Perilaku masyarakat dalam menentukan pilihan makanan kini semakin dipengaruhi konten digital. Jika sebelumnya keputusan makan banyak bertumpu pada rekomendasi dari mulut ke mulut atau pencarian manual, saat ini konsumen lebih sering “menemukan” inspirasi kuliner melalui konten yang dinilai relevan, autentik, dan dekat dengan keseharian.
Pergeseran ini tidak hanya menjadi tren gaya hidup, tetapi juga membentuk nilai ekonomi baru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor makanan dan minuman terus tumbuh dengan 5,28 juta usaha pada 2024. Selain itu, sekitar 25 juta UMKM telah masuk ke platform digital untuk memperluas pasar. Dari sisi konsumen, 65 persen masyarakat menggunakan platform digital untuk mencari referensi kuliner, menunjukkan kuatnya peran ekosistem digital dalam memengaruhi keputusan konsumsi.
Konten kuliner—mulai dari video pendek, ulasan, hingga siaran langsung—kian berfungsi sebagai penghubung antara informasi dan keputusan pembelian. Dalam satu tayangan, pengguna dapat memperoleh gambaran mengenai lokasi, harga, rasa, hingga pengalaman yang ditawarkan. Pada tahap ini, konten berkembang menjadi alat pemasaran yang dinilai efektif sekaligus efisien.
Melihat perubahan tersebut, TikTok melalui layanan TikTok GO by Tokopedia berupaya mengintegrasikan kekuatan discovery digital dengan pengalaman konsumsi di dunia nyata. Layanan ini menghubungkan inspirasi yang muncul di layar dengan kunjungan langsung ke gerai melalui kombinasi video pendek, LIVE streaming, fitur pencarian, hingga konten berbasis lokasi.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan inisiatif TikTok GO by Tokopedia sejalan dengan upaya mendorong sektor ekonomi kreatif sebagai kekuatan ekonomi nasional. Pendekatan ini dinilai memperkuat ekosistem yang mempertemukan pelaku usaha, kreator, dan komunitas dalam satu alur ekonomi yang terintegrasi.
Bagi pelaku usaha kuliner, terutama UMKM, visibilitas menjadi faktor penting. Dalam ekonomi digital, kemudahan untuk ditemukan dinilai sama krusialnya dengan kualitas produk. Platform seperti TikTok GO disebut membuka peluang agar bisnis lebih mudah muncul di hadapan calon konsumen yang tepat pada waktu yang tepat.
William Panjaitan, Lead of Key Merchant TikTok GO by Tokopedia, menyoroti kedekatan sektor food and beverage (F&B) dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, konten tidak berhenti pada tahap discovery, tetapi dapat mendorong engagement hingga berujung pada kunjungan nyata dan transaksi. “Ini menunjukkan bahwa konten bukan lagi sekadar hiburan, melainkan bagian dari rantai nilai ekonomi,” tuturnya kepada media di Jakarta, Rabu, 29 April 2026.
Dampak integrasi tersebut, menurut paparan dalam data yang sama, terlihat pada pelaku usaha seperti Roti O. Merek roti yang kerap ditemui di stasiun dan bandara itu disebut mengalami peningkatan kunjungan konsumen setelah memanfaatkan eksposur konten di TikTok GO. Direktur Roti’O Ali Susanto menyatakan kehadiran konten membuat produk lebih dikenal luas dan secara langsung mendorong peningkatan penjualan.
Fenomena ini juga disebut sejalan dengan tren global ketika social commerce terus tumbuh pesat. Keputusan pembelian semakin dipengaruhi konten berbasis komunitas dan user-generated, dengan konsumen cenderung lebih percaya pada pengalaman nyata yang dibagikan kreator atau pengguna lain dibandingkan iklan konvensional.
Dalam lanskap tersebut, konten tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, melainkan penggerak utama. Bagi pelaku usaha, kemampuan beradaptasi dengan pola konsumsi baru ini dipandang menjadi kebutuhan untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan ekonomi digital yang semakin kompetitif.

