Fatphobia kerap disebut sebagai salah satu bentuk stigma yang berdampak negatif pada banyak orang, khususnya mereka yang bertubuh besar. Isu ini belakangan juga sempat disorot di media sosial, termasuk melalui unggahan Instagram Britney Spears yang diduga menyinggung fatphobia. Lalu, apa yang dimaksud dengan fatphobia, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana cara melawannya?
Menurut Body Matters, fatphobia adalah rasa takut dan stereotip yang melekat pada orang-orang bertubuh besar, sekaligus bias terhadap mereka. Penulis sekaligus pembawa acara podcast The Rebel Eaters Club, Virgie Tovar, menjelaskan fatphobia sebagai bentuk kefanatikan dan diskriminasi yang memandang orang gemuk lebih rendah—baik secara fisik, intelektual, moral, maupun kesehatan.
Dalam praktiknya, stigma ini sering muncul dalam anggapan bahwa orang gemuk identik dengan sifat malas atau tidak disiplin, serakah atau egois, tidak pantas mendapatkan hal-hal yang bisa dimiliki orang lain, hingga dianggap bertanggung jawab secara pribadi atas masalah kesehatan apa pun yang dialami.
Fatphobia juga tidak hanya terjadi pada tingkat individu. Bias ini dapat tercermin dalam komunitas secara luas, termasuk lewat kebijakan dan praktik yang meminggirkan orang dengan tubuh lebih besar.
Sejumlah faktor disebut turut memicu fatphobia. Mengutip Good Housekeeping, salah satunya berkaitan dengan sejarah dan kelas sosial. Mary Himmelstein, asisten profesor di Kent State University yang meneliti dampak stigma berat badan terhadap kesehatan masyarakat, menyebut bahwa pada masa makanan masih langka, berat badan pernah dipandang sebagai sesuatu yang positif karena dianggap merepresentasikan kekayaan dan kelas.
Namun, kondisi saat ini berbeda. Bagi kelompok berpenghasilan rendah, pilihan makanan yang paling mudah diakses dan terjangkau cenderung berupa makanan padat kalori. Dalam konteks tersebut, Himmelstein menambahkan bahwa tubuh kurus kemudian kerap dipersepsikan sebagai simbol kelas atas.
Tovar juga menilai fatphobia berhubungan dengan kontrol sosial. Ada keyakinan bahwa dengan berdiet atau makan dengan cara tertentu, seseorang bisa mengendalikan kesehatan dan menentukan berapa lama akan hidup. Menurutnya, keyakinan ini tidak benar dan sering kali sulit diterima, terutama oleh mereka yang tidak menyadari adanya budaya diet yang keliru atau menyesatkan.
Dampak fatphobia terhadap individu dinilai serius. Pengalaman mengalami stigma dapat membuat seseorang menginternalisasi penilaian orang lain, sehingga memengaruhi cara memandang diri sendiri. Bias berat badan yang terinternalisasi bisa dialami oleh berbagai usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan etnis. Namun, penelitian menunjukkan dampaknya dapat lebih besar pada mereka yang memiliki berat badan lebih tinggi, perempuan, dan orang muda.
Bias yang terinternalisasi tersebut dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental. Sejumlah dampak yang kerap dikaitkan antara lain meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh dan citra diri negatif, depresi dan kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, pola makan yang tidak teratur, kecenderungan menghindari olahraga atau aktivitas fisik, serta perasaan terisolasi.
Stigma terhadap orang bertubuh besar juga disebut belum membaik. Sebuah studi pada 2019 yang menganalisis 4,4 juta tes bias implisit dan eksplisit menemukan bahwa dalam satu dekade, bias eksplisit terhadap orang dengan kelebihan berat badan menurun, tetapi bias implisit lainnya justru meningkat. Dalam periode 2004 hingga 2010, bias berat badan implisit dilaporkan naik sekitar 40 persen.
Himmelstein menyatakan temuan itu menunjukkan bahwa untuk banyak sikap lain yang dianggap merugikan, sikap terhadap orang bertubuh lebih besar tidak banyak berubah atau bahkan meningkat. Salah satu penyebabnya, bias terhadap berat badan sering kali “dibungkus” dalam bentuk kekhawatiran.
Untuk melawan fatphobia, langkah awal yang disarankan adalah menghadapi pikiran dan keyakinan yang membentuk bias berat badan. Seseorang diminta memperlakukan diri dengan belas kasih, berbicara kepada diri sendiri dengan kebaikan, serta mempertanyakan pikiran negatif yang muncul.
Upaya ini bukan berarti menghilangkan pikiran negatif sepenuhnya, melainkan mulai menantangnya ketika muncul. Kesabaran juga diperlukan karena proses ini disebut sebagai salah satu langkah menuju penerimaan diri.
Selain itu, penting untuk memperluas paparan terhadap beragam tipe tubuh yang nyata. Dengan mengikuti dan melihat representasi tubuh yang beragam di media sosial, seseorang dinilai dapat lebih menerima diri sendiri dan orang lain.

