Rasa kesal atau jengkel kerap muncul dalam keseharian, baik dipicu perilaku orang lain maupun situasi yang mengecewakan. KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menyampaikan pandangannya tentang cara menyikapi perasaan tersebut agar tidak berkembang menjadi kebencian.
Dalam tayangan YouTube Short NgajiGusbaha yang dikutip Kamis (18/7/2024), Gus Baha mencontohkan hal-hal sederhana yang bisa memicu kejengkelan, termasuk saat berinteraksi dengan santri. Ia menyebut, rasa jengkel bisa muncul ketika ada santri yang bertanya hal-hal tertentu pada waktu yang menurutnya kurang tepat.
Gus Baha kemudian mengingatkan bahwa membiarkan diri larut dalam kejengkelan justru membuat setan senang. Ia menilai sikap membenci orang lain bukan ajaran Rasulullah SAW, karena ajaran Nabi menekankan tumbuhnya rasa cinta (al-mawaddah) dan kasih sayang (warahmah) di antara sesama mukmin.
Menurut Gus Baha, salah satu cara mengatasi rasa jengkel adalah dengan menginsafi bahwa perasaan tersebut, jika dipelihara, dapat menjadi jalan bagi setan untuk mencapai tujuannya: memisahkan dan menumbuhkan kebencian di antara manusia. Ia mencontohkan, ketika seseorang merasa jengkel kepada orang lain, hal itu seolah menjadi “keberhasilan” bagi setan karena mampu menanamkan jarak dan permusuhan.
Ia menambahkan, bila seseorang belum mampu berdakwah dengan baik, setidaknya perlu memahami bahwa target setan adalah at-tafriq, yakni memecah-belah—baik memisahkan hubungan antarsesama maupun memisahkan kaum mukmin.
Selain penekanan Gus Baha tentang pentingnya menyadari dampak jengkel terhadap hubungan sosial, sejumlah panduan dalam Islam juga dikenal terkait pengelolaan emosi. Dikutip dari NU Online, emosi merupakan bagian alami dari kehidupan, namun perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak buruk.
Beberapa langkah yang disebut antara lain berwudhu saat marah, membaca ta’awwudz, berdoa dan mengingat Allah, serta mengendalikan diri. Salah satu riwayat Bukhari dan Muslim juga menekankan bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang secara fisik, melainkan yang mampu menguasai diri ketika marah.
Dalam pandangan tersebut, meredam emosi bukan hanya upaya menjaga ketenangan pribadi, tetapi juga bagian dari menjaga hubungan baik dengan orang lain serta menghindarkan diri dari sikap yang berpotensi memecah persaudaraan.

