BERITA TERKINI
Pakar Nilai Ucapan Luhut soal Non-Jawa Jangan Maksa Jadi Presiden sebagai Opini Pribadi

Pakar Nilai Ucapan Luhut soal Non-Jawa Jangan Maksa Jadi Presiden sebagai Opini Pribadi

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan mengenai “kalau bukan orang Jawa jangan maksa jadi presiden” menuai sorotan publik. Pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai ucapan Luhut tersebut merupakan opini dan refleksi pribadi, bukan ajakan untuk membatasi hak politik pihak lain.

“Opini pribadi untuk dirinya pribadi, tapi saya membenarkan orang lain yang mengatakan, ‘Pak, jangan begitu, Pak,’” kata Effendi kepada wartawan, Sabtu (24/9/2022).

Menurut Effendi, konteks pernyataan itu berkaitan dengan cara Luhut mengukur dirinya sendiri. Ia menilai Luhut sedang melakukan perenungan atas posisinya sebagai “double minoritas”, yakni bukan berasal dari suku Jawa dan bukan beragama Islam.

“Sebetulnya dia mau bilang saya yakin betul dia pribadi karena double minoritas, yaitu bukan Jawa, bukan Islam, maka nggak usahlah berpikir untuk menjadi presiden, bahkan disebut di situ istrinya juga bilang mau ngapain lagi sih,” ujar Effendi.

Effendi menambahkan, dalam konteks tersebut publik tidak bisa serta-merta menilai Luhut sedang mengadu domba antargolongan. Meski begitu, ia tidak mempersoalkan bila ada pihak yang memiliki interpretasi berbeda.

“Untuk Pak Luhut, kita nggak bisa mengatakan, ‘Pak Luhut, Anda mengadu antargolongan’. Nggak. Bagi dirinya sendiri interpretasinya ‘saya double minority,’” kata Effendi.

Namun Effendi juga menilai wajar bila ada yang mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri sesuai aturan perundang-undangan. “Tapi orang lain juga boleh bilang, ‘Pak, jangan begitu, Pak, melemahkan semangat yang lain karena menurut undang-undang kita siapa pun warga negara, suku apa pun, agama apa pun, selagi dia WNI, berhak untuk mengajukan diri,’” ujarnya.

Pernyataan Luhut itu disampaikan saat berbincang dengan Rocky Gerung dalam kanal YouTube RGTV, dalam pembahasan mengenai penerus Presiden Joko Widodo pada 2024. Dalam percakapan tersebut, Luhut menilai banyak orang ambisius ingin menjadi presiden, padahal pengabdian kepada negara tidak harus melalui jabatan tersebut.

“Saya berkali-kali bilang, ‘Apa mesti jadi presiden ngabdi itu?’” kata Luhut. Ia juga menyebut pentingnya mengenali diri sendiri sebelum mengejar ambisi politik.

Dalam bagian lain percakapan, Luhut menyampaikan pandangannya tentang peluang menjadi presiden dalam konteks pemilihan langsung saat ini. “Kalau Anda bukan orang Jawa, pemilihan langsung hari ini, saya nggak tahu 25 tahun lagi. Sudah, lupain deh, nggak usah kita memaksakan diri kita,” ujar Luhut.

Rocky Gerung menanggapi pernyataan itu dengan menyebutnya benar dari sudut pandang antropologi. Luhut kemudian mengamini dan menyatakan dirinya mengurungkan ambisi menjadi presiden karena merasa sebagai minoritas. “Saya double minoritas, saya sudah Batak, Kristen lagi. Jadi saya bilang, sudah cukup itu,” ucapnya.

Terpisah, juru bicara Luhut, Jodi Mahardi, menjelaskan maksud pernyataan tersebut. Menurutnya, bila percakapan dilihat secara utuh, Luhut sedang menekankan pentingnya mengukur diri dan pernyataan itu merupakan refleksi terhadap dirinya sendiri, bukan ditujukan untuk orang lain.

“Tidak ada tendensi atau maksud politik macam-macam,” kata Jodi saat dihubungi, Jumat (23/9/2022).