Ayam Gaok, salah satu ayam asli Indonesia yang berasal dari Pulau Puteran, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikenal memiliki pertumbuhan cepat dan produktivitas tinggi sebagai penghasil daging maupun telur. Namun, populasi ayam ini dilaporkan mengalami penurunan signifikan di Madura sehingga memunculkan kebutuhan langkah konservasi berbasis komunitas untuk mencegah kepunahan.
Salah satu strategi yang dinilai menjanjikan dalam konservasi ayam Gaok adalah penerapan teknologi reproduksi modern melalui inseminasi buatan (IB). Teknik ini dapat mempercepat peningkatan populasi, tetapi keberhasilannya dipengaruhi sejumlah faktor teknis dan biologis, seperti konsentrasi media pengencer, lama penyimpanan semen, serta suhu selama penyimpanan.
Dalam praktiknya, pengencer semen berperan penting untuk menambah volume semen sekaligus menjaga viabilitas dan kemampuan fertilisasi sperma. Tantangannya, semen ayam dikenal rentan terhadap serangan radikal bebas, terutama saat disimpan pada suhu dingin atau dibekukan. Radikal bebas dapat merusak membran sperma dan berdampak pada penurunan motilitas, viabilitas, serta kemampuan fertilisasi.
Risiko kerusakan meningkat ketika semen mengalami pendinginan pada 5°C atau pembekuan pada −196°C karena perubahan suhu drastis dapat memicu ketidakstabilan membran. Proses pembekuan juga dapat menyebabkan gangguan fungsi membran, peningkatan osmolari, serta toksisitas cryoprotectant. Selain itu, ayam—termasuk ayam Gaok—memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi pada membran sel, membuat sperma lebih sensitif terhadap pembentukan ROS (reactive oxygen species). Akumulasi ROS dapat meningkatkan lipid peroksidasi yang salah satu produknya adalah malondialdehyde (MDA), senyawa yang berkaitan dengan kerusakan membran dan penurunan kualitas sperma.
Karena itu, keberadaan antioksidan dinilai penting untuk menetralkan radikal bebas agar sperma tetap sehat dan berfungsi optimal. Penelitian yang dirujuk dalam laporan ini menyoroti ekstrak teh hijau (green tea extract/GTE) sebagai bahan alami yang kaya epigallocatechin-3-gallate (EGCG). EGCG disebut memiliki kemampuan antioksidan yang lebih kuat dibanding vitamin C maupun vitamin E, dan dalam studi lain dilaporkan membantu menjaga kualitas sperma pasca pembekuan dan pencairan pada sapi melalui penurunan lipid peroksidasi serta perlindungan membran sperma.
Dalam penelitian tersebut, ekstrak teh hijau digunakan sebagai tambahan pada media pengencer semen berbasis fruktosa dan telur ayam untuk memperbaiki kualitas sperma ayam Gaok sebelum dan sesudah pembekuan. Tujuannya meningkatkan efektivitas teknologi beku-dan-cair-semen sekaligus memperbesar peluang keberhasilan inseminasi buatan dalam upaya meningkatkan populasi ayam Gaok.
Hasil penelitian menunjukkan penambahan EGCG pada dosis 0,10 mg/100 mL extender susu telur dan skim mampu menurunkan kadar MDA secara signifikan. Temuan ini diartikan sebagai penurunan lipid peroksidasi dan stres oksidatif pada sperma. Penambahan tersebut juga dilaporkan meningkatkan kualitas semen setelah pencairan serta membantu mempertahankan integritas membran dan motilitas sperma selama penyimpanan dingin maupun beku.
Penelitian ini menempatkan pengencer semen yang diperkaya antioksidan alami sebagai salah satu opsi untuk mendukung program konservasi ayam Gaok. Dengan peningkatan kualitas semen, masa simpan semen berpotensi diperpanjang dan peluang keberhasilan inseminasi dapat meningkat. Kajian ini juga menilai penggunaan bahan alami dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis.

