BERITA TERKINI
Mengelola Rasa Insecure di Usia 30: Psikolog Sarankan Fokus pada Tujuan Hidup Sendiri

Mengelola Rasa Insecure di Usia 30: Psikolog Sarankan Fokus pada Tujuan Hidup Sendiri

Perasaan insecure rentan dialami sebagian orang saat memasuki usia 30 tahun, terutama ketika menyaksikan teman seusianya terlihat lebih sukses. Di masyarakat, berkembang stigma bahwa usia kepala tiga semestinya menjadi awal kesuksesan, mulai dari pendidikan, kemapanan karier, kondisi finansial, hingga kehidupan berkeluarga.

Namun, anggapan itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang masih harus berjuang meski usianya dianggap matang. Sebagian masih terjebak pada pekerjaan bergaji rendah, belum menemukan pasangan hidup, atau merasa kariernya tidak berkembang. Situasi tersebut kerap memicu rasa cemas, stres, tertekan, dan rendah diri ketika melihat orang-orang di sekitar berada dalam kondisi yang dinilai lebih baik.

Kebiasaan memamerkan pencapaian di media sosial juga dapat memperkuat perasaan frustrasi. Unggahan teman sekolah tentang momen liburan atau capaian pribadi, misalnya, bisa memunculkan rasa iri dan membandingkan diri.

Grup Fasilitator dan Konselor Layanan Psikologi Ruang Jiwa, Nurhalimah Br Siregar S.Psi, menyarankan agar perasaan insecure dikelola dengan kembali berfokus pada tujuan hidup masing-masing. Dalam acara Kind of Talks bertajuk “Umur 30 tapi Masih Gini-Gini Aja?”, ia menekankan bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri. Menurutnya, pencapaian orang lain tidak perlu menjadi alasan untuk merasa down, melainkan dapat dijadikan pengingat untuk tetap bersemangat mengejar tujuan pribadi.

Psikolog yang akrab disapa Imah itu menjelaskan, seseorang bisa saja mencapai kesuksesan lebih dulu karena lebih mampu menempatkan prioritas dan menyusun strategi. Namun, hal tersebut tidak berarti orang lain tidak akan mengalami hal serupa. Ia juga menganjurkan agar individu lebih jeli melihat peluang yang dapat mendukung pencapaian tujuan, dengan tetap menyesuaikannya pada kemampuan serta tanggung jawab yang sedang diemban.

Selain berfokus pada tujuan hidup, Imah mengingatkan pentingnya bersyukur atas apa yang dimiliki. Ia menilai, membandingkan diri—terutama jika hanya menghasilkan rasa tidak aman—tidak membawa manfaat. Menurutnya, kesuksesan bukan diukur dari hasil yang diadu dengan orang lain, melainkan dari kemampuan mencapai tujuan diri sendiri, bukan target milik orang lain.

Imah juga berpendapat tidak ada patokan target tertentu yang wajib dicapai pada usia 30 tahun atau pada usia berapa pun, kecuali jika seseorang benar-benar tidak melakukan apa-apa sepanjang hidupnya. Ia menyarankan agar orang menentukan apa yang ingin dicapai pada fase usia tertentu, lalu berusaha mewujudkannya dengan menetapkan tujuan dan meningkatkan hal-hal yang masih bisa diperbaiki.

Dalam kesempatan yang sama, disampaikan pula gambaran mengenai Sehat Jiwa dan Bahagia, sebuah usaha sosial yang berangkat dari gagasan bahwa semua jiwa berharga, berhak bahagia, dan dapat berdaya dalam kehidupannya. Salah satu upayanya adalah membentuk layanan Kelompok Dukungan Psikososial Ruang Jiwa, yang mengelompokkan anggota berdasarkan rentang usia serta ketertarikan atau hobi, bukan berdasarkan gangguan atau masalah yang dimiliki. Pengaturan ini didasarkan pada pandangan bahwa anggota dapat saling mendukung dan memberi perspektif baru dalam menghadapi persoalan.

Anggota kelompok juga mendapatkan akses ke Well-Being Curriculum yang ditujukan untuk membantu mencapai kondisi hidup yang bermakna dan bahagia. Layanan tersebut dapat diakses melalui media sosial @ruangjiwa_id dan @sehatjiwa.id.