Awal tahun kerap menjadi momen banyak orang merapikan lemari pakaian. Namun, kebiasaan menyingkirkan baju lama dengan cara “asal donasi” ternyata tidak selalu berakhir baik. Penulis buku Consumed, Aja Barber, mengingatkan bahwa karena pakaian diproduksi massal, barang yang disumbangkan ke amal sering kali tidak terjual kembali. Menurutnya, sebagian besar pakaian sumbangan berisiko berakhir di tempat pembuangan sampah atau diekspor ke negara-negara seperti Ghana, Kenya, dan Uganda dalam apa yang ia sebut sebagai rantai “kolonialisme limbah” — sebuah praktik yang pada akhirnya dapat memicu polusi.
Di sisi lain, melepas pakaian yang sudah tidak dipakai memang tak terhindarkan. Karena itu, sejumlah opsi bisa dipilih agar proses bersih-bersih lemari lebih bertanggung jawab, mulai dari menjual kembali, berdonasi dengan benar, memperbaiki, hingga mendaur ulang.
1. Menjual kembali (resale)
Tren belanja barang bekas terus menguat. Sebuah laporan terbaru menyebut dua pertiga konsumen Inggris membeli barang bekas secara online pada 2024, didorong krisis biaya hidup dan kekhawatiran terhadap lingkungan. Model sekaligus advokat mode berkelanjutan Brett Staniland mengatakan Vinted menjadi pilihannya karena kemudahan aplikasi, sementara merek pakaian pria klasik cenderung lebih baik dijual lewat Marrkt.
Direktur gaya bekas eBay UK, Amy Bannerman, menekankan pentingnya presentasi. Ia menyarankan foto yang kuat dengan cahaya alami, menampilkan kerusakan atau cacat secara jelas, serta mencantumkan ukuran dengan pengukuran untuk menghindari perbedaan. Ia juga menyarankan penjual membandingkan harga dengan barang serupa yang sudah terjual, serta memasarkan barang dalam “ledakan” agar ada lebih banyak item yang dijual sekaligus. Informasi seperti ukuran, merek, dan kondisi sebaiknya masuk judul agar memudahkan pembeli.
Soal jenis barang yang cepat laku, Bannerman dan Staniland sepakat kualitas menjadi kunci, dan aksesori sering diminati. Bannerman menyoroti barang bernilai tinggi seperti tas tangan mewah dan perhiasan yang kadang bisa meningkat nilainya. Staniland menambahkan topi, sepatu, dan tas termasuk kategori yang cepat terjual, begitu juga pakaian rajut—terutama kardigan wol besar berbahan serat alami 100%.
2. Donasi, tetapi jangan jadikan “tempat buang”
Donasi ke toko amal memang terasa praktis dan memungkinkan orang mendukung tujuan sosial tertentu. Namun, presenter TV sekaligus pendukung belanja amal Jen Graham (dikenal sebagai Charity Shop Girl) mengingatkan bahwa barang yang tidak layak jual justru membebani badan amal karena mereka harus membayar biaya pembuangan. Ia menyebut contoh barang yang sebaiknya tidak disumbangkan: pakaian kotor, bernoda, berbau, memiliki noda keringat yang terlihat, kerusakan jelas, ketiak menguning, noda makeup tebal, atau bau lembap dan berjamur.
Graham mengusulkan patokan sederhana: jika Anda tidak akan memberikannya kepada seorang teman, jangan sumbangkan. Ia juga menyarankan sumbangan dikemas rapi agar tidak basah atau rusak, serta tidak memasukkan terlalu banyak dalam satu tas karena pakaian yang hancur akan terlihat lebih buruk dan bisa rusak dalam perjalanan. Menurutnya, toko amal bergantung pada barang yang benar-benar akan dipakai ulang; kualitas lebih penting daripada merek. Sepatu olahraga, sepatu bot, sepatu sekolah, sepatu kerja, serta aksesori seperti syal, tas tangan, ikat pinggang, dan perhiasan dinilai termasuk yang laris—asal kondisinya baik.
