JAKARTA — Mengembangkan usaha kuliner hingga memiliki banyak cabang atau jaringan kemitraan kerap dianggap membutuhkan modal besar dan ekspansi cepat. Namun, Daniel, pendiri Mie Ayam Bintang, menilai pertumbuhan bisnis justru perlu dimulai dari hal yang lebih mendasar: memahami detail operasional, membangun sistem yang matang, lalu menjaganya tetap konsisten saat usaha berkembang.
Pengalaman Daniel menunjukkan bahwa scale up usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak selalu harus diawali dengan membuka banyak cabang sekaligus. Menurutnya, fondasi bisnis yang kuat menjadi faktor penting agar pertumbuhan berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Berangkat dari latar belakang keluarga yang bergerak di usaha pembuatan mi mentah, Daniel memahami bahwa bisnis mi ayam yang terlihat sederhana tetap membutuhkan pengelolaan serius. Aspek yang perlu diperhatikan mencakup kualitas bahan baku, konsistensi rasa, hingga manajemen operasional harian.
Dari perjalanan tersebut, ada sejumlah pelajaran yang bisa menjadi rujukan bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usaha, khususnya di sektor kuliner.
1. Memahami masalah nyata di balik peluang usaha
Daniel menilai banyak orang tertarik membuka usaha mi ayam karena pasarnya luas dan produknya sudah akrab di masyarakat. Namun, tidak semua siap menghadapi tantangan operasional di lapangan.
Ia melihat peluang bukan hanya pada penjualan produk, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem usaha yang siap dijalankan. Sistem itu mencakup resep yang konsisten, pasokan bahan baku yang stabil, serta standar layanan yang jelas.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar bisnis tidak hanya diminati pada awal pembukaan, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang.
2. Menguji model bisnis sebelum membuka kemitraan
Sebelum menawarkan franchise atau kemitraan, Daniel memilih menjalankan cabang miliknya sendiri terlebih dahulu sebagai “laboratorium” bisnis. Ia terlibat langsung dalam berbagai aspek usaha, mulai dari meracik produk, mengatur alur kerja karyawan, menghitung kebutuhan stok, hingga melayani pelanggan.
Menurutnya, proses trial and error diperlukan agar konsep usaha benar-benar teruji sebelum diterapkan kepada mitra. “Kalau sistem belum terbukti berhasil di cabang sendiri, akan sulit diterapkan ke orang lain,” ujarnya.

