Nissan Grand Livina dikenal sebagai MPV tujuh penumpang yang cukup digemari di Indonesia. Model ini hadir dengan pilihan mesin 1.5 liter dan 1.8 liter, serta opsi transmisi manual maupun otomatis. Generasi pertama berkode bodi L10 menggunakan transmisi otomatis konvensional, sementara generasi kedua (L11) yang meluncur pada 2013 membawa pilihan transmisi CVT.
Karakter berkendaranya kerap disebut lincah dan responsif, sehingga terasa lebih menyerupai sedan. Meski demikian, sejumlah pemilik juga menyoroti beberapa kekurangan khas yang perlu diperhatikan, terutama terkait perawatan dan kebiasaan penggunaan.
1. Rentan muncul kendala kelistrikan
Keluhan yang cukup sering muncul, terutama pada Grand Livina versi awal, adalah persoalan kelistrikan. Sistem kelistrikan mobil ini dinilai lebih rumit, sehingga pemasangan aksesori tambahan seperti klakson atau foglamp aftermarket bisa memicu gangguan teknis.
Dalam salah satu diskusi forum otomotif, seorang pengguna menyebut extra fan justru terus menyala setelah memasang klakson dan foglamp meski jalur listrik sudah diambil dari aki melalui relay. Keluhan tersebut baru hilang setelah jalur kelistrikan dikembalikan seperti semula atau aksesori dilepas.
Masalah ini diduga berkaitan dengan perubahan tegangan dan arus yang memengaruhi kerja sensor-sensor. Karena itu, penambahan perangkat kelistrikan disarankan memperhatikan kapasitas alternator agar beban listrik tidak melebihi kemampuan pengisian, yang berisiko membuat aki tekor dan memicu gangguan pada ECU.
Keluhan lain terkait kelistrikan juga muncul pada pencahayaan. Sejumlah pengguna menilai bohlam lampu utama kurang terang. Namun, mengganti bohlam dengan watt terlalu besar berisiko membuat lampu buram atau reflektor meleleh. Opsi yang disebutkan adalah menaikkan watt secukupnya, beralih ke LED yang lebih hemat daya, serta memeriksa relay atau kondisi kaca lampu depan yang mungkin buram atau kotor.
2. Kabin dinilai sedikit bising
Desain Grand Livina yang lebih rendah dan cenderung menyerupai estate atau station wagon membuat kenyamanan berkendaranya sering disamakan dengan sedan. Namun, beberapa pemilik mengeluhkan kabin yang terasa bising saat melintasi jalan kurang mulus.
Salah satu dugaan penyebabnya adalah posisi kabin yang lebih dekat dengan ban dibanding MPV berpostur lebih tinggi, sehingga suara roda lebih mudah terdengar. Selain itu, beberapa pemilik Grand Livina keluaran awal juga menyoroti pintu sebelah kiri yang disebut cenderung kurang rapat saat menutup, sehingga dapat bergetar ketika melewati jalan bergelombang. Penambahan lapisan peredam pada area tersebut kerap dianggap sebagai solusi untuk mengurangi kebisingan.
3. Putaran setir terlalu ringan
Grand Livina menggunakan electric power steering yang dirancang agar putaran setir terasa ringan dan responsif. Pada kecepatan rendah, setir relatif sangat ringan; pada kecepatan tinggi, terasa sedikit lebih berat. Bagi sebagian pengguna, karakter ini membuat umpan balik roda ke pengemudi terasa kurang mantap saat mobil melaju kencang, bahkan dianggap terlalu sensitif.
Dalam catatan yang beredar di kalangan pengguna, karakter setir masih dapat diatur agar lebih berat tanpa mengganti komponen. Penyetelan dilakukan pada rack steer, dengan proses yang melibatkan pembongkaran kaki-kaki roda depan.
4. Pedal kopling ambles pada versi manual
Pada varian transmisi manual, beberapa pengguna melaporkan gejala pedal kopling ambles. Tanda yang disebutkan antara lain pedal kadang tidak kembali setelah diinjak dan perlu dikocok agar naik kembali.
Masalah ini dikaitkan dengan kebocoran pada master kopling. Sistem kopling Grand Livina menggunakan hidrolik, sehingga kebocoran dapat membuat oli berkurang dan tekanan balik pedal melemah. Di bengkel resmi, penggantian komponen hidrolik disebut dilakukan secara menyeluruh, sementara di bengkel spesialis Nissan perbaikan dapat dilakukan dengan mengganti master kopling bawah yang bocor, dengan proses yang memerlukan turun kopling.
5. Transmisi CVT perlu perawatan dan kebiasaan pakai yang tepat
Pada Grand Livina generasi L11 yang menggunakan CVT, perawatan disebut perlu lebih diperhatikan karena transmisi jenis ini kerap dinilai tidak sekuat otomatis torque converter. Dalam catatan yang beredar, biaya perbaikan CVT yang rusak bisa sangat besar, bahkan disebut dapat menembus lebih dari Rp50 juta.
Langkah yang dianggap penting adalah mengganti oli transmisi CVT setiap 40 ribu kilometer, lebih cepat dari rekomendasi pabrikan. Selain itu, pengguna juga disarankan tidak memindahkan tuas ke posisi P saat berhenti lama dengan mesin tetap hidup, serta menghindari kebiasaan menghentak pedal gas agar belt baja CVT tetap awet.
Dengan memahami sejumlah titik lemah tersebut, calon pemilik maupun pengguna Grand Livina dapat lebih siap dalam perawatan dan penggunaan harian, sehingga karakter nyaman ala sedan yang menjadi daya tariknya tetap bisa dinikmati.

