Bika talago, kuliner khas Minang dari Koto Baru, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kerap mendapat julukan “kue neraka rasa surga”. Sebutan itu sudah lama melekat pada penganan yang banyak diburu wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, terutama di warung bika yang berada di tepi Jalan Raya Padang–Bukittinggi dan telah berdiri sejak 1990-an.
Seperti banyak kuliner Minangkabau yang identik dengan kelapa, bika talago juga memanfaatkan bahan tersebut. Namun, bukan santan kental yang digunakan, melainkan parutan kelapa dan air kelapa yang kemudian dicampur dengan bahan lain.
Hengki, pemilik generasi kedua Bika Talago, menjelaskan adonan bika dibuat dari tepung beras yang dicampur kelapa parut, air kelapa, dan gula pasir. Selain varian original, ada pula varian berwarna kecokelatan dengan bahan serupa, tetapi gula pasir diganti gula aren. Pada varian ini, adonan ditambah pisang yang telah dihaluskan.
Julukan “kue neraka” muncul dari teknik memasaknya yang tidak lazim. Proses pembuatan dilakukan di dapur terbuka warung Bika Talago, dengan enam kuali masak tempo dulu yang diletakkan di atas tungku. Bagian bawah dan atas kuali sama-sama diberi kayu bakar dan api menyala, sehingga bika matang dengan panas dari dua arah.
Menurut Hengki, istilah itu datang dari pelancong asing, termasuk wisatawan dari Malaysia, yang menyebut bika talago “kue neraka” karena dimasak dengan api atas dan bawah. Ia menegaskan, sebutan tersebut hanya istilah.
Proses memasak dimulai dengan menyiapkan kayu bakar untuk api bawah. Setelah api berkobar, potongan daun pisang ditata sebagai alas di dalam kuali. Adonan kemudian dituang satu sendok per alas daun pisang; satu kuali dapat diisi sembilan sendok adonan. Kuali itu lalu ditutup dengan kuali lain yang berisi kayu bakar dan api menyala di bagian atas.
Bika talago dimasak sekitar enam hingga tujuh menit, dibolak-balik hingga matang. Setelah itu, bika segera disajikan selagi hangat di atas piring beralas selembar daun pisang.
Area makan berada tepat di belakang dapur, di pinggir telaga. Dalam bahasa Minang, telaga disebut “talago”, yang kemudian menjadi asal nama bika talago.
Dari sisi tekstur, bagian luar bika talago cenderung kering karena dimasak dengan api atas dan bawah yang cukup besar. Namun ketika dibelah, bagian dalamnya lembut dan gurih untuk varian original. Karena rasanya tergolong sangat manis, bika talago dinilai cocok dipadukan dengan kopi pahit untuk menyeimbangkan cita rasa.
Sementara itu, varian pisang memiliki aroma yang lebih dominan, dengan rasa manis yang lebih terasa sebagai manis alami dari pisang, bukan semata manis gula.
Bagi yang ingin mencoba, warung Bika Talago berada di Jalan Raya Padang–Bukittinggi Km 10, Nagari Koto Baru, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Harga satu bika talago Rp 4.000, dan warung buka setiap hari pukul 07.00–19.00 WIB.

