Seseorang yang didiagnosis diabetes kerap mengeluhkan rasa lapar berlebihan dan nafsu makan meningkat. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai polifagia atau hyperphagia.
Secara umum, peningkatan rasa lapar bisa muncul sebagai respons terhadap aktivitas fisik, seperti olahraga atau kerja berlebihan. Pada beberapa kasus, polifagia juga dapat terjadi sebagai respons terhadap masalah yang lebih serius, misalnya depresi.
Pada penderita diabetes, gejala utama polifagia adalah rasa lapar yang berlebihan hingga sulit merasa kenyang meski sudah makan. Akibatnya, pasien bisa makan lebih banyak dari biasanya. Kondisi ini juga kerap disertai keluhan lain, seperti rasa haus berlebihan dan sering buang air kecil (poliuria).
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, menjelaskan bahwa rasa lapar dan kenyang berkaitan dengan neurotransmitter, yakni senyawa kimia yang membawa pesan antar sel saraf di otak. Menurutnya, diabetes dapat mengganggu kerja neurotransmitter tersebut sehingga penderita menjadi lebih sering lapar dan sulit merasa kenyang.
Selain faktor neurotransmitter, rasa lapar berlebihan pada diabetes juga berkaitan dengan masalah insulin. Ketika tubuh tidak dapat memproduksi atau memanfaatkan insulin dengan baik, glukosa dapat bertahan lebih lama di aliran darah dan kemudian dikeluarkan. Kondisi ini membuat sel-sel tubuh tidak memperoleh energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ. Saat itulah sel-sel tubuh mengirim sinyal agar seseorang terus makan demi mendapatkan glukosa yang cukup.
Polifagia tidak dianjurkan untuk dianggap sepele. Bila rasa lapar berlebihan diduga berkaitan dengan diabetes, pasien disarankan berkonsultasi dengan dokter. Eliana juga menyarankan pasien tetap membatasi konsumsi makanan, misalnya dengan makan sedikit demi sedikit atau memberi jeda, dibanding langsung makan dalam porsi besar.
Selain mengatur pola makan, penderita diabetes juga dianjurkan memantau dan menjaga kadar gula darah. Eliana menekankan bahwa diabetes tidak bisa disembuhkan, tetapi dapat dicegah dan, bila sudah terdiagnosis, perlu dijaga agar tidak memburuk maupun menimbulkan komplikasi. Karena itu, mengontrol dan menjaga gula darah tetap normal menjadi hal yang wajib, disertai perhatian pada gaya hidup.

