Ramadan menghadirkan suasana khas di Wonogiri. Sejumlah warga dan pengunjung kerap memilih deretan rumah makan di pinggiran Waduk Gajah Mungkur sebagai tujuan berbuka puasa. Bukan hanya karena pilihan menu, melainkan juga karena pemandangan senja waduk yang terbentang luas.
Menjelang azan Magrib, area tepian waduk menawarkan panorama matahari terbenam di balik perbukitan. Semburat jingga memantul di permukaan air yang tenang, sementara perahu nelayan tampak tertambat. Dalam suasana itu, momen menunggu waktu berbuka berubah menjadi pengalaman yang memadukan alam, kebersamaan, dan rasa syukur.
Dari dapur-dapur rumah makan, aroma ikan bakar menjadi penanda lain yang sulit diabaikan. Ikan nila dan mujaer yang dibakar di atas bara, disandingkan dengan sambal bawang, menjadi menu yang banyak dicari. Ikan-ikan tersebut disebut berasal dari waduk, disajikan segar dengan tekstur daging yang lembut.
Saat azan berkumandang, minuman seperti teh manis hangat khas Wonogiri kerap menjadi pilihan pembuka. Di beberapa tempat, es kelapa muda juga menjadi pelengkap yang menyegarkan, terutama ketika angin sore bertiup dari arah perairan.
Di kawasan Desa Sendang, pengalaman berbuka di tepi waduk kerap bersinggungan dengan ingatan kolektif tentang masa lalu. Waduk Gajah Mungkur menyimpan kisah bedol desa pada 1970-an, ketika wilayah yang kini menjadi perairan waduk merupakan permukiman. Dalam catatan yang beredar di masyarakat, lebih dari 50 desa disebut tenggelam seiring pembangunan waduk, yang kemudian berperan mengaliri sawah-sawah di sejumlah daerah seperti Sukoharjo, Klaten, hingga Sragen.
Di tengah kisah tersebut, rumah makan yang berdiri di tepi waduk menjadi bagian dari perubahan cara hidup warga. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada lahan pertanian, perlahan beradaptasi dengan ekosistem perairan. Keramba atau jaring apung yang tampak sebagai bintik-bintik di kejauhan menjadi penanda aktivitas budidaya ikan yang kini menopang penghidupan.
Menu ikan yang tersaji di meja pengunjung pun tidak lepas dari perubahan itu. Ikan nila bakar menjadi salah satu hidangan yang banyak dipesan, selain pepes yang dibungkus daun pisang dengan bumbu rempah. Variasi lain juga tersedia, mulai dari olahan nila goreng dan asam manis, hingga wader goreng sebagai pelengkap.
Di luar menu, rumah makan di tepian waduk umumnya hadir dengan suasana sederhana. Pengunjung duduk lesehan, keluarga berkumpul, dan percakapan mengalir tanpa kesan formal. Bagi sebagian warga lokal, kawasan ini juga menjadi titik terdekat untuk memandang area yang diyakini menyimpan jejak kampung halaman lama mereka.
Menjelang malam, lampu-lampu di sekitar keramba nelayan mulai menyala satu per satu. Pemandangan itu menutup senja dan menandai dimulainya waktu makan dengan suasana yang lebih tenang. Di tepian Waduk Gajah Mungkur, berbuka puasa akhirnya bukan sekadar urusan mengenyangkan, tetapi juga kesempatan merasakan lanskap Wonogiri sekaligus menyentuh kembali cerita panjang yang menyertainya.

