Perasaan bersalah umumnya muncul ketika seseorang menyadari telah melakukan kesalahan. Namun, ada kondisi lain yang lebih dalam dan menggerus cara pandang terhadap diri sendiri: rasa malu beracun (toxic shame). Dalam situasi ini, seseorang bukan hanya merasa melakukan kesalahan, melainkan merasa dirinya adalah kesalahan itu sendiri.
Rasa malu yang sehat dapat berperan sebagai pengingat untuk bertanggung jawab dan memperbaiki diri. Berbeda dengan itu, toxic shame menyerang jati diri, bukan sekadar tindakan. Dampaknya dapat memunculkan lingkaran kritik batin, rasa tidak aman, dan penghakiman terhadap diri yang berlangsung terus-menerus, hingga membuat seseorang merasa tidak layak dicintai atau dimaafkan.
Artikel yang dirangkum dari kanal YouTube Psych2Go pada Sabtu (26/07) mengajak pembaca mengenali sejumlah ciri toxic shame serta langkah untuk mulai memulihkan luka batin. Salah satu ciri yang disebutkan adalah kecenderungan menyembunyikan diri yang sejati.
Pada ciri ini, seseorang merasa perlu menutupi bagian dirinya yang paling otentik karena takut ditolak. Kebiasaan tersebut, menurut artikel, dapat terbentuk sejak kecil, misalnya dari pengalaman ditolak atau sering dikritik oleh orang-orang terdekat. Ketika seseorang terus menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya, rasa malu beracun dapat semakin menguat.
Dalam jangka panjang, kondisi itu digambarkan seperti bayangan yang terus mengikuti dan membisikkan keyakinan bahwa diri tidak cukup baik untuk dicintai. Akibatnya, seseorang dapat hidup dalam kecemasan sosial dan menjalin hubungan yang tidak autentik.

