BERITA TERKINI
Mengenal Delayed Grief: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Mengenal Delayed Grief: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Rasa duka umumnya muncul setelah seseorang mengalami kehilangan besar, termasuk kematian orang terdekat. Namun, tidak semua orang merasakan kesedihan itu secara langsung. Pada sebagian kasus, duka justru baru terasa setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian. Kondisi ini dikenal sebagai delayed grief atau kesedihan yang tertunda.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Psych Central, kesedihan tidak selalu bisa diprediksi dan tidak mengikuti pola yang sama pada setiap orang. Psikiater sekaligus Direktur Medis di MidCity TMS New York, dr Bryan Bruno, menyebut proses berduka tidak memiliki aturan baku dan bukan proses yang linier. Artinya, seseorang bisa tampak baik-baik saja setelah kehilangan, tetapi kemudian merasakan duka seolah peristiwa itu baru terjadi.

Apa itu delayed grief?

Delayed grief adalah kondisi ketika seseorang yang berduka tidak tampak sedang berduka atau belum mampu memproses reaksinya secara utuh. Hal ini dapat terjadi karena perasaan terkejut, pikiran yang terasa “sibuk”, atau kondisi kewalahan, sehingga emosi tertahan dan baru muncul jauh setelah kejadian berlangsung.

Kondisi ini dapat memengaruhi siapa saja, termasuk orang yang tidak menunjukkan duka segera setelah kehilangan, maupun mereka yang sudah sempat berduka tetapi mengira dirinya mulai pulih. Bruno menjelaskan bahwa meski waktu telah berlalu, kesedihan masih dapat terasa kuat.

Kesedihan tertunda juga dapat berkaitan dengan kesedihan yang tidak terungkap atau kesedihan traumatis, misalnya akibat kekerasan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini disebut dapat menjadi faktor risiko kesedihan berkepanjangan yang dapat memicu tindakan bunuh diri.

Penyebab delayed grief

Secara umum, delayed grief terjadi ketika seseorang belum mampu memproses keterkejutan atas kehilangan pada saat peristiwa itu terjadi. Beberapa pemicu yang kerap menyertai antara lain:

1. Kewajiban atau kesibukan setelah kehilangan

Kewajiban sosial atau profesional dapat membuat seseorang menahan emosi agar tetap berfungsi dan “melewati” situasi. Misalnya, seseorang sibuk mengurus pemakaman atau cemas menghadapi tekanan finansial mendadak, sehingga duka tidak sempat diproses.

2. Tidak memiliki waktu dan ruang

Kesedihan tertunda sering muncul ketika seseorang akhirnya memiliki waktu, ketenangan, dan ruang untuk menghadapi kehilangan serta perasaan yang selama ini ditekan. Pada fase ini, tubuh dinilai mulai merasa cukup aman untuk merasakan emosi secara penuh.

3. Tiba-tiba teringat

Duka juga dapat muncul kembali ketika seseorang mendadak teringat pada kehilangan tersebut. Ingatan itu bisa memicu kesedihan yang kuat, meski peristiwanya sudah lama berlalu.

Gejala delayed grief

Kesedihan merupakan reaksi yang kuat dan beragam, sehingga gejalanya tidak selalu sama pada setiap orang. Namun, sejumlah tanda yang kerap muncul meliputi:

Kenangan berulang tentang kehilangan; sering bermimpi atau mengalami mimpi buruk tentang orang yang telah meninggal; sulit tidur; perasaan sedih yang kuat; rasa rindu; merasa sendiri; mudah marah; sulit berkonsentrasi; energi rendah; kelelahan; rasa sakit dan nyeri; cemas; perubahan suasana hati; perubahan nafsu makan; serta perasaan apatis.

Cara mengatasi delayed grief

1. Memberi waktu untuk merasakan sedih

Memberi diri sendiri waktu untuk merasakan emosi yang muncul disebut sebagai langkah penting. Tidak ada batas waktu baku untuk “melupakan” kehilangan. Memberi ruang bagi emosi dapat menjadi awal proses penyembuhan. Dalam masa ini, seseorang juga dapat mempertimbangkan untuk menunda keputusan besar dalam hidup karena kondisi emosional yang belum stabil merupakan hal yang wajar.

2. Merawat diri sendiri

Menjaga kesehatan dan bersikap sabar terhadap diri sendiri dapat membantu menghadapi masa berduka. Upaya merawat diri menjadi bagian penting ketika emosi terasa berat.

3. Mencari dukungan dari orang lain

Meminta dukungan tidak dianggap sebagai kelemahan. Seseorang dapat mulai berbicara dengan sahabat atau keluarga dekat, menulis catatan pribadi, atau bergabung dengan komunitas yang memiliki pengalaman serupa.

4. Terapi

Jika kesedihan tertunda terasa sulit dihadapi, bantuan profesional seperti psikolog dapat dipertimbangkan. Disebutkan pula, bila perasaan ini mengganggu selama lebih dari dua minggu, kondisi tersebut dapat mengarah pada depresi sehingga memerlukan terapi dan pengobatan yang tepat.