Nasional dan menarik perhatian pengunjung lintas generasi, termasuk turis asing.
Selain menampilkan keragaman rempah, pameran turut menghadirkan produk-produk UMKM yang menawarkan olahan unik. Sejumlah produk seperti sirup mawar hingga susu nabati dipamerkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan cita rasa warisan Nusantara kepada masyarakat.
Salah satu penjaga stan produk jamu, Cecil, mengatakan antusiasme publik terlihat sejak hari pertama. Ia menampilkan varian jamu yang dikenal luas, seperti beras kencur dan kunyit asam. “Selama ini dari hari pertama bisa dibilang ramai,” ujarnya kepada RRI Pro 3, Kamis (16/10/2025). Menurut Cecil, pameran ini menjadi momen penting untuk mengedukasi masyarakat mengenai keistimewaan khasiat racikan rempah Nusantara, termasuk jamu.
Tak hanya minuman tradisional, pameran juga memajang bahan mentah dan kuliner siap saji yang menjadi perhatian pengunjung. Produk seperti sorgum, keripik mawar, hingga tepung tapioka ditawarkan sebagai hasil panen yang dijual langsung oleh petani lokal melalui kios-kios UMKM.
Rodi, pegawai swasta asal Tangerang, mengaku tertarik pada sorgum sebagai alternatif pengganti nasi. “Memang bahan pangan ini belum banyak yang menggunakannya,” ujarnya. Ia menilai pengenalan sorgum masih menjadi tantangan karena masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi nasi. “Semoga saja ada perubahan, terutama untuk pangan lokalnya,” katanya.
Kemeriahan pameran turut dilengkapi dengan sesi bertema “Semai: Menabur Benih, Menuai Kehidupan”. Dalam bagian ini, rempah-rempah disajikan di meja peraga agar dapat disentuh langsung oleh pengunjung, sehingga pengalaman mengenal bahan pangan tidak hanya melalui visual, tetapi juga melalui interaksi langsung.
Salah satu preparator Museum Nasional, Jida, menyampaikan rasa syukurnya melihat tingginya minat pengunjung. “Ini kesempatan Museum Nasional memperkenalkan pangan lokal kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya. Ia juga menyebut metode peragaan yang memungkinkan pengunjung melihat dan menyentuh rempah mendapat tanggapan positif dari sekolah-sekolah yang berkunjung. “Ada feedback dari guru bahwa ini sangat insightful dengan menunjukkan langsung rempah-rempah itu sendiri,” katanya.
Jida berharap pameran ini meninggalkan kesan mendalam dan menumbuhkan kebanggaan terhadap pangan lokal. “Harapannya semoga masyarakat kita menjadi lebih bangga pada pangan lokal,” ujarnya.

