BERITA TERKINI
Menikmati Buka Puasa di Tepian Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, dari Nila Bakar hingga Air Kelapa Muda

Menikmati Buka Puasa di Tepian Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, dari Nila Bakar hingga Air Kelapa Muda

Senja di kawasan Sendang, tepian Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, menghadirkan suasana khas yang kerap menjadi tujuan warga untuk menunggu waktu berbuka. Saat cahaya mulai redup, deretan warung dan rumah makan di pinggir waduk tampak menonjol, menjadi penanda aktivitas yang tetap hidup di tengah perubahan yang pernah dialami masyarakat setempat.

Dalam narasi yang berkembang di kalangan warga, air waduk dipandang sebagai sumber penghidupan. “Jika tanah adalah tubuh, maka air adalah nyawa. Warga Sendang kehilangan tanahnya, namun mereka berhasil mencuri nyawa dari air tersebut untuk terus berdiri tegak,” demikian penggalan ungkapan yang menggambarkan bagaimana masyarakat bertahan dengan memanfaatkan sumber daya perairan.

Ketika beduk terdengar dari kejauhan, momen berbuka dimulai. Di meja-meja kayu sederhana, sejumlah menu menjadi pilihan utama. Salah satunya nila bakar khas Wonogiri, dengan ikan yang disebut diambil dari karamba yang mengapung di waduk. Ikan dibakar perlahan di atas bara arang kayu, lalu dipoles bumbu kecap rempah hingga permukaan tampak kecokelatan.

Pilihan lain adalah pepes ikan yang dibungkus daun pisang. Olahan ini menonjolkan bumbu kuning dengan campuran kunyit, kemiri, irisan cabai, dan kemangi, menghadirkan rasa gurih dengan sentuhan asam.

Untuk melengkapi hidangan, air kelapa muda kerap menjadi penawar rasa. Minuman ini disajikan langsung dalam tempurung kelapa, dengan karakter dingin alami dan manis tipis yang menyegarkan.

Selain tiga menu tersebut, rumah makan di tepian waduk juga menyediakan variasi olahan nila lainnya, mulai dari digoreng hingga asam manis. Ada pula ikan wader goreng yang kerap dipilih sebagai pelengkap santap.

Suasana di kawasan ini cenderung bersahaja. Rumah makan tidak menonjolkan kemewahan interior, tetapi menawarkan pengalaman makan dengan pemandangan waduk. Di beberapa tempat, pengunjung dapat memilih posisi lesehan dekat air, menikmati waktu berbuka bersama keluarga dalam suasana yang relatif tenang.

Bagi sebagian pengunjung, berbuka di pinggir Waduk Gajah Mungkur menjadi jeda dari rutinitas. Pemandangan air yang luas, senja yang merayap, serta sajian ikan segar dan minuman sederhana menjadi daya tarik utama yang membuat kawasan ini terus didatangi saat Ramadan.