Bias psikologis dinilai kerap menjadi penyebab utama kerusakan imbal hasil investasi, meski banyak investor merasa telah bersikap rasional dan disiplin. Dana Anspach, CEO Sensible Money, memperingatkan bahwa kepercayaan diri berlebih atau overconfidence kini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi portofolio, terutama ketika tren pasar sedang memanas.
Menurut Anspach, rasa percaya diri yang berlebihan mendorong investor meninggalkan strategi yang masuk akal dan beralih ke taruhan terpusat pada aset yang sedang populer. Dalam situasi seperti ini, memahami cara berinvestasi tanpa terjebak ilusi kemampuan diri menjadi langkah penting untuk melindungi aset dari risiko kerugian permanen.
Salah satu bias yang disorot adalah better-than-average bias, yakni kecenderungan merasa lebih unggul dibanding rata-rata. Anspach menilai bias ini membuat investor merasa lebih pintar dari pasar dan mengambil risiko yang tidak terukur. Ia mencontohkan temuan penelitian tahun 1981 yang menunjukkan 93% pengemudi menilai kemampuan menyetir mereka di atas rata-rata—sesuatu yang tidak mungkin terjadi secara matematis. Pola serupa, kata Anspach, dapat muncul di pasar saham ketika investor merasa mampu memprediksi “pemenang berikutnya” tanpa strategi yang matang.
Celah antara persepsi dan realitas ini kerap berakhir buruk. Anspach mencatat, banyak investor kehilangan uang karena meyakini sebuah aset sebagai “kepastian” tanpa memperhitungkan risiko yang melekat.
Ia juga menyoroti bahaya taruhan terpusat pada satu sektor atau tema tertentu. Sejarah pasar saham, menurutnya, dipenuhi dampak dari kepercayaan diri yang berlebihan. Pada akhir 1990-an, misalnya, banyak investor memindahkan aset ke saham teknologi, kemudian beralih ke properti pada awal 2000-an sebelum pasar tersebut runtuh. Pola serupa dinilai kembali terlihat melalui euforia saham terkait AI, kelompok saham yang kerap disebut “Magnificent Seven”, serta Bitcoin.
Ketergantungan pada satu sektor memperlebar rentang hasil investasi ke dua arah ekstrem. Taruhan terpusat pada perusahaan tertentu dapat menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat, tetapi risiko kerugian permanen juga meningkat tajam ketika narasi pasar berubah.
Dalam konteks ini, diversifikasi dipandang sebagai “lantai” pengaman portofolio. Strategi tersebut mungkin membatasi potensi kenaikan ekstrem, namun bertujuan mencegah portofolio jatuh di bawah batas aman yang dapat mengganggu keberlangsungan gaya hidup.
Bagi investor yang tetap ingin berspekulasi, Anspach menyarankan agar porsi “uang mainan” dibatasi maksimal 5% dari total portofolio. Ia menekankan pentingnya memisahkan dana pensiun yang aman dari dana spekulasi, agar kesalahan prediksi tidak menghancurkan rencana masa depan. Menurutnya, keberuntungan menebak saham yang naik tidak sama dengan keahlian menjalankan strategi investasi jangka panjang.

