BERITA TERKINI
Kisah di Balik Langkanya Jajanan Tradisional Khas Yogyakarta

Kisah di Balik Langkanya Jajanan Tradisional Khas Yogyakarta

Yogyakarta, sebuah kota yang kaya akan warisan budaya dan kuliner tradisional, kini menghadapi tantangan serius dalam melestarikan jajanan khasnya. Jajanan tradisional seperti Kipo, Legomoro, Kembang Waru, dan lainnya mulai sulit ditemui di pasaran, seiring berkurangnya jumlah pembuat dan semakin sempitnya pangsa pasar. Fenomena ini tidak lepas dari serbuan jajanan modern dan asing yang mendominasi preferensi konsumen.

Jajanan Tradisional Kotagede: Lebih dari Sekadar Makanan

Mulyadi, seorang pembuat makanan tradisional dari Kotagede, menuturkan bahwa jajanan seperti Legomoro, Kipo, dan Kembang Waru tidak hanya sekadar makanan, melainkan juga menyimpan makna budaya yang dalam. Legomoro, misalnya, adalah makanan berbahan ketan yang mirip lemper namun memiliki keunikan tersendiri, seperti ikatan tali bambu dan daya tahan yang lebih lama. Biasanya, Legomoro dibawa sebagai bagian dari tradisi pernikahan di Kotagede, khususnya sebagai hantaran dari pihak laki-laki kepada pihak wanita.

Selain itu, jajanan seperti Kiyangko yang terbuat dari ketan dan melalui proses pengeringan serta penggilingan, menjadi ciri khas masyarakat Kotagede dan sering dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke rumah kerabat. Penggunaan bahan ketan dalam berbagai jajanan tradisional ini memiliki filosofi kuat, yaitu melambangkan kelekatan dan mempererat hubungan persaudaraan.

Sejarah dan Tantangan Pelestarian Kipo

Budayawan Kotagede, M. Natsir, menjelaskan bahwa Kotagede memiliki potensi sejarah dan budaya yang kaya, termasuk dalam hal kuliner. Kipo, salah satu jajanan khas Kotagede, dikenal dengan sejarah penamaannya yang unik, yang berasal dari ungkapan "Iki Opo" (ini apa) saat Sultan Agung pertama kali mencicipi makanan tersebut.

Meski terkenal, saat ini produsen Kipo sangat terbatas, hanya tersisa beberapa keluarga yang masih meneruskan tradisi pembuatannya. Proses pembuatan Kipo yang rumit dan memakan waktu menjadi salah satu faktor utama mengapa banyak orang enggan melestarikannya. Pelatihan pembuatan Kipo pernah diadakan, namun sebagian besar peserta tidak melanjutkan karena alasan ekonomi dan kompleksitas proses produksi.

Amanah, salah satu pembuat Kipo di Jalan Mondarakan, Kotagede, menyampaikan bahwa meskipun prosesnya memerlukan ketelitian, waktu pembuatan Kipo relatif singkat, sekitar 10 menit. Namun, keaslian rasa dan bahan yang tepat menjadi kunci kualitas jajanan ini. Hingga kini, hanya tiga pembuat Kipo asli Kotagede yang masih aktif, yang semuanya merupakan keluarga.

Jajanan Tradisional Mulai Menghilang dari Pasar

Di pasar tradisional seperti Pasar Kranggan, kehadiran jajanan tradisional semakin langka. Harti, seorang penjual yang telah berjualan selama 22 tahun, menyebutkan beberapa makanan khas seperti Semar Mendem dan Jadah Manten sudah sulit ditemui. Kembang Waru dan Kipo juga mulai jarang muncul di pasar, meskipun masih ada beberapa pemasok yang tidak rutin mengirimkan produk mereka.

Selain itu, jajanan lain seperti Wajik dan Jadah juga mulai berkurang ketersediaannya di pasar tradisional. Harga yang semakin mahal dan kesulitan mendapatkan bahan baku menjadi kendala utama. Petulo, makanan berbahan tepung ketan yang mirip Putu Mayang, juga mengalami nasib serupa. Permintaan yang tinggi namun pemasok yang sedikit membuat jajanan ini cepat habis terjual.

Beberapa jajanan tradisional lain seperti Kue Lumpur, Kue Putu Ayu, dan Kue Pipis juga semakin sulit ditemukan karena penurunan jumlah peminat dan kendala dalam pengadaan bahan pembungkus seperti daun.

Kesimpulan

Kehilangan jajanan tradisional Yogyakarta bukan hanya soal makanan yang sulit ditemui, tetapi juga merupakan tantangan dalam menjaga warisan budaya kuliner yang sarat makna dan sejarah. Faktor ekonomi, proses pembuatan yang rumit, serta perubahan preferensi konsumen menjadi penyebab utama langkanya jajanan khas ini. Upaya pelestarian memerlukan dukungan yang lebih luas agar kekayaan kuliner daerah tidak hilang ditelan waktu.