BERITA TERKINI
BRIN Ingatkan Risiko Penyimpanan Bahan Makanan MBG, Termasuk di Freezer

BRIN Ingatkan Risiko Penyimpanan Bahan Makanan MBG, Termasuk di Freezer

Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Satriyo Krido Wahono menyoroti cara penyimpanan bahan makanan untuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan, penyimpanan yang kurang tepat oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berisiko memunculkan bakteri, meski bahan makanan disimpan di lemari es atau freezer.

Pernyataan itu disampaikan Satriyo dalam acara bertajuk “Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa melalui MBG” di Jakarta. Ia menyoroti anggapan yang masih banyak ditemui bahwa bahan makanan otomatis aman hanya karena disimpan di pendingin.

Satriyo menilai pola tersebut kerap terjadi ketika lembaga pengelola makanan menemukan harga bahan sedang murah, lalu membeli dalam jumlah besar. Menurutnya, banyak SPPG belum memiliki pengalaman memadai dalam mengolah makanan dalam skala besar.

Ia menjelaskan, penumpukan bahan makanan di freezer dapat memicu masalah jika penyimpanan tidak merata. Bagian luar bisa menjadi dingin, sementara bagian dalam masih relatif hangat sehingga memungkinkan bakteri tumbuh dan menimbulkan risiko.

Selain penyimpanan bahan mentah, Satriyo juga menyoroti proses penyimpanan dan pengiriman setelah makanan matang. Salah satu kendala yang disebutnya adalah keterbatasan kendaraan milik SPPG untuk mengangkut makanan, sementara distribusi harus menjangkau banyak titik.

Menurut Satriyo, waktu distribusi dapat memakan porsi waktu terbaik konsumsi makanan. Ia menyebut makanan idealnya dikonsumsi dalam rentang dua hingga empat jam. Jika distribusi terlambat, kualitas makanan dapat menurun.

Karena itu, Satriyo mendorong seluruh pemangku kepentingan terkait meningkatkan mutu dan kinerja untuk memastikan kualitas sajian MBG bagi anak-anak Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang menyambut baik usulan yang disampaikan. Ia mengatakan pihaknya juga mengupayakan peningkatan kualitas melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Kelola MBG yang disebut akan disahkan dalam waktu dekat.

Nanik juga menyampaikan bahwa saat ini terdapat 112 dapur SPPG yang ditutup. Mereka diperbolehkan kembali beroperasi dengan syarat membuat kontrak atau perjanjian, dengan ketentuan akan ditutup permanen jika kejadian serupa terulang.