Suasana senja di kawasan Sendang, tepian Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, menjadi latar bagi pengalaman berbuka puasa yang memadukan pemandangan air waduk dan deretan warung makan yang mulai ramai ketika cahaya mulai meredup. Di tengah perubahan suasana dari terang ke gelap, lampu-lampu warung tampak menonjol dan menghadirkan kesan hangat bagi pengunjung yang datang menjelang waktu berbuka.
Dalam tulisan perjalanan ini, Sendang digambarkan sebagai ruang hidup yang terus bergerak. Penulis menautkan keberadaan warga dengan waduk, melalui ungkapan bahwa ketika tanah hilang, air menjadi sumber penghidupan yang membuat masyarakat tetap bertahan.
Menjelang beduk terdengar, momen berbuka dimulai. Di atas meja kayu sederhana, terdapat tiga menu yang disebut sebagai sajian utama. Pertama, nila bakar khas Wonogiri yang ikannya diambil dari karamba di waduk. Ikan dibakar perlahan di atas bara arang kayu, dengan aroma panggangan yang kuat dan balutan bumbu kecap rempah yang mengaramelisasi permukaan hingga kecokelatan.
Kedua, pepes nila yang digambarkan sebagai sajian dengan proses yang menuntut kesabaran. Ikan dibungkus daun pisang, dipadukan dengan bumbu kuning berisi kunyit, kemiri, irisan cabai, serta kemangi. Teksturnya disebut lembut, dengan rasa gurih dan asam yang meresap.
Ketiga, air kelapa muda yang disajikan langsung dalam tempurung hijau. Minuman ini digambarkan dingin alami, dengan manis yang tipis, dan memberi kesegaran saat berbuka.
Selain tiga menu tersebut, penulis juga menyebut adanya pilihan olahan nila lain, mulai dari digoreng hingga asam manis. Ada pula wader goreng yang disebut menggoda untuk dijadikan pelengkap.
Di luar soal makanan, pengalaman berbuka di tepian waduk ini ditonjolkan melalui suasana tempatnya. Rumah makan di kawasan tersebut tidak menawarkan kemewahan interior modern, melainkan menghadirkan kesederhanaan yang dinilai jujur. Dalam pengamatan penulis, suasana itu mempertemukan berbagai kalangan, dengan keluarga-keluarga yang duduk bersama, anak-anak bermain di selasar, serta percakapan yang mengalir tanpa hiruk-pikuk lalu lintas perkotaan.
Berbuka di pinggir Waduk Gajah Mungkur digambarkan sebagai momen jeda, ketika pengunjung menikmati kebersamaan, makanan segar, dan pemandangan alam. Penulis juga mengajak pembaca untuk singgah saat melintas di Kabupaten Wonogiri, memilih tempat duduk lesehan yang dekat dengan air, serta menikmati suasana senja di tepian waduk.
Dalam penutupnya, tulisan ini menekankan ajakan untuk datang bukan sekadar sebagai pembeli, tetapi sebagai tamu yang menghargai kisah dan kehidupan warga setempat. Penulis menggambarkan bahwa hidangan sederhana seperti sepiring nila dan segelas air kelapa dapat terasa istimewa ketika dinikmati di bawah langit Wonogiri yang perlahan menggelap.