3. Perbaiki sebelum menyerah
Tidak semua orang bisa menjahit atau memperbaiki pakaian sendiri, sementara layanan perbaikan lokal kadang sulit ditemukan. Layla Sargent, pendiri platform perbaikan dan penjahit nasional the Seam, mengatakan banyak usaha penjahit dan perbaikan merupakan operasi satu orang yang bekerja secara offline dan mengandalkan rekomendasi mulut ke mulut. Keterampilannya ada, tetapi sering tidak terlihat dan belum tertata untuk pemesanan serta komunikasi modern, sehingga sulit diakses.
Beberapa layanan yang disebut dalam panduan ini antara lain the Seam yang mencocokkan pelanggan dengan pembuat terampil sesuai kebutuhan, Boot Repair Company yang berbasis di Leeds dan menerima sepatu serta bot via pos dari seluruh negeri, serta Sojo yang menawarkan layanan perbaikan dan penyesuaian dari pintu ke pintu maupun di toko di Selfridges.
4. Daur ulang: pilihan terakhir, tetapi pastikan jalurnya jelas
Secara global, hanya 1% tekstil didaur ulang menjadi produk tekstil baru. Sebagian besar pakaian yang sudah aus berakhir di tempat pembuangan sampah atau didaur ulang menjadi produk lain seperti kain lap dan insulasi. Salah satu masalahnya, banyak orang menyerah pada pakaian terlalu cepat. Sargent menyebut hanya sedikit item yang benar-benar “terlalu rusak”, karena sering kali yang tampak tidak bisa dipakai sebenarnya hanya membutuhkan tangan yang tepat—mulai dari rajutan yang “disulap”, jeans yang diperkuat agar bertahan bertahun-tahun, hingga mantel yang dilapis ulang ketika kain luarnya masih bagus.
Jika pakaian memang sudah waktunya dilepas, ada opsi yang dinilai lebih baik daripada membuang ke tempat sampah atau bank daur ulang tekstil. Salah satunya, pakaian 100% katun dapat dikirim ke Isle of Wight untuk benar-benar didaur ulang menjadi pakaian baru melalui program Remil dari Teemill. Program ini menerima barang yang memiliki label kredensial katun (tidak termasuk pakaian dalam dan jeans) dan dilaporkan mendaur ulang lebih dari 14.000 kg katun pada 2025. Bahan daur ulang kemudian dibuat menjadi pakaian untuk pengguna platform cetak sesuai permintaan dan merek mode Rapanui; para pengirim pakaian lama juga menerima voucher.
Untuk berbagai jenis barang, Reskinned bermitra dengan sejumlah merek, termasuk Finisterre, Passenger, dan Sweaty Betty. Melalui skema Takeback, Reskinned menyatakan barang yang diterima akan diperbaiki dan dijual kembali atau didaur ulang, serta tidak dikirim ke tempat pembuangan sampah.
5. Restyling dan repurposing
Jika masalahnya bukan hanya “terlalu banyak”, melainkan gaya yang terasa mentok, Bannerman menyarankan mencoba kembali padu padan dari yang sudah dimiliki, lalu berinvestasi pada satu item yang bisa “menghidupkan” keseluruhan lemari. Ia mencontohkan pembelian blazer hangat tebal dari eBay yang membuat lemari terasa diperbarui, lalu dipadukan dengan celana Levi’s gelap potongan lurus dan lapisan pakaian yang nyaman.
Ketika sebuah item tidak lagi cocok, pilihan lain adalah mengubahnya menjadi barang baru. Para pembuat di aplikasi Loom disebut terampil mengubah gaun pengantin menjadi busana sehari-hari atau mentransformasi pakaian lama menjadi produk lain—misalnya pinafore suede lama yang diubah menjadi tas jinjing. Sementara itu, item berharga yang sudah aus dapat dikirim ke Re_Considered untuk dibuat menjadi produk khusus seperti penyangga lilin atau tempat perhiasan, menggunakan material Fabreco yang terbuat dari tekstil limbah dan bio-resin.
Dengan mempertimbangkan opsi-opsi tersebut, bersih-bersih lemari tidak harus berakhir pada rasa bersalah—atau pada tumpukan pakaian yang berpindah masalah dari satu tempat ke tempat lain. Kuncinya adalah memilih jalur yang paling masuk akal: jual kembali bila masih layak, donasikan dengan standar yang pantas, perbaiki jika memungkinkan, dan daur ulang lewat skema yang jelas.

